Sms merah jambu
"Tetap istiqomah, Ukhti. Selamat berjuang. Semoga Allah menyertai anti".
Sender : Ikhwan +62817xxx
Senyum timbul dari cakrawalanya dengan malu-malu. Serasa ada hangat menyelusup dada dan membuat jantung berdegup lebih cepat. Otaknya pun sekejap bertanya, ”Ada apa? Sungguh, bukan apa-apa. Aku hanya senang karena ada saudara yang menyemangatiku.” Si akhwat menyangkal hatinya cepat-cepat. Dan ia bergegas meninggalkan kamarnya, ada dauroh. Ia berlari sambil membawa sekeping rasa bahagia membaca SMS tadi yang sebagian besar bukan karena isinya, melainkan karena nama pengirimnya.
"Ana lagi di bundaran HI, Ukhti. Doakan kami bisa memperjuangkan ini".
Sender : Ikhwan +628179823xxx
Untuk apa dia memberitahukan ini padaku. Bukankah banyak ikhwan atau akhwat lain? Nada protes bergema di benaknya. Tapi di suatu tempat, entah di mana ada derak-derak yang berhembus lalu. Derak samar bangga menjadi perempuan yang terpilih yang di-SMS-nya.
Pagi itu, handphone kesayangannya berbunyi.
"Ukhti, Selamat hari lahir. Semoga hari-hari yang dijalani lebih memberi arti".
Dada membuncah hampir meledak bahagia. Dia bahkan ingat hari lahirku! Dibacanya dengan berbunga-bunga. Tapi pengirimnya
Sender : Akhwat +6281349696xxx
Senyum tergurat memudar. Tarikan napas panjang. Kecewa, bukan dari dia. Ringtone-nya berbunyi lagi.
"Ukhti, Selamat hari lahir. Semoga hari-hari yang dijalani lebih memberi arti".
Sender : Ikhwan +628179823xxx
Dia! Semburat jingga pagi jadi lebih indah berlipat kali. Senyumnya mengembang lagi. Dan bunga-bunga itu mekar-lah pula.
Cerita di atas tadi selurik gerak hati seorang akhwat di negeri antah berantah yang sangat dekat dengan kita. Gerak hati yang mungkin pernah bersemayam di dada kita juga. Bisa jadi kita mengangguk-angguk tertawa kecil atau berceletuk pelan, ”Seperti aku nih,” saat membacanya. Hayo ngaku! He he he
Mari kita cermati fragmen terakhir dari cerita tadi. Kalimat SMS keduanya persis sama, yang intinya mengucapkan dan mendoakan atas hari lahir (mungkin mencontek dari sumber yang sama he he he). SMS sama tapi berhasil menimbulkan rasa yang jelas berbeda. Karena memang ternyata lebih berarti bagi si akhwat adalah pengirimnya, bukan apa yang dikatakannya.
Namun sebenarnya, apakah Allah membedakan doa laki-laki dan perempuan? Mengapa menjadi lebih bahagia saat si Gagah yang mendoakan? Semoga selain mengangguk-angguk dan tertawa kecil, kita juga berani memandang dari sudut pandang orang ketiga. Dengan memandang tanpa melibatkan rasa (atau nafsu?), kita akan bisa berpikir dengan cita rasa lebih bermakna.
Konon, cerita tadi terus berlanjut.
Suatu hari yang cerah, sang akhwat mendapat kiriman dari si ikhwan itu. Sebuah kartu biru yang sangat cantik. Tapi sayang, isinya tidak secantik itu. Menghancurkan hati akhwat menjadi berkeping-keping tak berbentuk lagi. Kartu biru itu adalah kartu undangan pernikahan si ikhwan. Dengan akhwat lain, tentu saja. Berbagai Tanya ditelannya. Mengapa dia menikah dengan akhwat lain? Bukankah dia sering mengirim SMS padaku? Bukankah dia sering me-miscall ku untuk qiyamull lail? Bukankah dia ingat hari lahirku? Bukankah dia suka padaku? Mengapa? Mengapa???
Dan air mata berjatuhan di atas bantal yang diam. Teman, jangan bilang, yaa!!! dia hanya tidak tahu, ikhwan itu juga mengirimkan SMS, miscall, mengucapkan selamat hari lahir dan bersikap yang sama ke berpuluh akhwat lainnya!
Ironis. Sedih, tapi menggelikan, menggelikan tapi menyedihkan. Sekarang siapa yang bisa disalahkan? Akhwat memang seyogiyanya menyadari dari awal, SMS-SMS yang terasa indah itu bukan tanda ikatan yang punya kekuatan apa-apa. Siapa yang menjamin bahwa ikhwan itu ingin menikahinya? Bila ia berharap, maka harapanlah yang akan menyuarakan penderitaan itu lebih nyaring.
Tetapi para ikhwan juga tak bisa lari dari tanggung jawab ini. Allahualam apapun niatnya, semurni apapun itu, ingatlah, SMS melibatkan dua orang, pengirim dan penerima. Putih si pengirim, tak menjamin putihnya juga si penerima. Bisa jadi ia akan berwarna merah muda. Merah muda di suatu tempat di hati atau menjadi rona di pipi yang tak akan bisa disembunyikan di depan Allah.
Bagi perempuan, SMS-SMS dan bentuk perhatian sejenis dari laki-laki bisa menimbulkan rasa yang sama bentuknya dengan senyuman, kedipan menggoda, dan daya tarik fisik perempuan lainnya bagi laki-laki.
Menimbulkan sensasi yang sama. Ketika perempuan bertanya berbagai masalah pribadinya padamu, seringkali bukan solusi yang ingin dicari utamanya. Melainkan dirimu. Ya, sebenarnya perempuan ingin tahu pendapatmu tentang dia, apakah dirimu memperhatikannya, bagaimana caramu memandang dirinya. Dirimu, dirimu, dan dirimu, dan kami ”kaum hawa”- sayangnya, juga memiliki percaya diri yang berlebihan, atau bisa dibahasakan lain dengan mudah Ge-Er Jadi, tolong hati-hati dengan perhatianmu itu.
Paling menyedihkan saat ada seorang aktivis yang tiba-tiba berkembang gerak dakwahnya atau semangat qiyamul lailnya karena terkait satu nama. Naudzubillah tsumma naudzubillah. Ketika kita menyandingkan niat tidak karena Allah semata, maka apalah harganya! Apa harganya berpeluh-payah bukan karena Dia, tapi karena dia. Seseorang yang sama sekali bukan apa-apa, lemah seperti manusia lainnya.
Laki-laki dan wanita diciptakan berbeda bukan saling memusuhi, bukan juga saling bercampur tak bertepi, tapi semestinya saling menjaga diri. Secara fisik, emosional, atau kedua-duanya. SMS tampak aman dari pandangan orang lain, hubungan itu tak terlihat mata. Tapi wahai, syetan semakin menyukainya. Mereka berbaris di antara dua handphone itu. Maka dimanapun mereka berada, syaitan tetaplah musuh yang nyata!
Wahai akhwat, bila kau menginginkan SMS-SMS itu, tengoklah inbox-mu. Bukankah disana tersusun dengan manis SMS-SMS dari saudarimu. Saudari-saudarimu yang dengan begitu banyak aktivitas, amanah, kelelahan, dan kesedihan yang sangat memerlukan perhatianmu. Juga begitu banyak teman-temanmu yang belum mengenal Islam menunggu kau bawakan SMS-SMS cahaya untuk mereka.
Ada saatnya. Ya, ada saatnya nanti handphone kita dihiasi SMS-SMS romantis. SMS-SMS yang walaupun hurufnya berwarna hitam semua, tapi tetap bernadakan merah muda. Untuk seseorang dan dari seseorang yang sudah dihalalkan kita berbagi hidup, dan segala kata cinta di alam semesta.
Cinta yang bermuara pada penciptaNya. Cinta dalam Cinta. Bersabarlah untuk indah itu.
"Ummi, abi lagi ngisi ta’lim di kampus pelangi. Di depan abi ada beribu bidadari-bidadari berjilbab rapi, tapi tak ada yang secantik bidadariku di istana Baiti Jannati. Miss u my sweety".
"Abi, yang teguh ya, pangeranku, rumah ini terasa gersang tanpa teduh wajahmu. Luv yaa"
Ya, hanya untuk dia kita tulis the Pinkest Short Massage Services. SMS-SMS paling merah muda.
dari milis sebelah
MU Vs ETOS
OK class, Please Repeat After me
Ini Budi
Budi bermain Bola
Well Done
Begitu kira-kira bunyi sebuah Iklan dari salah satu perusahaan telekomunikasi beberapa waktu lalu. Dalam iklan tersebut tampak seorang guru sedang mengajar bahasa Indonesia kepada sekumpulan anak sekolah. Tidak ada yang istimewa dari hal yang diajarkan di kelas tersebut, toh hal tersebut sudah kita dapatkan ketika masih menjadi bocah ingusan di Bangku SD dulu. Tapi yang menarik adalah penyimak pelajaran tersebut adalah Edwin Van Der Sar, Wayne Rooney, Park Ji Sung, Rio Ferdinand, Michael Carrick dan Ryan Giggs. Mereka adalah para punggawa The Red Devils.
Ya, iklan tersebut menandai rangkaian kedatangan Raksasa Premier League dalam rangka tur Asia, dan beruntunglah negeri kita bisa dipilih sebagai salah satu tempat persinggahan tamu agung tersebut. Tapi apa dinyana, sebuah Bom meledak di hotel tempat rencana para pemain MU menginap. Bom tersebut bukan hanya menghancurkan beberapa bagian dari Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton tetapi juga meluluhlantakkan harapan para penggemar setan merah untuk melihat langsung para pujaannya mencicipi rumput Gelora Bung Karno.
Apapun motivasinya, peledakan tersebut bukan hanya membatalkan kedatangan mantan juara Champions League ke tanah air, namun juga semakin mencederai citra Indonesia di mata internasional. Kecewa??? Mungkin iya meskipun Aku bukan penggemar MU (Aku sendiri adalah pengemar Liverpool), namun setidaknya kedatangan mereka akan sedikit mengobati kerinduan penggemar sepakbola tanah air yang sudah lama tidak disinggahi tim besar sekaliber MU. Tidak perlu terlalu ditangisi, toh kedatangan setan merah adalah bukti kapitalisme global. Mereka meraup keuntungan milyaran dari hasil tur tanpa meninggalkan kemajuan signifikan bagi persepakbolaan Asia begitulah kira-kira bunyi pernyataan ketua AFC. Disinggahi MU bukan garansi permainan dan kualitas pasukan merah putih akan membaik.
Kembali ke pembicaraan awal. Apa sebenarnya maksud judul di atas? Begini ceritanya…
Manchester United adalah hanyalah sebuah klub kecil diawal decade 90-an. Tak banyak orang yang mengenal klub bermarkas di Old Trafford ini sampai seorang pria Skotlandia datang mengubah sejarahnya. Alex Ferguson menyulap tim ini menjadi momok menakutkan bagi lawan-lawannya. Selama berkiprah di Britania raya, hanya tiga tim yang mampu menjadi kerikil yang menghalangi jalan MU,mereka adalah Blackburn Rovers, Arsenal, dan Chelsea. Di tangan pria berkacamata ini, MU menjadi tim dengan manajemen paling sehat, menjadi klub terkaya di dunia dan yang paling penting segudang prestasi telah ditorehkan. Puluhan gelar Premiership, Community shield, Piala FA, Piala Carling, Piala Toyota dan Super Eropa di genggamnya. Dan yang paling fenomenal adalah gelar Treble Winner di tahun 1999. Manager setan merah ini berhasil mengawinkan Gelar liga, piala FA dan Piala Champion, sebuah pencapaian prestisius bagi klub dataran Inggris, belum pernah ada klub negeri Ratu Elizabeth yang meraih hasil serupa. Hal yang kemudian membuat Pangeran Charles menganugerahinya gelar kebangsawanan, jadilah ia disapa “Sir Alex Ferguson”.
Kepemimpinan Sir Alex lah yang mengubah jalan hidup MU. Pintar memotivasi pemainnya namun tidak mentoleransi kesalahan. Sifat otoriter dan tegas membuatnya sangat dihormati kawan dan disegani lawannya. Jangan sekali-kali mempertanyakan keputusan yang dikeluarkan pria berambut putih ini, ataukah sang pemain ini sudah bosan menjadi bagian timnya. Tidak segan-segan Sir Alex mendepak pemain yang berani menentangnya walaupun dia berstatus bintang. Jaap Stam, Ruud Van Nistelrooy, David Beckham, Roy Keane, Carlos Tevez sampai Cristiano Ronaldo harus angkat koper dari klub yang bermarkas di Stretford ini hanya karena mereka berani “berulah”.. Hal lain yang menjadi ciri khas pria ini adalah dia tidak jor-joran berbelanja pemain mahal dengan status bintang. Dia lebih senang berinvestasi membeli pemain muda lalu mendidiknya menjadi pemain hebat. Kehilangan bintang tak akan ditangisi oleh beliau, karena baginya hal ini berarti kesempatan menciptakan bintang yang lain. The Red Devils layaknya sebuah kampus yang mendidik para pemain sepakbola dengan Sir Alex sendiri menjadi kepala sekolahnya. Sederet prestasi inilah yang membuat Stadion Old Trafford kandang MU dijuluki Theatre of the Dream. Sebuah landscape dimana semua pemain sepakbola bermimpi menjadi ambil bagian di dalamnya. Sir Alex dengan segala kontroversinya telah mengukir tinta emas bagi perjalanan MU dan menjadikannya tim elit di daratan Eropa dan Dunia
Lalu hubungannya dengan ETOS apa??
Terlalu naif mungkin kalau membandingkan Manchester United dan Makassar Utama (Beastudi ETOS Makassar, red) apalagi membandingkan pengelolanya dengan Sir Alex Ferguson (waduh… mimpi kali yee). Namun Aku ingin menarik sebuah analogi tentang keduanya. ETOS Makassar relatif mempunyai manajemen yang relatif sehat, setidaknya itu tercermin dari hasil evaluasi ETOS pusat. Manajemen Makassar memiliki kelengkapan yang memungkinkannya menjadi Juara, namun yang sejauh ini semuanya itu belum terlihat.
Berangkat dari keresahan tersebut, dalam sebuah Rapat Wilayah Aku meminta kepada Korwil Makassar agar diberikan angkatan termuda untuk Aku bina, Aku meminta diberikan keluasan bereksperimen dan asrama dipisahkan. Dalam bayangan Aku, ini akan menjadi pilot project pembinaan generasi terbaik. Asrama dipisahkan bukan untuk merenggangkan ukhuwah namun mensterilkan etoser dari penyakit kronis seniornya. Dan pada akhirnya akan ada perbandingan antar asrama yang menjadikan asrama itu bersaing sehat.
“Berikan Aku waktu setahun untuk mengubah etoser 2008 makassar untuk menjadi etoser Makassar terbaik yang pernah ada, jika dalam waktu tersebut tidak ada perubahan signifikan atau malah terjadi sebaliknya, Aku siap mengundurkan diri”. Demikian pernyataan ku tegas di depan korwil dan pendamping lain. Ada pendamping yang memperhatikan, ada yang tersenyum, ada yang diam saja, Aku tidak tahu makna diamya itu apa. Namun Aku bersyukur korwil merespon positif usulanku.
Petualangan baru saja dimulai, ternyata konsekuensi pernyataan Aku tidak segampang yang dibayangkan. Sendirian menghadapi belasan anak lelaki yang masih membawa sifat asli mereka dari kampung bukanlah pekerjaan mudah. Mulai dari dari masalah cuci piring, rendaman pakaian, kerapian kamar sampai pengaturan sandal, harus bekerja keras mengatur itu. Setiap hari Aku harus marah untuk sampai menghukum Push up, isi kolam, bersihkan kamar mandi sampai membuat tulisan jika ada yang melanggar.
Ada yang harus ditegur karena kebiasaannya tidur dilantai, padahal itu buruk untuk kesehatannya, ada yang masih senang makan nasi dengan garam dengan alasan suda terbiada dan mengirit. “Otak mu butuh nutrisi, gimana IP bisa tinggi kalau makannya nasi garam?” harus ekstra usaha untuk mengubah cara berpikir mereka.
Kadang Aku berpikir terlalu keras dalam menghadapi mereka, sampai ada seorang etoser yang pernah mendapat tugas, ragu memperlihatkan karyanya karena takut dimarahi. Aku tertegun “Seperti inikah imej yang terbangun di kepala adik-adik tentang Aku?” ah tidak apa-apa, itu hak mereka untuk menilai. Aku juga tidak menolak itu, karena sifat itu Aku warisi dari orang tuaku yang asli Makassar.
Di lain kesempatan seorang etoser ikhwan pernah mempertanyakan aturan asrama yang dirasa terlalu mengatur masalah pribadi sampai sandal pun dipermasalahkan. Aku cuma menjawab, “Visi ETOS adalah menciptakan pemimpin yang dapat merubah bangsa ini menjadi lebih baik, dan jangan pernah bermimpi merubah bangsa yang besar ini kalau ngatur sandal saja tidak becus!!” demikian jawabku tegas dengan tatapan meyakinkan. Pernah seorang pendamping mempertanyakan keputusanku melepaskan adek etoser yang berstatus “bintang”, Aku Cuma menjawab singkat “Aku akan ciptakan bintang yang lain!!”
Aku bermimpi menjadi Sir Alex Ferguson bagi MU. Dengan gaya kepemimpinan yang “mirip”, Aku ingin menjadikan ETOS sebagai kampus alternative dimana didalamnya Etoser belajar memaknai hidup bukan menikmati hidup.
Dalam alam bawah sadar, ku gambarkan ETOS sebagai Theatre of the dream, dimana ketika orang berbicara tentang ETOS, yang mereka bayangkan adalah sebuah lembaga sumber daya manusia yang menghasilkan orang terbaik Hingga suatu saat orang tidak lagi bertanya “yang mana etoser Makassar?” tapi berkata “Inilah etoser Makassar!!”
Buat adik-adikku etoser Makassar yang sedang berkompetisi dalam acara Temu Nasional 2009, selamat berjuang, jadilah yang terbaik.
Kalian sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari, sekarang tinggal memetik hasilnya.
“Kesuksesan itu akan datang pada mereka yang berjuang mendapatkannya bukan pada mereka yang hanya mengharapkannya. Tidak ada harga yang pantas untuk sebuah kesuksesan selain perjuangan dan pengorbanan”
Berkilaulah EMAS 08, Ewako !!!
Sepekan di negeri impian
Cerita ini tidak sedang bertutur tentang negeri Si Alice in Wonderland, sebuah film kartun jaman kita SD dulu. Atokah kisah Pulau never land kampung Peter Pan berserta teman-temannya tinggal, dimana sang waktu berhenti berputar sehingga mereka tidak bertambah tua. Tapi latar stoire ini adalah dunia nyata. Dunia dimana tidak ada kesedihan, dunia yang penuh canda-riang, dunia yang selalu tersenyum indah menyambut sapa mentari
Beberapa waktu yang lalu aku sedang melakukan penelitian di TK Islam Athirah Bukit Baruga, sebuah sekolah pendidikan dini bagi anak usia prasekolah. Berlokasi di Bukit Baruga, satu-satunya perbukitan Makassar (kira-kira begitu bunyi iklannya), kampus ini berada di tengah perumahan elit kota Makassar. Kawasan ini merupakan daerah pendidikan terpadu dimana di dalamnya terdapat SD, dan SLTP yang masih cabang dari Yayasan pendidikan dan kesejahteraan Haji Kalla.
Simak saja percakapan dengan Sultan Aqil Nugraha dari kelas A saat di tes tumbuh kembang.
“Sultan tahu nggak cangkir gunanya buat apa?” tanyaku
“Buat masak” tegasnya
“Kalo pagar?” tanyaku lagi
“Buat parkir mobil” jawabnya sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipinya
Ataukah pertanyaan Aviza Rizky sugianto saat dites oleh Leli (adik kelasku).
“Kalau banyak ‘P’nya artinya apa kak?”
“Itu artinya Aviza Pintar” jawab leli
“Hore saya pintar” teriaknya sambil lompat mengajak Denys temannya
Ayu direpotkan oleh sikap Nurul zahira shofa yang ngambek saat di tes, padahal awalnya cerewetnya minta ampun, sedang saya sendiri kapok oleh Rafli yang berlari kesana kemari saat di wawancarai.
Demikianlah tingkah polah mereka, lucu. ngegemesin, tapi orisinal. Jawaban yang meluncur begitu saja dan steril dari kemunafikan. Melihat aktivitas mereka yang berlarian kesana-kemari, aku cemburu. Betapa indahnya dunia balita. Mereka terbebas dari segala tendensi, dari segala polusi dunia dewasa. Mereka menyikapinya dengan ceria.
Tersenyumlah wahai generasi bangsa, dan dunia pun akan tersenyum menyambutmu.
Tulisan ini aku persembahkan kepada seluruh staf TK Islam Athirah Bukit Baruga yang memberi izin dan banyak membantu selama penelitian, teruslah membina generasi bangsa. Dan special kepada adik ners 2005 (Asni, cici, ayu, leli dan fitri) yang membantu tes DDST. Oh ya kalian gak kalah manis en lucunya dengan anak TK tadi Kok
Inspiring story
Ada seorang ayah yang menjelang ajalnya di hadapan sang Istri berpesan
DUA hal kepada 2 anak laki-lakinya :
- Pertama : Jangan pernah menagih hutang kepada orang yg berhutang
kepadamu.
- Kedua : Jika pergi ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar
matahari.
Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun
setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang
bungsu menjadi semakin miskin.
Pada suatu hari sang Ibu menanyakan hal itu kepada mereka.
Jawab anak yang bungsu :
"Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya
tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku,
akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak
membayar sementara aku tidak boleh menagih".
"Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah
ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya
saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan
kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku
bertambah banyak".
Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang Ibu pun bertanya hal
yang sama.
Jawab anak sulung :
"Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah
berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada
saya, maka saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian
modal tidak susut".
"Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau
pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat
ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam.
Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah
toko yang lain tutup."
"Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku
menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama".
MORAL CERITA :
Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan
presepsi yang berbeda.
Jika kita melihat dengan positive attitude maka segala kesulitan
sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa
juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita…
pilihan ada di tangan anda.
`Berusahalah melakukan hal biasa dengan cara yang luar biasa'
Dari Milis sebelah
Jilbab di pelukan USA
Tulisan ini bukanlah dukungan buta kepada pemerinta Amerika serikat, pemilik blog ini pun bukan antek-antek negeri Paman Sam. Sekali lagi tulisan ini sebuah bentuk penegasan betapa kita telah terlalu lama merindukan bangsa ini mampu bangkit dari keterpurukan, mampu mengayomi seluruh anak negeri, hingga suatu saat kita tak perlu minder ketika berhadapan dengan negara lain, hingga suatu saat ketika orang berbicara maka yang terdengar adalah "Lihatlah Indonesia" dan hingga suatu saat kita dengan bangganya berbicara bahwa "Aku adalah Indonesia"....
Catatan suka-duka dunia kerja di USA)
Menapakkan kaki yang entah ke berapa puluh kalinya di sana - selalu ada rasa
itu. Rasa yang sulit untuk dijabarkan seperti ketika membaca tulisan
Office of the Immigration Judge tertatah di marmer hitam itu. Marmer dingin
itu pernah aku duduki sampai petugas keamanan menghampiriku, melarangku
duduk di sana. Tersipu malu ketika menyadarinya, dengan kata maaf kuseret
tas kerjaku dan pindah duduk ke kursi taman. Beberapa perahu cantik dengan
tenang melintas di sungai besar di tepi gedung pengadilan imigrasi Miami di
pojokan One River View Square itu, seolah tak perduli pada sibuknya
wajah-wajah lalu lalang yang silih berganti melewati pintu penjagaan.
Wajah-wajah itu tak beda banyak dengan wajahku, berkulit coklat hangat -
juga seperti kulitku. Wajah-wajah Hispanic seperti wajah-wajah anak
negeriku itu terasa begitu dekat di hati.
Kuhabiskan Cuban coffee yang kubeli dari café di dalam ruang tunggu dan
kulirik jam tanganku. Sudah waktunya untuk masuk ke ruang sidang. Di
lantai tujuh ada satu ruang besar khusus untuk para penerjemah, tapi setiap
aku menengok ke ruangan itu selalu saja gelap dan sepi. Akupun jadi lebih
suka menunggu di luar gedung pengadilan di tepian sungai sambil minum kopi
khas Miami dan memandangi perahu yang lewat, melamun dan mereka-reka apa
kiranya kasus yang akan disidangkan pada hari itu.
Kebanyakan kasus orang Indonesia adalah over stay karena masa berlaku visa
yang sudah kadaluwarsa. Banyak orang yang bertahan untuk berada di Amerika
sampai melewati batas waktu yang diberikan. Krisis moneter yang menggoncang
ibu pertiwi beberapa tahun silam adalah salah satu penyebab utama kenekatan
mereka. Banyak yang mati-matian mempertahankan kenyamanan bekerja di
negeri Paman Sam ini meski itu secara illegal. Meski itu harus
kucing-kucingan dengan FBI dan petugas negara lainnya. Akibatnya, ketika
harus duduk di ruang pengadilan imigrasi, sebagian besar dari mereka
dideportasi karena melanggar hukum dan aturan yang berlaku di negeri ini.
Untuk menghindari kemungkinan dipulangkan itu, banyak yang meminta suaka
politik dengan mengacu pada rentetan tragedi 1998 antara lain pemerkosaan
wanita-wanita keturunan Cina, pembakaran gereja-gereja, diskriminasi
terhadap kaum minoritas, penembakan mahasiswa universitas Trisakti dan
reformasi yang mengawali lengsernya kepemimpinan pemerintah orde baru.
Sementara itu dari sudut Amerika sendiri tragedi 911 telah meluluh lantakkan
kepercayaan Amerika pada dunia luar dan khususnya pada negara-negara
berbasis Islam. Bila keadaan ini dihubungkan dengan politik luar negeri
dan situasi keamanan Indonesia, maka peristiwa pemboman yang beruntun dari
bom di Bali, bom di hotel Marriott, bom di kedutaan Australia, dan bom di
Bali yang lebih besar lagi - dan entah daftar perilaku kebiadaban yang
menewaskan orang tak bersalah yang mana lagi - mengakibatkan negeriku masuk
daftar 25 negara yang dicurigai sebagai "sarang" teroris. Sungguh fakta
sejarah kelabu negeriku yang menyesakkan hati.
Pemikiranku tentang kekalutan politik Indonesia dan terorisme langsung
lenyap ketika mataku tertuju pada kursi di sebelah kursi pengacara.
Seorang wanita muda, kurus kecil dan tampak pucat sepucat jilbabnya, duduk
di kursi itu. Kepalanya tertunduk memandangi jari-jarinya yang berkaitan
satu dengan lainnya. Dari bahasa tubuhnya yang resah dan gelisah, ia
kelihatan takut dan tak nyaman duduk di kursi kulit warna merah marun gelap
dan berada di ruangan pengadilan yang dingin itu.
"Nama saya Neneng, asal dari Cianjur. Usia tujuhbelas tahun. Orang tua
saya miskin dan tidak punya pekerjaan. Waktu saya umur 12 tahun saya dijual
oleh orang tua saya kepada tetangga dengan bayaran limapuluh kilogram beras.
Lalu saya dibawa ke agen tenaga kerja di Jakarta. Setelah training bahasa
Arab dan pekerjaan rumah tangga lainnya saya dikirim ke Arab Saudi untuk
menjadi pembantu sebuah keluarga dengan lima anak kecil-kecil. Tadinya
saya senang karena saya kira saya akan punya kesempatan untuk menunaikan
ibadah haji. Tapi ternyata majikan saya mendapat pekerjaan di sini maka
sayapun dibawa ke negeri ini."
Ruangan hening. Semua pertanyaan dari hakim dijawabnya dengan suaranya
yang pelan dan terdengar gemetaran.
"Majikan saya punya adik yang berdekatan apartemennya. Mereka juga punya
anak lima yang seusia dengan anak-anak majikan saya. Tiap hari mereka
datang ke apartemen kami, dan saya harus mengasuh dan menjaga semuanya.
Total sepuluh anak. Kalau ada anak yang berkelahi, jatuh atau terluka,
maka saya dipukuli, ditendang, atau ditampar oleh majikan saya. Kadang
pakai sepatu, pakai kayu, pakai tangan atau apa saja yang bisa dipukulkan ke
badan saya. Kadang anak-anaknya juga memukuli saya, meniru ibunya. Sampai
akhirnya saya tidak tahan lagi dan waktu mereka tidur saya lari ke masjid di
dekat apartemen mereka." Suara Neneng putus-putus menahan isak. Sesekali
ia mengambil nafas kala suaranya mulai menyesak di lehernya, dan
berulangkali mengusap mata basahnya dengan ujung jilbab putihnya.
"Dan di masjid itu kamu bertemu dengan istri bapak ini?" Tanya hakim seraya
menunjuk pada seorang lelaki setengah baya, dokter anak dari Mesir - yang
duduk di bangku panjang di belakang ruangan, mengikuti jalannya persidangan
dengan tenang.
"Ya. Dan istri bapak ini membawa saya ke rumahnya, dan sampai sekarang
saya tinggal bersama mereka dan belum kembali ke rumah majikan saya. Saya
takut kembali ke sana lagi. Saya takut dipukuli lagi. Saya tahu saya
salah karena melarikan diri dari rumah majikan saya. Saya mau dihukum
penjara, tapi tolong jangan kembalikan saya pada majikan saya." Tanpa bisa
dihentikan, Neneng menangis tergugu. Hakim sesaat terpaku sebelum
memberikan waktu istirahat setengah jam, lalu menyelinap ke luar ruang
sidang.
Neneng adalah wajah dalam cermin kemiskinan negeriku. Refleksi bayangan
ketidak mampuan bangsaku untuk mengayominya dan keluarganya. Ekonomi carut
marut negara memaksa anak sebelia itu untuk jadi tenaga kerja di negeri
orang. Tanpa digaji, malah disiksa. Ternyata jiwa perbudakan di mana-mana
masih juga ada! Pikiran Neneng sangat sederhana. Yang dia tahu orang
tuanya sudah melakukan transaksi jual beli atas dirinya. Ada sebersit
harapan sewaktu datang ke Arab Saudi untuk bisa menunaikan ibadah haji.
Meski seumur hidup hanya sekali. Menginjakkan kakinya di tanah suci adalah
hal yang sungguh tak ternilai dalam hidupnya. Dan bila ketidak
mengertiannya bahwa kepergiannya ke Arab Saudi itu tak ada hubungannya
dengan naik haji karena ia adalah pembantu rumah tangga yang tak punya hak
diri, itu tanggung jawab siapa?
Negeriku adalah negeri yang konon bangga dengan jumlah Muslimnya yang
terbesar di dunia. Tapi apakah jumlah itu punya daya, mampu memberikan hak
dan perlindungan pada anak-anak seperti Neneng dan jutaan Neneng lainnya?
Aku tercenung lama dan terbersit tanya, kapan negeriku yang gemah ripah loh
jinawi bisa memberikan ketentraman pada anak-anak bangsanya sendiri,
sehingga tak perlu mereka mencari dan mengais rejeki di negeri orang.
Sebagai anak bangsa Indonesia aku sungguh malu. Tapi sesungguhnya adakah
pilihan itu? Andaipun ada, Neneng tak pernah memiliki pilihan itu.
Amerika tak bisa dipungkiri - adalah negara yang dibenci banyak negara lain
di dunia. Ia dikutuk! Dihujat! Dimaki! Tapi seiring dengan itu Amerika
juga adalah bangsa yang dicintai, perlindungan dan keamanannya dicari,
stabilitas ekonominya diingini. Dan dengan seribu satu macam alasan dan
tujuan, manusia dari seluruh penjuru dunia berlomba untuk hijrah ke negara
ini. Dan rasa yang kulihat di wajah-wajah bertaburan keluar masuk di pintu
pengadilan imigrasi itu adalah rasa yang berkecamuk antara harapan untuk
menetap, bekerja keras dan berpenghidupan yang lebih baik di Amerika atau
harus pulang dan tak tahu kehidupan apa yang menanti di negara asalnya
masing-masing.
Kasus Neneng, bukanlah kasus di mana orang yang ketahuan overstay lalu minta
suaka dengan merekayasa cerita tentang kebobrokan bangsa atau kebiadaban
manusia di tanah air. Kasus Neneng bukanlah kasus di mana dia ingin
mendapatkan green card dan visa kerja di Amerika - sementara apa itu green
card dan apa itu social security Neneng tak pernah tahu dan dengar. Kasus
Neneng, adalah akibat penjajahan, kemiskinan dan kebodohan yang makin
merajalela di negerinya, yang juga adalah negeriku. Dan Amerika pun dengan
tulus memunguti serpihan luka yang berhamburan di benuanya ini dan
melindungi Neneng ini dan Neneng-Neneng lainnya dalam rengkuhan senyum tipis
Lady Liberty yang bersahaja tapi sarat makna: Give me your tired, your
poor.
Hakim kembali ke ruang sidang siap dengan keputusannya, atas nama negara
Amerika. Kudengar suara lembut keibuannya yang tak pernah kubayangkan akan
terdengar dari sidang pengadilan seperti ini ketika Neneng memberikan
persetujuannya dijadikan anak negara. Neneng diberi hak untuk bersekolah
dengan biaya negara, diberikan pekerjaan dengan gaji minimum, mendapat
tempat tinggal, diberi jaminan pelayanan kesehatan seumur hidupnya. Dan
Neneng diberi kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya.
Terdengar dokter Mesir itu membisikkan puji syukur, "Allahu Akbar"
Sore itu, sementara menunggu taksi untuk kembali ke bandara udara, dengan
hati menyesak rindu pada kampung halaman kuguratkan tulisan di lembar kertas
kuning lagu yang kuingat sebagai penutup acara televisi di masa kecilku,
"Tanah airku Indonesia . Negeri elok amat kucinta. Tanah tumpah darahku
yang mulia. Yang kupuja sepanjang masa. Tanah airku aman dan makmur. Pulau
kelapa yang amat subur. Pulau melati pujaan bangsa sejak dulu kala. " dari
tempat dudukku di tepian sungai di sudut One River View Square.
Dan Neneng, sekuntum melati bangsaku yang tak pernah hidup dalam negeri yang
aman dan makmur itu kini jauh dari Indonesia, negeri elok yang hanya ada
dalam lagu penutup acara di tivi itu. Hari ini dan hari esoknya bergantung
pada belas kasih dan perlindungan negara ini. Ketika kulihat taksiku datang
aku segera beranjak. Sekilas kuletakkan tanganku di marmer hitam di depan
gedung pengadilan imigrasi itu. Dan bayangan wajah bercahaya Neneng yang
berjilbab putih mengenakan toga dan merengkuh selembar diploma di tangannya,
dengan latar belakang bendera Amerika - melintas di mataku yang mulai
berembun.
Dari Milis tetangga
Kenapa kita baca qur'an
Kenapa mesti membaca Qur’an walaupun kita tak mengetahui terjemahannya barang sehuruf pun????
Seorang kakek tinggal di sebuah ladang dengan cucunya. Sambil menikmati pagi setiap hari sang kakek bangun dan duduk membaca Qur’an di meja dapurnya. Cucunya mengagumi sang kakek dan berusaha mencontoh dengan segala kemampuannya..
Suatu hari cucunya bertanya,
"Kek! Saya mencoba membaca Qur’an seperti kakek tapi saya tidak memahaminya, dan apapun yang saya pahami akan hilang segera setelah saya mengakhiri dan menutup qur’an tersebut. Lantas apa gunanya kita membaca Qur’an ?"
Sang kakek perlahan berhenti memasukkan batu bara ke dalam tungku dan menjawab,
"Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawakan saya sekeranjang air”.
Sang anak kemudian melakukan seperti yang diperintahkan, tapi karena keranjang bocor maka semua air telah habis sebelum dia sampai kerumah. Sang kakek tertawa dan berkata,
"Lain kali kamu harus lebih gesit saat membawa air," kemudian meminta sang anak kembali ke sungai untuk mencoba lagi.
Kali ini sang anak berlari lebih cepat, tetapi kembali keranjangnya sudah kosong sebelum mencapai rumah. Sambil terengah-engah, dia berkata kepada kakeknya bahwa tidak mungkin mengangkut air dengan memakai keranjang, malahan ia pergi mengambil ember. Sang kakek berkata,
"Saya tidak butuh seember air; Saya butuh sekeranjang air. Kekuranganmu hanyalah karena tidak berusaha keras,"
Kemudian sang kakek berdiri di pintu mengawasi cucunya mencoba lagi. Sebenarnya sang anak tahu bahwa pekerjaan itu mustahil tetapi ia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa sekeras apapun usahnya air akan tetap habis sebelum ia mencapai rumah.
Sang anak kemudian menceduk keranjang kedalam sungai kemudian berlari kencang, tetapi ketika mencapai rumah kembali keranjangnya sudah kosong. Terengah-engah, dia berkata,
"Kakek lihat kan?, ga ada gunanya!"
"Jadi kamu pikir itu tidak berguna?" Sang kakek kemudian melanjutkan, "Lihat keranjangnya."
Sang anak melihat ke dalam keranjang dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjangnya sudah berbeda. Benda itu telah berubah dari keranjang batubara tua yang kotor, menjadi sangat bersih luar dalam.
"Anakku, itulah yang terjadi ketika Kamu membaca Qur’an. Mungkin kamu tidak mengerti atau mengingat semuanya, tapi ketika kamu membacanya, kamu akan berubah, luar dan dalam. Begitulah kerja Allah dalam hidup kita".
Hamas
Ismail Haniyah, perdana menteri Palestina menegaskan bahwa pembantaian yang dilakukan Zionis pada hari kemarin tidak akan mampu menghentikan keinginan bangsa Palestina untuk merdeka dan menghentikan pendiriannya untuk bebas dari penjajahan, mereka sama sekali tidak akan menyerah atau patah arang, namun justru akan terus melakukan dengan perlawanan dan tetap tegar. Beliau juga menegaskan bahwa dalam berbagai tindak permusuhan akan selalu menambah kekuatan, azimah, kehendak dan kekuatan.
Haniyah menjelaskan ini dalam pidatonya yang disiarkan melalui channel Al-Aqsha bahwa pembantaian ini hadir dalam rangka dan agenda yang bertujuan untuk menghancurkan ketegaran bangsa Palestina di Gaza; yang tetap berdiri dengan tegak dihadapan penjajahan, konspirasi dan untuk menghilangkan bendera kemuliaan dan harga diri.
Beliau juga menegaskan bahwa mereka sebenarnya ingin menghancurkan ketegaran dan tsaqofah perlawanan ini, serta berusaha untuk mengalihkan sorotan dunia melalui media tentang phenomena penjajahan dan tahwid al-quds (meng-yahudikan Al-Quds), dan membuyarkan opini dunia bahwa permasalahan ini terjadi adalah karena HAMAS dan pasukan perlawanan. Serta berusaha untuk menggerakkan drama menghapus permasalahan Palestina.
Haniyah bersumpah bahwa sekalipun telah berjatuhan para pelaku perlawanan dan tumpah darah-darah mereka serta banyak yang berguguran di dalam pembantaian tersebut, tidak akan mampu meruntuhkan hak-hak warga Palestina, dan beliau berkata: jika mereka melakukan pembantaian terhadap Gaza, sama sekali mereka tidak akan mampu membunuh spirit perjuangan, izzah, ketegaran dan kehormatan serta mertabat kami. Beliau menegaskan bahwa mereka bukanlah para pencari kenikmatan dunia, jabatan atau kursi namun sesungguhnya mereka adalah para pencari akhirat, kebebasan dan kemerdekaan. Sambil ditegaskan bahwa mereka akan tetap menjadi pemicu dakwah, kebebasan, izzah dan kebanggaan.
Haniyah memuji atas berbagai sumbangan yang diberikan oleh bangsa-bangsa Arab dan dunia Islam, hal ini menunjukkan akan persatuan dan kesatuan bangsa dan umat, dan memuji gerakan rakyat Palestina di Tepi Barat dan 48, sebagaimana Haniyah memberikan apresiasi terhadap seruan beberapa negara untuk melakuakn pertemuan darurat solidaritas terhadap Gaza, dan menyeru kepada bangsa Palestina untuk tetap berpegang teguh pada kesatuan dan persatuan, serta menyeru Liga Arab untuk segera menghentikan blokade di Gaza, dan menyeru Mesir untuk membuka persimpangan Rafah untuk selamanya.
Haniyeh meminta negara-negara Arab dan Islam untuk segera mengubah haluaan kemitraan pada bidang keamanan dengan Zionis, sambil mengajak kepada sleuruh bangsa untuk memberikan bantuan terhadap rakyat Palestina hingga berakhir penjajahan, dan Haniyah juga tidak lupa menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban yang mati syahid dan menjadi korban.
Gaza - ikhwanonline.com -
