Latest News

PSM Vs MU

Posted by Lentera on Selasa, 02 Maret 2010 , under | komentar (0)



Ribuan massa berdesak-desakan di gerbang masuk stadion, aksi dorong pun tak terelakkan, polisi kelabakan mengatur antrian pennonton dan meminta agar lebih bersabar, dengan penuh perjuangan akhirnya saya bisa bernafas lega masuk ke area tribun meski harus berdiri karena tak kebagian tempat. Terasa aliran energy yang begitu dahsyat, ribuan supporter memerahkan Mattoanging, mercon merah terbakar ke udara, yel-tel The Macz Man semakin membuat riuh suasana, sebuah spanduk membentang panjang dengan tulisan “SELAMAT DATANG DI STADION NERAKA”. Pengalamanku hari ini adalah pengalaman pertamaku menginjak stadion kebanggaan Sulawesi Selatan, dan pasukan ramang yang begitu dipuja para pendukungnya akan turun ke arena menghadapi rival abadinya sejak era perserikatan PERSEBAYA SURABAYA, itulah kenapa animo penonton sangat besar hari ini, tak ada ruang tersisa di tribun terbuka, selain faktor bahwa laskar ayam jantan baru saja memetik poin empat dari turnya ke papua, seri lawan PERSIWA dan menang atas PERSIPURA, ditambah rasa penasaran para penonton ingin menyaksikan trio latin PSM yang baru, Jorge Toledo, Oscar Aravena dan Christian Gonzales. Psywar yang dilancarkan kubu tuan rumah akan menghancurkan mental yang tak tahan tekanan dan hal itu terbukti ampuh, tarian sang jenderal lapangan Toledo didukung dua midfielder nasional Syamsul Haeruddin dan Ponaryo Astaman yang kala itu masih berambut gondrong, memanjakan dua predator ganas Oscar dan El loco Gonzales. Malam itu Laskar bajul ijo bertekuk lutut dengan tiga gol tanpa balas, dua dari Oscar dan satu dari El loco. Gegap gempita stadion membahana, bahkan salah seorang supporter berseloroh, “Jangan kata persebaya, AC Milan atau Manchester United pun yang datang kesini akan pulang dengan tangan hampa” sebuah pertanyaan hiperbolis, namun harus diakui malam itu permainan PSM sangat indah dan menjadi hiburan bagi penggemarnya.

Namun itu cerita lalu, sekarang begitu gampangnya tim tamu mencuri poin bahkan mempecundangi PSM di depan pendukung fanatiknya, stadion tak lagi angker, Mattoanging tak lagi bertuah. Nama besar PSM bukan lagi magnet bagi pemain untuk datang merumput ke Makassar, Pasukan ramang pun tak diperhitungkan lagi masuk bursa juara. Niat baik pengelola untuk membina pemain muda lokal patut diapresiasi, namun kesalahannya adalah pengelola lupa pepatah sepakbola yang mengatakan tidak ada tim juara dengan kumpulan besi tua, juga tak ada tim juara dengan materi anak kemarin sore, jika pengelola ingin mencontoh The Red Devils, maka Sir Alex menggabungkan antara pemain senior dan pemain muda.

Pengelola tak sepenuhnya salah, para pemain pun harusnya tahu diri, tiap musim meminta kenaikan gaji di lain sisi tak kunjung memberikan prestasi padahal dari APBD mendapat gaji, setali tiga uang dengan supporter yang perfeksionis selalu meminta tim bermain baik dan meminta hasil sempurna, namun jika bermain jelek hanya cemooh yang didapatkan di stadion, belum lagi masuk stadion tanpa membayar, hanya dengan modal sabuk karate dan sedikit nyali memanjat tembok stadion lalu bisa menikmati pertandingan walau sambil berdiri.

Permasalahan PSM hanyalah sekelumit dari permasalahan sepakbola nasional, dengan indahnya kita menikmati Liga Primera Spanyol, persaingan ketat Premier League Inggris serta tensi tinggi Serie A Italia. Kesemuanya itu karena sepakbola disana telah menjadi sebuah industri yang menggiurkan, mugkinkah suatu saat kompetisi kita menjadi seperti itu? Tapi bagaimana mungkin dapat menarik investor kalau setiap pertandingan kita tidak hanya disuguhi sepakbola, tapi juga Tae Kwondo dan tinju, juga tawuran penonton selepas peluit panjang pertandingan.

Ah… tak ada gunanya mengutuki keadaan karena tak akan menyelesaikan persoalan, lebih baik kita introspeksi masing-masing dan tetap berharap bahwa suatu saat tim-tim Indonesia akan dilirik investor yang tidak hanya membuat stadion dengan standar Internasional tapi juga membangun tim tangguh dengan kompetisi sehat yang berujung pada prestasi tim nasional yang membanggakan. Dan aku masih menyimpan sebuah impian, melihat laga antara PSM Vs Manchester United di Final FIFA World Championship. Amin

WANITA

Posted by Lentera on Senin, 22 Februari 2010 , under | komentar (0)



Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita. Tanpa mereka, hati, fikiran, perasaan lelaki akan resah. Masih mencari walaupun sudah ada segala-galanya. Apalagi yang tidak ada di syurga, namun Nabi Adam a.s. Tetap merindukan Siti Hawa. Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, istri atau puteri. Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau lelaki sendiri yang tidak lurus, tidak mungkin mampu hendak meluruskan mereka.

Tak logis kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus. Luruskanlah wanita dengan cara petunjuk Allah, karena mereka diciptakan begitu rupa oleh mereka. Didiklah mereka dengan panduan darinya: Jangan coba jinakkan mereka dengan harta, nanti mereka semakin liar, jangan hiburkan mereka dengan kecantikan, nanti mereka semakin menderita, Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah, Kenalkan mereka kepada Allah, Zat Yang Kekal, di situlah kuncinya.

Akal setipis rambutnya, tebalkan dengan ilmu, hati serapuh kaca, kuatkan dengan iman, perasaan selembut sutera, hiasilah dengan akhlak. Suburkanlah karena dari situlah nanti merka akan nampak penilaian dan keadilan Tuhan. Akan terhibur dan berbahagialah mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik dunia, presiden ataupun perdana mentri negara atau women gladiator. Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan. Itu bukan diskriminasi Tuhan. Sebaliknya disitulah kasih sayang Tuhan, karena rahim wanita yang lembut itulah yang mengandungkan lelaki2 wajah: negarawan, karyawan, jutawan dan wan-wan lain. Tidak akan lahir superman tanpa superwoman. Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan.Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan, bahkan mereka pula membengkokkan.

Lebih banyak lelaki yang dirusakkan oleh perempuan daripada perempuan yang dirusakkan oleh lelaki. Sebodoh-bodoh perempuan pun bisa menundukkan sepandai-pandai lelaki. Itulah akibatnya apabila wanita tidak kenal Tuhan. Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki. Kini bukan saja banyak boss telah kehilangan secretary, bahkan anakpun akan kehilangan ibu, suami kehilangan istri dan bapa akan kehilangan puteri. Bila wanita durhaka dunia akan huru-hara. Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa.

Dari berbagai sumber

Ijinkan aku memanggilmu.....

Posted by Lentera on Senin, 08 Februari 2010 , under | komentar (0)



Wanita adalah mahluk lemah, yang selalu terpenjara oleh perasaannya, yang menjadi korban dari rasa cintanya, yang akan selalu terluka oleh harapan yang dibuatnya. Apakah Tuhan tidak adil?? Kenapa lelaki tidak dibuat sama? Kenapa selalu wanita yang menjadi pihak penanggung banyak kerugian dalam sebuah hubungan?
Pelajaran pertama yang harus kamu ketahui adalah “Jangan pernah meragukan keadilan Tuhan!” Ingin sebenarnya aku menolak jabatan itu, terlalu berat. Harus berhadapan dengan senior, menjaga agar tidak terjadi ketidak-adilan, menghentikan mata rantai kekerasan yang diwariskan turun-temurun di kampus.
“Tidak !! Saya tidak sanggup memikul beban berat itu” tegasku
“Akhi, posisi antum sekarang sangat memungkinkan untuk mengambil posisi itu.” Irul coba meyakinkanku
“Kalau memang iya, lantas setelah itu apa? Kita harusnya berpikir jangka panjang. Bukannya mengambil keputusan insidentil, pragmatis yang hanya berefek instant. Kita harus menghemat energy selama satu kepengurusan ini, agar kepengurusan Musholla ini lebih baik!!!.” Sengitku mencoba bertahan.
Syuro hari itu berlangsung sengit, banyak argument yang dilancarkan namun nampaknya sia-sia usaha teman-teman untuk meyakinkanku.
“Antum pernah bilang benci dengan model pengkaderan sekarang kan?” tiba-tiba Nina yang sejak tadi diam bersuara dari balik hijab
“Antum pernah bilang, itu adalah bentuk kedzaliman yang luar biasa bukan? Kalau kita tidak menghentikannya sekarang, kelak hal ini akan terus berlanjut.”
“Ingat akhi, jika seorang Muslim yang melihat kemaksiatan di depan matanya maka hendaklah ia menghentikan dengan Tangannya, jika ia tidak bisa maka hendaklah ia menghentikan dengan lisannya, jika ia tidak bisa maka hendaklah ia menghentikan dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman !!”

“Jika antum mau merubah keadaan itu, maka sekaranglah saatnya. Hentikan mata rantai kekerasan itu” Nina kembali memojokkanku
Saya tidak tahu harus berkata apa. Argumen Nina sudah cukup untuk membuat saya tidak berkutik. Saya menunduk, menghela nafas panjang lalu berkata
“Bismillahirrahmanirrahim, baiklah Saya menerima Jabatan Ketua Ospek”
“Alhamdulillah”
jawab teman hampir bersamaan
“Jangan khawatir akhi, antum tidak akan sendiri” Sambil memegang pundakku ilham coba meyakinkan

***

Penerimaan Mahasiswa baru selalu menjadi ajang perpeloncoan terhadap “junior” di kampus merah, sudah banyak korban berjatuhan, sudah menjadi menjadi rahasia umum tapi anehnya hal tetap menjadi tradisi tahunan tanpa ada usaha berarti dari pihak birokrat kampus untuk menghentikannya. Seakan-akan “pembelajaran” singkat ini harus dilalui maba sebagai tanda bahwa dia sudah menjadi mahasiswa. Ajang ini dibuat untuk membuat maba menjadi dewasa dan membuang segala sifat buruknya yang ia bawa dari SMA, padahal tidak ada yang menggaransi bahwa seniornya lebih dewasa dari anak SMA yang baru akan mencicipi bangku kuliah. Bahkan bibit permusuhan terhadap fakultas lain sudah dijejalkan ke kepala para calon akademia muda , maka tak heran Tawuran pun menjadi “trade mark” kampus terbesar di Indonesia timur ini. Namun semua itu harus dihentikan mulai dari sekarang, setidaknya itu tidak terjadi di jurusan kami, kami sudah berijtihad memutus mata rantai itu, dan teman-teman sendiri mengamanahkan saya untuk memimpin misi ini. Tapi ternyata memang tidak semudah membalik telapak tangan, rintangan pertama yang harus saya hadapi adalah teman angkatan dan senior tentunya.

“Aalah … tidak usah sok idealislah tiap tahun juga modelnya seperti itu” ucap Eric mengomentari konsep baru yang saya tawarkan
“Ini bukan masalah idealis atau bukan, tapi apa yang selama ini kita warisi itu keliru menurut saya, oleh karena itu konsep ini hadir sebagai alternatif”
“Konsep mu bagus, cuma terkesan terkesan terlalu memanjakan adik-adik” seloroh Rudi
“Maksudmu??” “Ya… pembelajaran mental tetap diperlukan untuk membuat mereka kuat” tambahnya lagi
“Kalau hal itu Saya tidak sepakat, kita semua pernah belajar ilmu jiwa dan mengintimidasi orang lain tidak akan membuat jiwanya kuat tapi sebaliknya malah akan membuat jiwa mereka kerdil” sengitku
“Lantas caranya bagaimana??”
“Kita ini calon perawat, perlakukan mereka sebagai manusia. Bukankah perawat melihat manusia secara holistik. Jangan sampai prilaku kasar perawat di rumah sakit adalah imbas perlakuan terhadap mereka kampus” sahut irul membelaku.
Perdebatan semakin sengit. Masing-masing kubu tetap bertahan pada pendiriannya. Saya sebenarnya sudah jenuh berdebat dari tadi.
“Begini, Konsep Sudah Saya Presentasikan di depan kemahasiswaan jurusan juga Pembantu Dekan III, bukan hanya mereka setuju tapi juga mewarning jangan sampai terjadi ‘sesuatu’ dalam prosesi ospek ini. JADI KALAU ADA YANG INGIN MERUBAH KONSEP INI SILAHKAN GANTIKAN SAYA SEBAGAI KETUA PANITIA !!!. ucapku dengan nada tinggi
Semuanya terdiam dan hanya saling menatap

***

Pendaftaran ulang mahasiswa baru sudah dimulai, gedung registrasi sudah disesaki calon mahasiswa yang ingin mendaftar ulang. Pengumuman sudah kami pasang, bahwa semua mahasiswa baru keperawatan harus menyetor biodatanya untuk mengikuti prosesi awal penerimaan mahasiswa baru. Selanjutnya panitia ospek secara bergiliran piket di himpunan jurusan untuk menerima mahasiswa yang mengembalikan biodatanya. Walaupun sudah disepakati dari awal bahwa kekerasan baik fisik maupun psikis harus diminimalkan namun tetap saja ada panitia yang membangkang dengan memarahi calon maba, dalihnya calon peserta yang mengembalikan formulir kurang sopan. “yang kurang sopan tuh kamu” gumamku Kalau sudah begini, saya harus turun tangan untuk mengawasi mereka. Suatu ketika saat teman-teman panitia sedang istirahat makan siang, saya masih tinggal di himpunan Karena ada yang harus diketik, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu
“Assalamu alaikum”
“Waalaikum salam”
jawabku, tampak seorang berjilbab biru berdiri di depan pintu
“Benar ini himpunan mahasiswa ilmu keperawatan kak?” tanyanya
“Iya, adek mau kembalikan formulir ya?”
“Iya kak, ini formulirnya” sambil menyodorkan selembar kertas
“Jangan lupa hari sabtu datang buat pra ospek, pake kemeja putih dan rok hitam”
“Jilbabnya?”

“Mmm… pake putih aja kali ya supaya matching”
“Makasih infonya kak, saya pamit dulu” ucapnya mohon diri
“Ya silahkan”
“Assalamu alaikum”
“Waalaikum salam”

Gadis itu pun berlalu, sejurus saya memperhatikan biodatanya, caranya berpakaian dan bertutur membuat saya penasaran ingin tahu pribadi anak ini. “Rani, SMU Samarinda, mantan pengurus rohis” gumamku
“Oo pantes cara berjilbabnya sudah bagus, saya yakin dia akan bergabung untuk memperkuat barisan dakwah dijurusan ini dan… anaknya lumayan manis”
“Astaghfirullah… “ ujarku buru-buru menepis segala pikiran aneh yang berkelebat Selanjutnya saya larut dalam ketikanku

***

Meskipun dari awal sudah di wanti-wanti agar pelaksanaan ospek bersih dari segala macam tindak kekerasan namun tetap saja terdapat satu-dua pelanggaran oleh panitia hal ini juga diperparah oleh peserta yang kadang melanggar aturan dan sebagainya. Tapi diatas semua itu kami bersyukur bahwa pelaksanan ospek tahun ini jauh berbeda dari tahun lalu, semangat perubahan yang kami wacanakan meskipun diawal banyak mendapat tantangan namun akhirnya bisa merubah cara pikir teman-teman bahwa kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan yang lain. Hal lain yang membuatku senang adalah pujian dari bapak PD III yang menilai peserta dari jurusanku lah yang paling rapi, dengan memakai baju biru dan bawahan putih, mahasiswa baru keperawatan terlihat sangat mencolok diantara devile mahasiswa lain yang berdandan seperti orang gila. Satu kata untuk pelaksanan ospek tahun ini. S.U.K.S.E.S !!

Selajutnya kembali aktivitas sediakala sebagai mahasiswa semester lima yang sibuk dengan tugas lab, juga sebagai pengurus himpunan. Kebagian divisi kemahasiswaan membuatku lebih banyak bereksperimen tentang metode pengkaderan dan juga lebih dekat dengan mahasiswa baru, salah satunya dengan Rani.

Setahun kemudian, seperti prediksiku di awal bahwa dia akan memperkuat barisan dakwah sangat tepat. Banyaknya kegiatan dan kepanitiaan membuatku lebih sering berinteraksi dengannya dan hal itu pula yang menyiksaku.
“Gimana dengan persiapan kegiatan minggu depan akhi?” tanyanya suatu ketika
“Tadi saya ketemu bagian kemahasiswaan, katanya proposalnya bisa dicairkan besok”
“Trus pematerinya?”
“Tinggal diingatkan aja lagi”
“Ok, nanti ana yang cek proposalnya”
“Jazakillah ukhti ya”

“Waiyyakum”
Entah senyawa apa yang dipancarkan akhwat ini yang terkadang membuat saya kikuk di dekatnya, senyumnya kemudian begitu menawan, tiba-tiba ia berubah menjadi sangat kharismatik di hadapanku. Hal yang jujur harus kuakui… Saya menyukainya

Perasaan itu semakin hari kian menggunung, puncaknya di suatu malam saya tidak bisa tertidur karena terus memikirkannya. Di sepertiga malam, aku lalu bangun membersihkan diriku, mengambil wudhu. Malam ini aku berniat mengadukan seluruh perasaan yang menderaku kepada Tuhanku yang saat ini turun sampai sepertiga langit. Selesai witir dan berzikir, aku duduk bersimpuh dan menengadahkan tanganku menyusun bait permohonan dengan berurai airmata, kiranya Dia mau mendengarkan keluhanku dan mengasihiku

“Ya Allah, sang pemilik kesempurnaan Hambamu Yang lemah dan hina ini memohon kepadamu

Ya Allah yang maha mengetahui Engkau tahu masalah yang kuhadapi saat ini Janganlah engkau menyiksaku dengan perasaan selain kepadamu Janganlah engkau jadikan cinta kepada mahluk melebihi cintaku kepadamu Jika ia memang jodohku maka bukakanlah pintumu dan mudahkanlah jalannya Jika bukan, engkaulah yang maha tahu yang terbaik untuk hambamu

Ya Allah yang maha pengampun Ampunilah dosa hambamu yang penuh nista ini Hamba tak tahu lagi kemana mengadu Jika sekiranya engkau pun meninggalkan hamba Hamba tak akan meminta engkau mengurangai beban ini Namun kuatkanlah bahu hamba untuk menerima cobaanMu Amin


Kututup doaku dengan menghapus air mataku, ada ketenangan yang mengalir dalam perasaan ku setelah mencurahkan segala perasaan ku dalam doa tadi.

***

Sejak malam itu aku bertekad menjadi seorang yang baru, tidak ingin larut dan tenggelam dalam perasaan yang menyiksaku. Aku larut dalam kesibukan yang segaja kubuat untuk sengaja menghilangkan perasaan yang bahkan dulu membuatku insomnia. Aku mulai mengambil jarak dengannya, bahkan mengurangi frekuensi kekampus atau minimal ke perpustakaan hanya karena tak ingin bertemu dengannya lantas membuka kembali lukaku. Toh yang kuhadapi sekarang tinggal skripsi dan saya harus konsentrasi untuk itu. Kalau sesekali bayangannya menggangu yang kulakukan adalah mengusirnya dengan memotivasi diri bahwa saya akan melamarnya setelah lulus nanti.

***

Selesai wisuda dan meraih gelar sarjana saya masih harus melanjutkan dengan pendidikan selama setahun di rumah sakit untuk meraih gelar profesi. Sebentar lagi saya akan sibuk berurusan dengan pasien, dan seabreg tugas yang mesti dikonsul ke dosen. Satu hal lagi karena tidak lagi sering ke kampus sehingga tidak akan bertemu Rani. Saat sedang asyik menulis rencana perawatan tiba-tiba HPku berbunyi, kulihat penelponnya.. Rani, kuambil nafas panjang lalu sejurus kemudian
“Halo Assalamul alaikum” jawabku
“Waalaikum salam” terdengar jawaban Rani dari sebelah
“Kakak punya waktu buat bicara tidak?” tanyanya
“Bicarakan apa ya?” jawabku penasaran
“Saya mau nanya kak, antum kenal dengan akh Fadli?”
“Hmm Fadli…Fadli.. yang dari fakultas teknik itu?”
ujarku
“Bukan, yang dari STAN”
“Oh iya kenal, afwan banyak sih teman ana yang namanya Fadli”
“Menurut antum orangnya gimana?”
“Maksudnya?”
“Jawab saja kak”
“Ya… ana pernah mabit dengannya, tilawahnya bagus, orangnya ramah dan agak lucu gitu”

Tiba-tiba yang terdengar adalah suara isak tangis dari telepon
“Halo… koq nangis?” tiba-tiba perasaanku tidak enak
“Kak… akh Fadli mengajak ana ta’aruf” sesenggukannya terdengar makin nyaring
Jlegg… Aku menelan ludah, samudera perasaanku yang tadinya tenang tiba-tiba berkecamuk, berubah menjadi pusaran air ganas yang siap menenggelamkanku. Tanganku bergetar hebat dan hampir saja HP ku terjatuh. Aku bungkam seribu bahasa, sejenak kemudian yang ada hanyalah hening. Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku, ditemani deru nafasku dan isak Rani. Aku menarik nafas panjang dan mencoba menguasai diriku
“Ya.. ba..gus kan” ujarku gagap
“Bagus apanya kak?”
“Ya…menurut ana tidak ada hal yang membuat anti bisa menolak lamaran akh Fadli”
“Apa..???”
seru Rani
“Saya ingin kakak jujur, kakak cinta Rani kan?!!”
Dadaku serasa ditindih beban berat…
“Dari cara kakak memperlakukan Rani, dari cara kakak berbicara dengan Rani Saya menyimpulkan kakak menyukai Rani kan??
“Jawab yang jujur kak!!”
ujar Rani setengah berteriak, lalu suara tangisnya semakin jelas terdengar
Rentetan pernyataan Rani benar-benar membuat saya terdesak, Saya seperti terdakwa di pengadilannya yang siap dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Lidahku serasa kelu, saya masih merasa di alam lain ketika Rani kembali membuyarkan lamunanku dengan pertanyaannya.
“Jawab Rani Kak!!!”
“Kalau emang iya, apa yang harus saya lakukan?”
entah mendapat kekuatan darimana saya bisa menjawab seperti itu
“Rani cuma minta kakak jujur kepada diri sendiri, berani memperjuangkan perasaan kakak dan berhenti jadi pengecut” kembali Rani menghakimiku
“Baiklah ana akan jujur, Ana menyukai anti sejak pertama kali kita bertemu, ana harus akui itu !. Antilah satu-satunya akhwat yang membuat ana menangis di sholat malam dan memohon untuk melupakan anti!” Rani masih terisak
“Lantas dengan alasan itu, apakah boleh ana meminta anti menolak ajakan akh Fadli lalu menunggu lamaran ana? Itu yang anti mau?!!!”
Rani terdiam, yang ada hanyalah sesenggukannya
“Ana akan seperti menikam teman dari belakang jika berbuat itu. Yang ana tahu Rasulullah melarang meminang perempuan yang sedang dipinang oleh saudaranya!!”
“Jadi sekarang ana akan mempertegas pernyataan ana. Tidak ada hal menurut ana yang bisa membuat anti menolak lamaran akh Fadli, toh kembali anti yang akan menentukan”
“Terserah anti menganggap ana pengecut ataukah pecundang, tapi akan menjadi lebih pengecut lagi kalau ana mendzalimi saudara ana sendiri”
***

Percakapan ditelepon itu adalah percakapan terakhirku dengan Rani. Entah saat itu saya menjadi pria paling berani ataukah pria paling bodoh karena merelakan akhwat yang kuidamkan menjadi milik pria lain. Yang jelasnya sebulan kemudian aku menerima sebuah undangan biru yang cantik bertuliskan Walimatul Ursy Fadli Jafar dengan Maharani Salsabila. Perasaanku remuk, ingin rasanya aku berlari ke pantai dan berteriak sekencang-kencangnya. Mengadu pada debur ombak bahwa betapa bodohnya aku.

Saya berhalangan ke Pesta walimahan itu karena bertepatan dengan jadwal jaga ku di rumah sakit. Entahlah ketidak hadiranku karena uzur itu ataukah karena tahu bahwa saya tidak akan sanggup melihat wanita dambanku bersanding dengan pria lain. Saya Cuma bisa menghibur diri dengan mengatakan jika ada cinta yang bisa kubagi saat ini, maka cinta itu adalah kepada pasienku, kepada orang-orang yang tergolek lemah di rumah sakit yang menanti uluran tanganku. Sembari menyusun kembali kepingan mozaik perasaanku yang berserakan tak beraturan.

Menjelang dini hari kembali saya mengadu ke ribaan sang khalik, menyusun untaian permohonan akan seluruh salah khilaf

Ya Allah Ya Azis Tiada sia-sialah engkau ciptakan jagad raya ini Maha suci engkau Engkau pemilik semesta alam

Ya Allah Ya Rahim Engkaulah yang paling tahu hal terbaik untuk hambamu Engkau telah menegurku agar tak melupakan cintamu Dan aku yakin Ya Hakim Bahwa engkau telah menyiapkan jodoh terbaik untukku Bahwa engkau telah menyiapkan bidadarimu untukku Dan dengan bangganya akan kupanggil dia… Istriku

MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT

Posted by Lentera on Selasa, 02 Februari 2010 , under | komentar (0)



Based on True Story.. ( is it true? -red.) Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak. Disinilah awal cobaan menerpa,setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin sekali merawat Ibu, semenjak kami kecil melihat Bapak merawat Ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir Bapak....... ..bahkan Bapak tidak ijinkan kami menjaga Ibu" .

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "Sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan Bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya. Kapan Bapak menikmati masa tua Bapak. Dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat Bapak, kami janji kami akan merawat Ibu sebaik-baik secara bergantian".

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka..."

Anak2ku ......... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin Bapak akan menikah..... .tapi ketahuilah dengan adanya Ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian..

Sejenak kerongkongannya tersekat,...

"Kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya Ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini."

"Kalian menginginkan Bapak bahagia, apakah batin Bapak bisa bahagia meninggalkan Ibumu dengan keadaanya sekarang,kalian menginginkan Bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain,bagaimana dengan Ibumu yg masih sakit."

Sejenak meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno. Merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno... Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu...

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi narasumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yg sudah tidak bisa apa2..

Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita...

"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya,mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata,dan dia memberi saya 4 oranganak yg lucu2.. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya... Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,"

* Dari seorang kawan nun di milist seberang sana... Semoga menginspirasi. ..

Lowongan Beasiswa ETOS

Posted by Lentera on Rabu, 13 Januari 2010 , under | komentar (0)



UNTUK ANDA ... CALON ORANG SUKSES INDONESIA !!!

Beastudi Etos membuka

SELEKSI NASIONAL BEASTUDI ETOS TAHUN 2010 SELEKSI Pendaftaran : 11 Januari 2010 – 11 April 2010 Quota penerimaan : 135 mahasiswa per tahun

Persyaratan Umum : 1. Lulus SMA/sederajat , dan akan masuk Perguruan Tinggi melalui jalur SPMB, UM, dan PMDK 2. Diterima pada PTN dan jurusan yang direkomendasikan Beastudi Etos

Persyaratan Khusus : 1. Berasal dari keluarga tidak mampu 2. Melampirkan surat keterangan tidak mampu dan slip gaji/surat keterangan penghasilan dari ketua RT atau DKM setempat 3. Daftar Riwayat Hidup (bisa didownload dari www..lpi-dd. net) 4. Mengisi dan menandatangani akad Beastudi Etos (bisa didownload dari www.lpi-dd.net) 5. Fotokopi raport SMA semester 1 – 5, STTB, Kartu Keluarga, KTP, atau Kartu Pelajar 6. Foto 4 x 6, 2 lembar 7. Foto rumah (tampak keseluruhan, dan bagian dalam) 8. Membuat tulisan tentang perjalanan kisah hidup

DAERAH PROGRAM Program Beastudi Etos eksis di 11 universitas yang tersebar di 9 kota di Indonesia :

1. Universitas Andalas Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Industri, Teknik Lingkungan, Teknik Sipil, Farmasi, Manajemen, Ilmu Peternakan, Sosek Peternakan, Produksi Ternak, Teknologi Hasil Pertanian, Hukum, Agribisnis, Akuntansi

2. Universitas Indonesia Teknik elektro, Teknik mesin, Teknik Industri, Teknik Arsitektur, Teknik Kimia, Teknik Metalurgi, Teknik Sipil, Teknik Komputer, Teknik Perkapalan, Teknik lingkungan, Ilmu Komputer, Sistem Informasi, Ilmu kesehatan masyarakat, Ilmu gizi, Ilmu perpustakaan, Sastra Inggris, Psikologi, Ilmu Hukum, Hubungan Internasional, Ilmu Komunikasi, Ilmu Administrasi Fiskal, Ilmu Administrasi Niaga, Akuntansi, Manajemen, Ekonomi Pembangunan, Ilmu Keperawatan, Farmasi.

3. Institut Pertanian Bogor Manajemen Sumberdaya Lahan, Agronomi Dan Hortikultura, Hama dan Proteksi Tanaman, Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Manajemen Sumberdaya Perairan, Ilmu Teknologi Kelautan, Teknologi Hasil Perairan, Ilmu Produksi Teknologi Peternakan, Teknologi Hasil Hutan, Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Silvikultur, Teknik Pertanian, Teknologi Pangan, Teknologi Industri Pertanian, Statistika, Geofisika dan Meteorologi, Ilkom, Agribisnis, Manajemen, Ilmu Gizi

4. Universitas Padjajaran Ekonomi Studi Pembangunan, manajemen, akuntansi, hukum

5. Institut Teknologi Bandung Fakultas Pertambangan dan Perminyakan, Fakultas Teknologi Industri, Sekolah Elektro dan Informatika, Fakultas Sipil dan Lingkungan, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pembangunan Kota, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, Sekolah Farmasi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian.

6. Universitas Diponegoro Teknik Kimia, Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Industri, Teknik Sipil, Pendidikan Dokter, Kesehatan Masyarakat, Psikologi, Nutrisi dan Makanan Ternak, Ilmu Perikanan.

7. Universitas Gajah Mada lmu Keperawatan, Gizi Kesehatan, Farmasi, Ilmu Komputer, Geofisika, Elektronika dan Instrumentasi, Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Fisika, Teknik Nuklir, Teknik Kimia, Teknik Industri, Teknik Sipil dan Lingkungan, Teknik Geologi, Teknik Geodesi, Teknik Arsitektur, Perencanaan Wilayah dan Kota, Kartografi dan Penginderaan Jauh, Pembangunan Wilayah, Agronomi, Budidaya Perikanan, Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, Manajemen Sumber Daya Perikanan, Pemuliaan Tanaman, Sosial Ekonomi Pertanian, Teknologi Hasil Perikanan, Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Ilmu Tanah, Ilmu dan Industri Peternakan, Konservasi Sumber Daya Hutan, Teknologi Hasil Hutan, Teknik Pertanian, Teknologi Industri Pertanian, Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Kedokteran Hewan, Psikologi, Ilmu Hubungan Internasional, Ilmu Komunikasi, Ilmu Hukum, Sastra Inggris, Akuntansi, Manajemen, Ilmu Ekonomi.

8. Universitas Airlangga Pendidikan Dokter, Ilmu Hukum, Akuntansi, Manajemen, Ekonomi Pembangunan, Farmasi, Pendidikan Dokter Hewan, Ilmu Komunikasi, Ilmu Hubungan Internasional, Kesehatan Masyarakat, Psikologi, Ilmu Keperawatan.

9. Institut Teknologi Sepuluh November Teknik Sipil, Teknik Elektro, Teknik Industri, Teknik Informatika, Teknik Kimia, Teknik Mesin, Teknik Kelautan, Teknik Perkapalan, Teknik Sistem Perkapalan.

10. Universitas Brawijaya Teknik Sipil, Teknik Mesin, Administrasi Niaga, Ilmu Hukum, Akuntansi, Ekonomi Pembangunan, Manajemen, Pendidikan Dokter, Teknik Informatika, Teknik Hasil Perikanan.

11. Universitas Hasanuddin Farmasi, Kesehatan Masyarakat, Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik perkapalan, Teknik geologi, Teknik pertambangan, Akuntansi, Ekonomi pembangunan, Manajemen, Ilmu hukum, Ilmu pemerintahan, Administrasi Negara, Ilmu Hubungan Internasional, Ilmu komunikasi, Agronomi, Sosek Pertanian, Teknologi Hasil Pertanian, Produksi Ternak, Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan, Geofisika.

Bukan puisi cinta

Posted by Lentera on Minggu, 03 Januari 2010 , under | komentar (0)



Surat buat akh zul yang sedang bersanding di pelaminan
Tersenyum bahagia penuh kemenangan
Tapi bagi kami adalah sebuah kesedihan
Karena kehilangan seorang investor dermawan
Yang sering ngajak makan ayam
Di lesehan pinggir jalan

Sehabis ramadhan berkunjung ke rumahan
Nyantap kari ayam campur kentang
lagi asik makan …
Ditegur sama induk semang
Karena belum menyelesaikan undangan
Padahal jadwalnya sudah dekatan
Tapi dengan entengnya akh zul bilang…
“Nggak usah khawatir kawan…”
Mending kita ke lantai dua main PS-an
Nanti saja kerjanya belakangan

Malamnya pergi ke Mall panakukkang
Nonton KCB di twenty one
Duduk agak dibelakang sambil cekikikan
Karena ada adegan
Si Azzam ngelamar Asmirandah anak kedokteran
Padahal zul juga demikian

Tapi yang jelasnya antum sudah memberikan pelajaran
Bagi kami para bujangan
Yang kadang masih memendam kecemburuan
Karena melihat ikhwa lain bergandengan tangan
Dan berboncengan dengan akhwat idaman
Padahal kami sudah tak tahan
Namun apa daya kami masih anak kuliahan
Yang masih mendapat subsidi silang
Dari orang tua di kampung halaman

Terkadang kami ingin mengajukan proposal lalu ta’arufan
Agar tak lagi ada perasaan deg-degan
Jauh-jauhan sambil menundukkan pandangan
Hanya karena dengan akhwat jalan berpapasan
Namun kami masih bermasalah dengan persiapan dan keberanian
Padahal kami sudah jenuh sendirian
Bosan menjadi panitia walimahan
Pulang dan kedinginan di kos-kosan
Baju kotor bergelantungan
Dan menumpuk karena tak ada yang mencucikan

Tahun depan kami memendam harapan
Kiranya sudah tiba giliran
Tak lagi bangun sendirian di tengah malam
Sahalat tahajud ada yang menjadi makmum di belakang
Do’a pun ada yang setia mengaminkan
Untuk itu mohon murobbi memberikan kelonggaran
Agar bisa memilih sesuai “keinginan”
Melanjutkan kisah anak Adam
Berdua mengarungi bahtera kehidupan
Meraih ridho dan cinta Tuhan….

Kutulis surat ini di sebuah malam
Sepekan setelah lebaran
Di sebuah kampung bernama lembang parang
Yang kemarin ramai ditonton orang
Karena masuk kabar petang di TV one
Dengan judul “Oknum TNI aniaya warga lalu memicu kerusuhan”

Kenang kenanga

Posted by Lentera on , under | komentar (0)



Love of my life don’t leave me You broken my heart and now deserve me Love of my life can’t You see Bring it back Bring it back Don’t take it away from me because You don’t know what it means to me

Jarum jam berhenti berdetak, waktu serasa berhenti berputar dan jagad raya pun seakan terdiam, ikut mendengarkan sebuah nyanyian tulus seorang perempuan yang mengungkapan perasaan hatinya. Hari itu Nina dengan anggunnya memakai baju pink dipadu dengan bawahannya yang berwarna krem, rambut lurus yang tergerai indah membuatnya semakin mencolok diantara temannya. Lagu scorpion dibawakannya dengan penuh penjiwaan, karena merasa lagu itulah kisah hidupnya. Sayang, Nina melantunkan lagu tidak diiringi tepuk tangan meriah karena dia tidak sedang bernyanyi di café, bukan pula diatas panggung, namun di sebuah ruangan bernama kenanga, salah satu bangsal intermediate di rumah sakit jiwa. Ya hari itu Nina dan rekan-rekannya sedang mendapatkan terapi aktivitas kelompok dari kami mahasiswa praktek profesi Ners Unhas, sebuah terapi yang di berikan bagi penderita halusinasi yang mulai bisa diajak bekerjasama. Hari itu dengan tulusnya Nina menceritakan kisahnya, tak sedikit pun kilatan kebohongan di bening indah matanya, pandangannya yang kosong menyiratkan derita yang ia tanggung, wajah ayunya pun sudah lenyap ditelan beban duka yang rasakan selama ini. Nina pernah menyandarkan bahtera perasaannya pada sebuah pelabuhan hati, berharap ia menjadi persinggahan terakhirnya, berharap ia menjadi temannya mengarungi samudera kehidupan, tempat bernaung ketika ia lelah, menjadi sahabatnya bercerita dan berbagi hari yang telah dilewatinya. Namun sang belahan jiwa ternyata akhirnya memilih berlayar dengan nakhoda lain, meninggalkan Nina yang hancur dilamun ombak harapan yang dibuatnya, terlalu berangan-angan malah tidak mendapatkan apa-apa. Nina seakan tidak percaya kejadian yang menimpanya, ingin tampak tegar namun menderita nelangsa tak berkesudahan. Terlalu sakit, terlalu dalam sampai terekam kuat di alam bawah sadarnya dan membelah jiwanya. Tanpa sadar dia membuat teman fantasi yang setia menemaninya, yang ia bisa ajak bercerita, yang ia yakin tidak akan meninggalkannya. Prilakunya semakin aneh, ia kadang berbicara, tertawa dan menangis tanpa sebab. Dia mengaku melihat adiknya yang sudah meninggal dan dia bahkan mengaku sering diajak kencan oleh pacarnya yang sebenarnya sudah menikah dengan orang lain. Sikapnya yang periang berubah menjadi pemurung, yang ramah tiba-tiba mudah tersinggung, tidak mau makan, tidak mau minum dan mengunci diri dalam kamar. Hal yang kemudian membuatnya terdampar di sebuah ruangan yang sebenarnya lebih mirip penjara daripada bangsal perawatan dengan diagnosa Schizofrenia

***

Kisah Nina hanyalah satu dari sekian penghuni setia “Villa Lanto Dg pasewang”. Tak terlihat kekurangan satupun dari luar namun sebenarnya api sekam melahap jiwa perlahan-lahan. Tak mampu mengatasi problem hidup, tak kuasa keluar dari masalah akhirnya berujung pada gangguan jiwa. Hal tersebut diperparah dengan pengetahuan minim masyarakat tentang bagaimana mengenali dan mencegah dini terjadinya penyakit jiwa, yang terjadi kemudian adalah stigma bahwa penyakit ini adalah aib maka tak jarang klien yang datang dibawa ke “Hotel belakang sahid” adalah klien kronis dengan riwayat kriminal, mengamuk, melukai orang, membakar rumah, keliling kampung tanpa busana dan bahkan menghilangkan jiwa manusia. Mungkin masih segar ingatan kita, bagaimana seorang ayah tega menghabisi nyawa istri dan anaknya beberapa tahun lalu di Kabupaten Pangkep hanya karena “merasa ada orang yang menyuruhnya”, bagi masyarakat di sekitarnya berkembang opini bahwa sang bapak tadi penganut aliran tertentu dan semua korban adalah tumbal dari bisikan gaib sang empunya, bagi kami inilah yang disebut halusinasi, suatu kondisi dimana seseorang merasa mendengar, melihat atau merasakan sesuatu tanpa ada stimulus yang sebenarnya.

***

Tujuh puluh persen klien yang dirawat disini adalah klien kambuhan. Membaik setelah dibawa pulang namun kembali sebulan kemudian dengan kondisi yang sama. Bukan sebuah kebanggaan bagi kami para perawat ketika para klien kambuhan berteriak “Ners, datang ma seng !” karena kami tahu ada yang salah dilingkungan tempat tinggalnya. Ketika klien dinyatakan sembuh dan dijemput pulang keluarganya, sesampai di rumah dan lingkungannya, tetap diperlakukan sebagai orang sakit, dijauhi atau tidak dibiarkan oleh keluarganya bersosialisasi, dikurung, dipisah kamar maupun tempat makannya, tanpa dukungan, alhasil kesendirianlah yang menemaninya dan kembali mengantarkannya ke tempat semula. Ataukah klien abadi di rumah sakit, yang sembuh pun sudah tidah dijemput lagi oleh keluarganya bahkan sampai menulis alamat palsu agar tidak di datangi petugas rumah sakit. Jadilah klien ini inventaris rumah sakit menambah sesak jumlah penghuni bangsal. Tiga bangsal perawatan diisi oleh + 300 klien dengan jumlah tenaga per shift jaga cuma tiga orang, sungguh jumlah yang sangat tidak logis. Bayangkan, Seorang perawat menangani 30 orang !!!. Hasil riset WHO tahun 2000 mengatakan, dari populasi masyarakat terdapat 10 % yang mengidap gangguan jiwa dan 10 % diantaranya mengalami gangguan jiwa berat. Jadi jika penduduk Sulawesi Selatan berjumlah 5 juta jiwa berarti 500 ribu diantaranya mengidap gangguan jiwa dan 5000 orang mengidap gangguan jiwa berat, sedangkan yang terdaftar di rumah sakit hanya 300 orang, pertanyaannya dimana sisanya? Mungkin yang sering kita lihat berkeliaran di jalan?, mungkin ada di sekitar kita?, atau mungkin kita sendiri sudah mengalami gangguan jiwa berat tanpa kita menyadarinya. Bahkan dengan jualan kesehatan gratis pemerintah propinsi tidak membuat perbaikan berarti di sektor kesehatan jiwa. Ah, negeri ini sudah seperti benang kusut, terlalu banyak masalah yang harus diselesaikan dan kesehatan jiwa bagi pemerintah mungkin bukan menjadi perkara penting yang harus diselesaikan, padahal sejak SMP kita sudah didoktrin oleh guru penjaskes dengan pepatah “Men sana In corpora sano” dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Kalau jiwanya yang sakit apakah tubuhnya akan sehat? Selamat datang di negeri seribu ironi.

***

Hari ini aku bangun menantang matahari. Ada kesegaran terasa menghirup udara pagi yang masih steril dari polusi lalu beranjak ke kamar mandi membasahi tubuh. Dingin, segar menjalar mengaktifkan neuron sensori lalu bersiap mengarungi hari. Tidak ada kendala berarti dalam perjalanan kecuali sedikit macet di daerah Rappocini, maklumlah jalan sempit yang digunakan dua arah ditambah ulah sebagian pengendara yang agaknya harus lebih sopan ketika berada di jalan. Sampai di lapangan parkir kutengok jam tanganku 7.30, lumayan 30 menit perjalanan, masih punya waktu 30 menit untuk sekedar bersantai sebelum beraktivitas. Lalu Berjalan gontai dari parkiran menuju bangsal perawatan, sebuah gerbang besar menyambutku, bunyi decit besi beradu terdengar ketika kudorong gerbang itu menandakan besi segagah itupun butuh perhatian. Di balik gerbang, dikiri-kanannya terdapat taman yang hijau dan rindang, sayang harus tercemar oleh jemuran pakaian dan kasur yang berbau pesing. Melangkah masuk, tegel basah dan sedikit becek menyapa. “Baru habis dipel kayaknya” gumamku Kulayangkan pandangan ke seluruh ruangan, beberapa klien sedang berdiri dan memegang jeruji pintu besi dengan pandangan kosong, mirip narapidana yang akan divonis mati oleh pengadilan. Tiba-tiba “Astaghfirullah…” dua orang klien perempuan mondar-mandi dalam ruangan itu tanpa memakai atasan dan bawahan, cuek, seperti tidak peduli dengan yang ada disekitarya. Saya buru-buru menoleh lalu bergegas keluar. “Ya Allah… hari ini kumulai hari dengan optimisme tinggi berharap hari ini lebih baik dari kemarin, tapi belum apa-apa pemandangan seperti itu sudah menyambutku” “Gimana saya menjaga hati kalau terus seperti ini?” desahku Masih asik menerawang tiba-tiba sebuah suara memanggilku “Selamat pagi kak” “Selamat pagi” refleks aku menoleh ke arah suara tadi “Eh Reni, segar sekali kelihatannnya “ “Iya kak, saya sudah mandi, sudah sikat gigi, sudah pake sampo dan sudah mencuci” ucapnya dengan gaya yang manja seperti anak-anak “Bagus dong kalau kayak gitu” ujarku memuji Reni adalah klien kelolaanku, anak ini sudah mendingan dibandingkan yang lain, makanya lebih bebas berkeliaran. Usianya baru 16 tahun namun sudah termasuk penghuni lama di rumah sakit ini. Dia ditemukan dijalan oleh pamong praja. Jika ditanya tentang keluarganya dia akan diam lalu dengan lirih menjawab “Saya tidak suka melihat orang tua saya bertengkar” Masih larut dalam khayalanku, Reni kembali bertanya “Besok masih jaga kan kak?” Aku terdiam, keakrabanku dengannya membuatku susah untuk berterus terang. “Besok masih kesini kan?” kembali di mengulang pertanyaannya Kutatap mata anak itu lekat “Tidak Reni” “Ini hari terakhir kakak disini dan besok sudah pindah kebagian lain” ujarku mendesah Mata Reni berkaca-kaca “Baik-baik ya selama disini” pesanku “Iya kak jawabnya lirih” Kuseret langkahku menuju gerbang, sejenak berbalik kebelakang, sebuah tulisan jelas terpampang “KENANGA”. Selamat tinggal kenanga, Aku akan tetap mengenangmu sebagai liku kehidupan yang pernah kulewati dan mengajariku satu hal. Mensyukuri apa yang diberikan Allah dan menghargai mahluk ciptaannya