Belajar dari dua lelaki
Lelaki pertama
Garis tua tampak terukir jelas di muka lelaki itu, rambutnya berlomba memutih dan menipis, tampak jelas meski ia menutupinya dengan kopiah yang juga sudah menguning dimakan usia. Masih tampak sisa bidang bahu serta kekar badannya.
Lelaki itu sangat menyayangi cucunya, hal yang pertama dia ajari ketika cucunya belajar berjalan adalah berjalan ke mesjid, hal pertama yang dia ajari ketika cucunya belajar berlari adalah berlari menyambut azan. Selalu meminta cucunya mengumandangkan azan meski cadelnya minta ampun karena belum fasih mengucapkan huruf “R”, jadinya azan yang seharusnya terdengar syahdu malah kedengaran lucu. Tapi tidak ada yang berani komplain, karena lelaki tua itu adalah imam mesjid dan tokoh masyarakat yang dihormati. Selepas salam cucunya selalu bermanja-manja di pangkuan hangat sang kakek, kemudian lelaki itu akan membelai dan mengecup kening cucunya penuh cinta. Hal yang paling cucunya ingat dari kata-katanya ketika berantem dengan adek yang perempuannya adalah “Nak, kamu harus bisa mengalah pada perempuan” ucapnya bijaksana
Lelaki kedua
Perawakannya putih tinggi besar, kumis, cambang dan janggut semakin menegaskan kelaki-lakiannya, orang terkadang menebak dia blasteran Manado- timur tengah, padahal keturunan Makassar tulen. Pembawaannya tegas, penampilannya berwibawa, orang akan mendengar apa yang ia katakan karena dia seorang muballigh dengan kualitas vokal mumpuni, pidatonya sarat muatan sastra, pemilihan katanya sempurna. Kami semua menyayanginya tapi penciptanya lebih menyayanginya, terlalu cepat memanggilnya kembali karena tak ingin hambanya dikotori oleh dosa.
Suatu ketika anaknya berkelahi dan orang tua lawannya ikut-ikutan membantu, sang anak pulang menangis dan mengadu pada lelaki tersebut, sang ayah mengelus kepala anaknya lembut lalu berkata “ kami tidak akan mencampuri urusanmu seperti orang tua lain, kamu harus belajar menyelesaikan masalahmu sendiri” anak itu tertegun tidak percaya yang dikatakan ayahnya, “kenapa ayahku tidak seperti orang tua lain yang membela anaknya” gumamnya “ayah tidak sayang padaku” anak itu lalu berlari menangis ke pangkuan ibunya.
Lelaki mengajari anaknya memikul tanggung jawab sejak kecil.
Lelaki pertama itu adalah kakekku dan yang kedua adalah ayahku. Mereka berdua telah tiada namun ajarannya akan selalu hidup. I Love You GranPa, I love You Pa, You’ll always live in my heart….
Tamalanrea 100310
Fly me to polaris
Lagi asik-asik surfing di indowebster nyari-nyari film tiba-tiba ingat sebuah film lama, pas ketik di search enginenya eh ada, cihuiiii. Langsung aja download jadinya
Fly me to polaris, sebuah film drama Hongkong yang bercerita tentang seorang Onion yang buta dan bisu dengan Autumn sebagai perawatnya. Latar belakang cerita ini adalah sebuah rumah sakit dimana Onion adalah Pasien dan Autumn adalah perawatnya, mereka sangat akrab, Onion senang karena ada yang peduli dan memperhatikannya sedangkan Autumn gembira karena ada yang selalu bersedia menjadi tempat keluh-kesahnya, hal yang kemudian mereka tidak sadari bahwa mereka saling membutuhkan dan menyukai satu sama lain. Perasaan itu justru muncul ketika Onion sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan.
Dalam perjalanan menuju Polaris (surga, red) ternyata Onion mendapat jackpot karena menempati antrian ke 10 milyar, dan setiap jiwa yang mendapat jackpot akan dikirim kembali ke bumi selama 5 hari dengan jiwa yang sama namun beda fisik dengan kata lain seseorang tak akan mengenalinya dan ia tidak dapatmengungkapkan identitas aslinya meski berusaha untuk itu.
Onion kembali ke rumah sakit tersebut mengulangi semua nostalgia, melihat semua lekuk rumah sakit yang selama ini hanya bisa ia raba, menyapa seluruh penghuni rumah sakit yang selama ini hanya bisa ia kenali lewat aromanya namun sesuai perjanjian dengan malaikat sebelumnya karena ia menggunakan raga yang berbeda maka tak seorang pun yang mengenalinya.
Onion lalu menyamar sebagai Cheuk, pegawai asuransi agar bisa menemui Autumn. Dengan segala upaya ia berusaha meyakinkan Autumn bahwa ia adalah Onion, namun setiap akan mengungkapkan jati dirinya ia selalu kejang seperti orang yang menderita epilepsy. sampai menulis surat dan membuat rekaman tape, namun ternyata tulisannya terhapus dan rekamannya kosong, hal lainyang mempersulitnya adalah Dr Woo yang selama ini memberinya therapy menjadi saingannya dalam merebut hati Autumn.
Di hari terakhir Onion di bumi autumn baru menyadari bahwa ia merasakan Onion kembali dikarenakan hal-hal janggal yang dialaminya akhir-akhir ini, puncaknya ketika Autumn mendengar bunyi Saxophone seperti yang biasa ia dengar, namun yang didapatinya adalah Dr Woo yang memainkan Saxophone tsb. Sampai akhirnya Dr Woo berterus terang bahwa bukan dia yang memainkan alat tersebut tapi cheuk. Malang bagi Onion, bahwa malam itu adalah malam terakhirnya di bumi dan begitu meteor muncul ia akan terbang kembali ke Polaris. FLY ME TO POLARIS
Aku, kamu dan kita
Pusing banget… sudah tiga kali saya ulangi video yang saya buat masih aja ada masalah. Mulai dari komputernya sering hang, jenis extensi filenya ngga terbaca, sampai programnya ngadat dan mesti install ulang. Tapi akhirnya setelah menggabungkan tiga program plus mencobanya di tiga computer selama tiga kali 24 jam (lebay deh kayaknya…ngga papa biar lebih dramatis he.he..)
akhirnya filenya siap di render, dan rendernya lamaaaa……. Banget, uhuk..uhuk (batuk karena terlalu lebar buka mulut ngucapin “A”). daripada mati bosan nunggu filenya yang selesai entah kapan iseng-iseng buka file computer aswadi (sory aswadi, boring banget soalnya… piss) eh ternyata ada folder film, Hmm boleh juga nih sambil nunggu nonton film. Baru buka foldernya ada tulisan “U ME AUR HUM.flv” film apaan nih?? Ini plesetan bahasa inggris kali “YOU ME OUR HOME” tapi kok grammarnya hancur gini yak? Klik kanan trus open…. Ternyata… ternyata…. FILM INDIA?? Gosh.. masa udah boring kayak gini ditambah nonton film india lagi apa kata dunia??. Seumur umur saya Cuma nonton film india Kuch-kuch hota hai itupun kepaksa, sebenarnya mau nonton liga inggris tapi kalah voting sama ibu, kakak n adek, tapi sebenarnya saya juga penasaran karena disekolah waktu SMA pernah cewek-cewek mulai dari kelas 3 sampai kelas satu duduk manis nonton bareng, padahal biasanya mereka rival, ada apa ya? Oh.. ternyata mereka pada nonton Kuch-kuch hota hai.
Eh tapi ternyata ceritanya bagus lho, gini deh saya ceritakan.
Di suatu pagi yang cerah, seorang pria bernama Ajay menasehati putranya untuk berani mengejar wanita yang disukai. Siapa sangka, sang putra malah menantang balik supaya Ajay juga berani melakukan hal yang sama.
Ajay lalu mendekati sebuha meja dimana seorang perempuan seumurnya duduk, dengan segala gombal dan rayuan agar perempuan itu mau duduk dengannnya, akhirnya perempuan itu bersedia duduk dengannya untuk mendengarkan ajay bercerita. Dan cerita film ini baru saja dimulai…
Cerita mundur ke 25 tahun silam, ketika Ajay muda tengah bertamasya bersama empat orang sahabatnya : suami-istri yang tidak bahagia Nikhil dan Reena serta pasangan yang tidak menikah namun selalu bahagia Vicky dan Natasha.
Dalam perjalanan tersebut, Ajay bertemu dan jatuh cinta pada gadis cantik bernama Piya. Meski mendapat penolakan, Ajay tidak menyerah dan mencoba dengan segala cara untuk memenangkan hati Priya. Belakangan, pemuda itu mendapat info kalau gadis yang dicintainya sangat ingin belajar dansa.
Taktik Ajay berhasil, Priya akhirnya menerima cinta pemuda itu. Namun tidak lama kemudian, Priya berbalik marah saat mengetahui kalau Ajay telah mengintip buku hariannya sehingga bisa tahu kalau gadis itu ingin belajar dansa.
Sebelum keduanya kembali dari liburan, Ajay meninggalkan nomor teleponnya sambil berharap Priya mau menerimanya kembali. Tidak cuma itu, Ajay juga melakukan banyak hal yang tidak disukainya hanya demi memenangkan kembali hati Priya.
Semua pengorbanan Ajay tidak sia-sia, pemuda itu akhirnya bisa menikah dengan Priya.
Ajay dan Piya saling mencintai satu sama lain, dan mereka segera memulai daftar keinginan, yang mereka tulis di dinding kamar tidur mereka. Yang pertama ingin adalah pergi berlibur dengan kapal pesiar 25 tahun mereka. Tapi setelah beberapa bulan semua berubah ketika Piya pergi keluar untuk berbelanja, tapi lupa segala sesuatu, termasuk di mana dia tinggal. Ketika ia menjerit minta tolong di tengah jalan di tengah hujan, Ajay menemukan dirinya dan mengatakan kepadanya rumah mereka berada tepat di depannya. Mereka pergi ke dokter dan mengetahui Piya menderita ALZHEIMER !!! sebuah penyakit yang Ajay tahu artinya, karena ajay adalah seorang psikiater, Alzheimer adalah suatu keadaan dimana Hipokampus (pusat memori dan navigasi ruangan) bermasalah, ingatan seseorang bisa merosot tajam dan yang terparah hingga pengidapnya tidak mampu mengurus diri sendiri. Sebuah kenyataan yang sulit bagi ajay, akrena hasil CT Scan menunjukkan hipokampus Piya menyusut. Perlahan piya mulai lupa alamatnya, lupa nomer HPnya, lupa nama suaminya dan lupa segalanya, kadang suatu dari dia terlihat sehat wal afiat tapi esok hari bahkan tidak tahu kapan tanggal lahirnya.
Masalah tidak berhenti disitu saja, piya ternyata hamil. Namun kabar bahagia yang seharusnya diterima ajay justeru berubah jadi malapetaka, karena kehamilan bisa menjadi katalisator bagi penyakit istrinya. Ajay berada dalam sebuah dilema, melanjutkan kehamilan istrinya atau menggugurkannya… selain dampak buruk kehamilan bagi alzhaimer, juga efek samping pengobatan Piya terhadap kehamilnnya juga terlalu besar. Namun piya bersikeras tidak ingin aborsi. Jadi, sementara Piya hamil, Ajay harus terus menutup mata pada dirinya atau lain Piya bisa menyakiti bayi.
Dengan berjalannya waktu, bayi lahir, dan kondisi Piya memburuk, dia bahkan hampir membunuh anaknya hanya karena lupa dan meninggalkannya di kamar mandi. Kembali ajay dihadapkan pada buah simalakama Akhirnya, Ajay tidak memiliki pilihan lain kecuali untuk meletakkan Piya di rumah sakit jiwa untuk dirawat. Ajay terluka, tetapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.. Sebuah komitmen yang dibangun berlandaskan cinta tidak akan dilanggar. Tapi kalau dalam keadaan seperti itu apa yang bisa dilakukan Suami yang sayang terhadap istrinya yang menderita penyakit langka tersebut?
Tiap hari ajay berkunjung ke rumah sakit hanya untuk mengatakan “I LOVE YOU” pada istrinya, hingga suatu hari di ulang tahun pertama anaknya tiba-tiba semua memori Piya kembali dan berteriak-teriak memanggil sumainya dan minta pulang, tapi ajay membiarkannya disana karena berpikir itu hanya reaksi sesaat. Pulang dari rumah sakit ajay melapiaskannya di bar, entah dia mabuk atau memang nurani kecilnya yang bicara, di bar di bercerita betapa dia kesusahan harus setiap hari mengurusi istrinya dan betapa berbahanya meninggalkan anak dengan istrinya. Namun di luar batin ajay hancur berkeping-keping, dia menangis sangat rapuh. Namun akhirnya ia membuat keputusan penting, bukan karena istrinya membutuhkan dia namun karena ia butuh istrinya, apapun resikonya.
Dan tahukah anda? Wanita yang ditemani cerita oleh seorang bapak yang bertaruh dengan anaknya adalah Piya, dan hari itu adalah 25 tahun pernikahannya dan mereka sedang berbincang-bincang diatas kapal. Ajay menepati janjinya untuk membawa istrinya berlayar di 25 tahun pernikahannya…
PSM Vs MU
Ribuan massa berdesak-desakan di gerbang masuk stadion, aksi dorong pun tak terelakkan, polisi kelabakan mengatur antrian pennonton dan meminta agar lebih bersabar, dengan penuh perjuangan akhirnya saya bisa bernafas lega masuk ke area tribun meski harus berdiri karena tak kebagian tempat.
Terasa aliran energy yang begitu dahsyat, ribuan supporter memerahkan Mattoanging, mercon merah terbakar ke udara, yel-tel The Macz Man semakin membuat riuh suasana, sebuah spanduk membentang panjang dengan tulisan “SELAMAT DATANG DI STADION NERAKA”. Pengalamanku hari ini adalah pengalaman pertamaku menginjak stadion kebanggaan Sulawesi Selatan, dan pasukan ramang yang begitu dipuja para pendukungnya akan turun ke arena menghadapi rival abadinya sejak era perserikatan PERSEBAYA SURABAYA, itulah kenapa animo penonton sangat besar hari ini, tak ada ruang tersisa di tribun terbuka, selain faktor bahwa laskar ayam jantan baru saja memetik poin empat dari turnya ke papua, seri lawan PERSIWA dan menang atas PERSIPURA, ditambah rasa penasaran para penonton ingin menyaksikan trio latin PSM yang baru, Jorge Toledo, Oscar Aravena dan Christian Gonzales. Psywar yang dilancarkan kubu tuan rumah akan menghancurkan mental yang tak tahan tekanan dan hal itu terbukti ampuh, tarian sang jenderal lapangan Toledo didukung dua midfielder nasional Syamsul Haeruddin dan Ponaryo Astaman yang kala itu masih berambut gondrong, memanjakan dua predator ganas Oscar dan El loco Gonzales. Malam itu Laskar bajul ijo bertekuk lutut dengan tiga gol tanpa balas, dua dari Oscar dan satu dari El loco. Gegap gempita stadion membahana, bahkan salah seorang supporter berseloroh, “Jangan kata persebaya, AC Milan atau Manchester United pun yang datang kesini akan pulang dengan tangan hampa” sebuah pertanyaan hiperbolis, namun harus diakui malam itu permainan PSM sangat indah dan menjadi hiburan bagi penggemarnya.
Namun itu cerita lalu, sekarang begitu gampangnya tim tamu mencuri poin bahkan mempecundangi PSM di depan pendukung fanatiknya, stadion tak lagi angker, Mattoanging tak lagi bertuah. Nama besar PSM bukan lagi magnet bagi pemain untuk datang merumput ke Makassar, Pasukan ramang pun tak diperhitungkan lagi masuk bursa juara. Niat baik pengelola untuk membina pemain muda lokal patut diapresiasi, namun kesalahannya adalah pengelola lupa pepatah sepakbola yang mengatakan tidak ada tim juara dengan kumpulan besi tua, juga tak ada tim juara dengan materi anak kemarin sore, jika pengelola ingin mencontoh The Red Devils, maka Sir Alex menggabungkan antara pemain senior dan pemain muda.
Pengelola tak sepenuhnya salah, para pemain pun harusnya tahu diri, tiap musim meminta kenaikan gaji di lain sisi tak kunjung memberikan prestasi padahal dari APBD mendapat gaji, setali tiga uang dengan supporter yang perfeksionis selalu meminta tim bermain baik dan meminta hasil sempurna, namun jika bermain jelek hanya cemooh yang didapatkan di stadion, belum lagi masuk stadion tanpa membayar, hanya dengan modal sabuk karate dan sedikit nyali memanjat tembok stadion lalu bisa menikmati pertandingan walau sambil berdiri.
Permasalahan PSM hanyalah sekelumit dari permasalahan sepakbola nasional, dengan indahnya kita menikmati Liga Primera Spanyol, persaingan ketat Premier League Inggris serta tensi tinggi Serie A Italia. Kesemuanya itu karena sepakbola disana telah menjadi sebuah industri yang menggiurkan, mugkinkah suatu saat kompetisi kita menjadi seperti itu? Tapi bagaimana mungkin dapat menarik investor kalau setiap pertandingan kita tidak hanya disuguhi sepakbola, tapi juga Tae Kwondo dan tinju, juga tawuran penonton selepas peluit panjang pertandingan.
Ah… tak ada gunanya mengutuki keadaan karena tak akan menyelesaikan persoalan, lebih baik kita introspeksi masing-masing dan tetap berharap bahwa suatu saat tim-tim Indonesia akan dilirik investor yang tidak hanya membuat stadion dengan standar Internasional tapi juga membangun tim tangguh dengan kompetisi sehat yang berujung pada prestasi tim nasional yang membanggakan. Dan aku masih menyimpan sebuah impian, melihat laga antara PSM Vs Manchester United di Final FIFA World Championship. Amin
WANITA
Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita. Tanpa mereka, hati, fikiran, perasaan lelaki akan resah. Masih mencari walaupun sudah ada segala-galanya. Apalagi yang tidak ada di syurga, namun Nabi Adam a.s. Tetap merindukan Siti Hawa.
Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, istri atau puteri. Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau lelaki sendiri yang tidak lurus, tidak mungkin mampu hendak meluruskan mereka.
Tak logis kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus. Luruskanlah wanita dengan cara petunjuk Allah, karena mereka diciptakan begitu rupa oleh mereka. Didiklah mereka dengan panduan darinya: Jangan coba jinakkan mereka dengan harta, nanti mereka semakin liar, jangan hiburkan mereka dengan kecantikan, nanti mereka semakin menderita, Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah, Kenalkan mereka kepada Allah, Zat Yang Kekal, di situlah kuncinya.
Akal setipis rambutnya, tebalkan dengan ilmu, hati serapuh kaca, kuatkan dengan iman, perasaan selembut sutera, hiasilah dengan akhlak. Suburkanlah karena dari situlah nanti merka akan nampak penilaian dan keadilan Tuhan. Akan terhibur dan berbahagialah mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik dunia, presiden ataupun perdana mentri negara atau women gladiator. Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan. Itu bukan diskriminasi Tuhan. Sebaliknya disitulah kasih sayang Tuhan, karena rahim wanita yang lembut itulah yang mengandungkan lelaki2
wajah: negarawan, karyawan, jutawan dan wan-wan lain. Tidak akan lahir superman tanpa superwoman. Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan.Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan, bahkan mereka pula membengkokkan.
Lebih banyak lelaki yang dirusakkan oleh perempuan daripada perempuan yang
dirusakkan oleh lelaki. Sebodoh-bodoh perempuan pun bisa menundukkan sepandai-pandai lelaki. Itulah akibatnya apabila wanita tidak kenal Tuhan. Mereka tidak akan kenal
diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki. Kini bukan saja banyak boss telah kehilangan secretary, bahkan anakpun akan kehilangan ibu, suami kehilangan istri dan bapa akan kehilangan puteri. Bila wanita durhaka dunia akan huru-hara. Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa.
Dari berbagai sumber
Ijinkan aku memanggilmu.....
Wanita adalah mahluk lemah, yang selalu terpenjara oleh perasaannya, yang menjadi korban dari rasa cintanya, yang akan selalu terluka oleh harapan yang dibuatnya. Apakah Tuhan tidak adil?? Kenapa lelaki tidak dibuat sama? Kenapa selalu wanita yang menjadi pihak penanggung banyak kerugian dalam sebuah hubungan?
Pelajaran pertama yang harus kamu ketahui adalah “Jangan pernah meragukan keadilan Tuhan!”
Ingin sebenarnya aku menolak jabatan itu, terlalu berat. Harus berhadapan dengan senior, menjaga agar tidak terjadi ketidak-adilan, menghentikan mata rantai kekerasan yang diwariskan turun-temurun di kampus.
“Tidak !! Saya tidak sanggup memikul beban berat itu” tegasku
“Akhi, posisi antum sekarang sangat memungkinkan untuk mengambil posisi itu.” Irul coba meyakinkanku
“Kalau memang iya, lantas setelah itu apa? Kita harusnya berpikir jangka panjang. Bukannya mengambil keputusan insidentil, pragmatis yang hanya berefek instant. Kita harus menghemat energy selama satu kepengurusan ini, agar kepengurusan Musholla ini lebih baik!!!.” Sengitku mencoba bertahan.
Syuro hari itu berlangsung sengit, banyak argument yang dilancarkan namun nampaknya sia-sia usaha teman-teman untuk meyakinkanku.
“Antum pernah bilang benci dengan model pengkaderan sekarang kan?” tiba-tiba Nina yang sejak tadi diam bersuara dari balik hijab
“Antum pernah bilang, itu adalah bentuk kedzaliman yang luar biasa bukan? Kalau kita tidak menghentikannya sekarang, kelak hal ini akan terus berlanjut.”
“Ingat akhi, jika seorang Muslim yang melihat kemaksiatan di depan matanya maka hendaklah ia menghentikan dengan Tangannya, jika ia tidak bisa maka hendaklah ia menghentikan dengan lisannya, jika ia tidak bisa maka hendaklah ia menghentikan dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman !!”
“Jika antum mau merubah keadaan itu, maka sekaranglah saatnya. Hentikan mata rantai kekerasan itu” Nina kembali memojokkanku
Saya tidak tahu harus berkata apa. Argumen Nina sudah cukup untuk membuat saya tidak berkutik. Saya menunduk, menghela nafas panjang lalu berkata
“Bismillahirrahmanirrahim, baiklah Saya menerima Jabatan Ketua Ospek”
“Alhamdulillah” jawab teman hampir bersamaan
“Jangan khawatir akhi, antum tidak akan sendiri” Sambil memegang pundakku ilham coba meyakinkan
***
Penerimaan Mahasiswa baru selalu menjadi ajang perpeloncoan terhadap “junior” di kampus merah, sudah banyak korban berjatuhan, sudah menjadi menjadi rahasia umum tapi anehnya hal tetap menjadi tradisi tahunan tanpa ada usaha berarti dari pihak birokrat kampus untuk menghentikannya. Seakan-akan “pembelajaran” singkat ini harus dilalui maba sebagai tanda bahwa dia sudah menjadi mahasiswa. Ajang ini dibuat untuk membuat maba menjadi dewasa dan membuang segala sifat buruknya yang ia bawa dari SMA, padahal tidak ada yang menggaransi bahwa seniornya lebih dewasa dari anak SMA yang baru akan mencicipi bangku kuliah. Bahkan bibit permusuhan terhadap fakultas lain sudah dijejalkan ke kepala para calon akademia muda , maka tak heran Tawuran pun menjadi “trade mark” kampus terbesar di Indonesia timur ini.
Namun semua itu harus dihentikan mulai dari sekarang, setidaknya itu tidak terjadi di jurusan kami, kami sudah berijtihad memutus mata rantai itu, dan teman-teman sendiri mengamanahkan saya untuk memimpin misi ini.
Tapi ternyata memang tidak semudah membalik telapak tangan, rintangan pertama yang harus saya hadapi adalah teman angkatan dan senior tentunya.
“Aalah … tidak usah sok idealislah tiap tahun juga modelnya seperti itu” ucap Eric mengomentari konsep baru yang saya tawarkan
“Ini bukan masalah idealis atau bukan, tapi apa yang selama ini kita warisi itu keliru menurut saya, oleh karena itu konsep ini hadir sebagai alternatif”
“Konsep mu bagus, cuma terkesan terkesan terlalu memanjakan adik-adik” seloroh Rudi
“Maksudmu??”
“Ya… pembelajaran mental tetap diperlukan untuk membuat mereka kuat” tambahnya lagi
“Kalau hal itu Saya tidak sepakat, kita semua pernah belajar ilmu jiwa dan mengintimidasi orang lain tidak akan membuat jiwanya kuat tapi sebaliknya malah akan membuat jiwa mereka kerdil” sengitku
“Lantas caranya bagaimana??”
“Kita ini calon perawat, perlakukan mereka sebagai manusia. Bukankah perawat melihat manusia secara holistik. Jangan sampai prilaku kasar perawat di rumah sakit adalah imbas perlakuan terhadap mereka kampus” sahut irul membelaku.
Perdebatan semakin sengit. Masing-masing kubu tetap bertahan pada pendiriannya. Saya sebenarnya sudah jenuh berdebat dari tadi.
“Begini, Konsep Sudah Saya Presentasikan di depan kemahasiswaan jurusan juga Pembantu Dekan III, bukan hanya mereka setuju tapi juga mewarning jangan sampai terjadi ‘sesuatu’ dalam prosesi ospek ini. JADI KALAU ADA YANG INGIN MERUBAH KONSEP INI SILAHKAN GANTIKAN SAYA SEBAGAI KETUA PANITIA !!!. ucapku dengan nada tinggi
Semuanya terdiam dan hanya saling menatap
***
Pendaftaran ulang mahasiswa baru sudah dimulai, gedung registrasi sudah disesaki calon mahasiswa yang ingin mendaftar ulang. Pengumuman sudah kami pasang, bahwa semua mahasiswa baru keperawatan harus menyetor biodatanya untuk mengikuti prosesi awal penerimaan mahasiswa baru. Selanjutnya panitia ospek secara bergiliran piket di himpunan jurusan untuk menerima mahasiswa yang mengembalikan biodatanya. Walaupun sudah disepakati dari awal bahwa kekerasan baik fisik maupun psikis harus diminimalkan namun tetap saja ada panitia yang membangkang dengan memarahi calon maba, dalihnya calon peserta yang mengembalikan formulir kurang sopan.
“yang kurang sopan tuh kamu” gumamku
Kalau sudah begini, saya harus turun tangan untuk mengawasi mereka. Suatu ketika saat teman-teman panitia sedang istirahat makan siang, saya masih tinggal di himpunan Karena ada yang harus diketik, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu
“Assalamu alaikum”
“Waalaikum salam” jawabku, tampak seorang berjilbab biru berdiri di depan pintu
“Benar ini himpunan mahasiswa ilmu keperawatan kak?” tanyanya
“Iya, adek mau kembalikan formulir ya?”
“Iya kak, ini formulirnya” sambil menyodorkan selembar kertas
“Jangan lupa hari sabtu datang buat pra ospek, pake kemeja putih dan rok hitam”
“Jilbabnya?”
“Mmm… pake putih aja kali ya supaya matching”
“Makasih infonya kak, saya pamit dulu” ucapnya mohon diri
“Ya silahkan”
“Assalamu alaikum”
“Waalaikum salam”
Gadis itu pun berlalu, sejurus saya memperhatikan biodatanya, caranya berpakaian dan bertutur membuat saya penasaran ingin tahu pribadi anak ini.
“Rani, SMU Samarinda, mantan pengurus rohis” gumamku
“Oo pantes cara berjilbabnya sudah bagus, saya yakin dia akan bergabung untuk memperkuat barisan dakwah dijurusan ini dan… anaknya lumayan manis”
“Astaghfirullah… “ ujarku buru-buru menepis segala pikiran aneh yang berkelebat
Selanjutnya saya larut dalam ketikanku
***
Meskipun dari awal sudah di wanti-wanti agar pelaksanaan ospek bersih dari segala macam tindak kekerasan namun tetap saja terdapat satu-dua pelanggaran oleh panitia hal ini juga diperparah oleh peserta yang kadang melanggar aturan dan sebagainya. Tapi diatas semua itu kami bersyukur bahwa pelaksanan ospek tahun ini jauh berbeda dari tahun lalu, semangat perubahan yang kami wacanakan meskipun diawal banyak mendapat tantangan namun akhirnya bisa merubah cara pikir teman-teman bahwa kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan yang lain. Hal lain yang membuatku senang adalah pujian dari bapak PD III yang menilai peserta dari jurusanku lah yang paling rapi, dengan memakai baju biru dan bawahan putih, mahasiswa baru keperawatan terlihat sangat mencolok diantara devile mahasiswa lain yang berdandan seperti orang gila. Satu kata untuk pelaksanan ospek tahun ini. S.U.K.S.E.S !!
Selajutnya kembali aktivitas sediakala sebagai mahasiswa semester lima yang sibuk dengan tugas lab, juga sebagai pengurus himpunan. Kebagian divisi kemahasiswaan membuatku lebih banyak bereksperimen tentang metode pengkaderan dan juga lebih dekat dengan mahasiswa baru, salah satunya dengan Rani.
Setahun kemudian, seperti prediksiku di awal bahwa dia akan memperkuat barisan dakwah sangat tepat. Banyaknya kegiatan dan kepanitiaan membuatku lebih sering berinteraksi dengannya dan hal itu pula yang menyiksaku.
“Gimana dengan persiapan kegiatan minggu depan akhi?” tanyanya suatu ketika
“Tadi saya ketemu bagian kemahasiswaan, katanya proposalnya bisa dicairkan besok”
“Trus pematerinya?”
“Tinggal diingatkan aja lagi”
“Ok, nanti ana yang cek proposalnya”
“Jazakillah ukhti ya”
“Waiyyakum”
Entah senyawa apa yang dipancarkan akhwat ini yang terkadang membuat saya kikuk di dekatnya, senyumnya kemudian begitu menawan, tiba-tiba ia berubah menjadi sangat kharismatik di hadapanku. Hal yang jujur harus kuakui… Saya menyukainya
Perasaan itu semakin hari kian menggunung, puncaknya di suatu malam saya tidak bisa tertidur karena terus memikirkannya. Di sepertiga malam, aku lalu bangun membersihkan diriku, mengambil wudhu. Malam ini aku berniat mengadukan seluruh perasaan yang menderaku kepada Tuhanku yang saat ini turun sampai sepertiga langit.
Selesai witir dan berzikir, aku duduk bersimpuh dan menengadahkan tanganku menyusun bait permohonan dengan berurai airmata, kiranya Dia mau mendengarkan keluhanku dan mengasihiku
“Ya Allah, sang pemilik kesempurnaan
Hambamu Yang lemah dan hina ini memohon kepadamu
Ya Allah yang maha mengetahui
Engkau tahu masalah yang kuhadapi saat ini
Janganlah engkau menyiksaku dengan perasaan selain kepadamu
Janganlah engkau jadikan cinta kepada mahluk melebihi cintaku kepadamu
Jika ia memang jodohku maka bukakanlah pintumu dan mudahkanlah jalannya
Jika bukan, engkaulah yang maha tahu yang terbaik untuk hambamu
Ya Allah yang maha pengampun
Ampunilah dosa hambamu yang penuh nista ini
Hamba tak tahu lagi kemana mengadu
Jika sekiranya engkau pun meninggalkan hamba
Hamba tak akan meminta engkau mengurangai beban ini
Namun kuatkanlah bahu hamba untuk menerima cobaanMu
Amin
Kututup doaku dengan menghapus air mataku, ada ketenangan yang mengalir dalam perasaan ku setelah mencurahkan segala perasaan ku dalam doa tadi.
***
Sejak malam itu aku bertekad menjadi seorang yang baru, tidak ingin larut dan tenggelam dalam perasaan yang menyiksaku. Aku larut dalam kesibukan yang segaja kubuat untuk sengaja menghilangkan perasaan yang bahkan dulu membuatku insomnia. Aku mulai mengambil jarak dengannya, bahkan mengurangi frekuensi kekampus atau minimal ke perpustakaan hanya karena tak ingin bertemu dengannya lantas membuka kembali lukaku. Toh yang kuhadapi sekarang tinggal skripsi dan saya harus konsentrasi untuk itu. Kalau sesekali bayangannya menggangu yang kulakukan adalah mengusirnya dengan memotivasi diri bahwa saya akan melamarnya setelah lulus nanti.
***
Selesai wisuda dan meraih gelar sarjana saya masih harus melanjutkan dengan pendidikan selama setahun di rumah sakit untuk meraih gelar profesi. Sebentar lagi saya akan sibuk berurusan dengan pasien, dan seabreg tugas yang mesti dikonsul ke dosen. Satu hal lagi karena tidak lagi sering ke kampus sehingga tidak akan bertemu Rani.
Saat sedang asyik menulis rencana perawatan tiba-tiba HPku berbunyi, kulihat penelponnya.. Rani, kuambil nafas panjang lalu sejurus kemudian
“Halo Assalamul alaikum” jawabku
“Waalaikum salam” terdengar jawaban Rani dari sebelah
“Kakak punya waktu buat bicara tidak?” tanyanya
“Bicarakan apa ya?” jawabku penasaran
“Saya mau nanya kak, antum kenal dengan akh Fadli?”
“Hmm Fadli…Fadli.. yang dari fakultas teknik itu?” ujarku
“Bukan, yang dari STAN”
“Oh iya kenal, afwan banyak sih teman ana yang namanya Fadli”
“Menurut antum orangnya gimana?”
“Maksudnya?”
“Jawab saja kak”
“Ya… ana pernah mabit dengannya, tilawahnya bagus, orangnya ramah dan agak lucu gitu”
Tiba-tiba yang terdengar adalah suara isak tangis dari telepon
“Halo… koq nangis?” tiba-tiba perasaanku tidak enak
“Kak… akh Fadli mengajak ana ta’aruf” sesenggukannya terdengar makin nyaring
Jlegg… Aku menelan ludah, samudera perasaanku yang tadinya tenang tiba-tiba berkecamuk, berubah menjadi pusaran air ganas yang siap menenggelamkanku. Tanganku bergetar hebat dan hampir saja HP ku terjatuh. Aku bungkam seribu bahasa, sejenak kemudian yang ada hanyalah hening. Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku, ditemani deru nafasku dan isak Rani.
Aku menarik nafas panjang dan mencoba menguasai diriku
“Ya.. ba..gus kan” ujarku gagap
“Bagus apanya kak?”
“Ya…menurut ana tidak ada hal yang membuat anti bisa menolak lamaran akh Fadli”
“Apa..???” seru Rani
“Saya ingin kakak jujur, kakak cinta Rani kan?!!”
Dadaku serasa ditindih beban berat…
“Dari cara kakak memperlakukan Rani, dari cara kakak berbicara dengan Rani Saya menyimpulkan kakak menyukai Rani kan??
“Jawab yang jujur kak!!” ujar Rani setengah berteriak, lalu suara tangisnya semakin jelas terdengar
Rentetan pernyataan Rani benar-benar membuat saya terdesak, Saya seperti terdakwa di pengadilannya yang siap dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Lidahku serasa kelu, saya masih merasa di alam lain ketika Rani kembali membuyarkan lamunanku dengan pertanyaannya.
“Jawab Rani Kak!!!”
“Kalau emang iya, apa yang harus saya lakukan?” entah mendapat kekuatan darimana saya bisa menjawab seperti itu
“Rani cuma minta kakak jujur kepada diri sendiri, berani memperjuangkan perasaan kakak dan berhenti jadi pengecut” kembali Rani menghakimiku
“Baiklah ana akan jujur, Ana menyukai anti sejak pertama kali kita bertemu, ana harus akui itu !. Antilah satu-satunya akhwat yang membuat ana menangis di sholat malam dan memohon untuk melupakan anti!”
Rani masih terisak
“Lantas dengan alasan itu, apakah boleh ana meminta anti menolak ajakan akh Fadli lalu menunggu lamaran ana? Itu yang anti mau?!!!”
Rani terdiam, yang ada hanyalah sesenggukannya
“Ana akan seperti menikam teman dari belakang jika berbuat itu. Yang ana tahu Rasulullah melarang meminang perempuan yang sedang dipinang oleh saudaranya!!”
“Jadi sekarang ana akan mempertegas pernyataan ana. Tidak ada hal menurut ana yang bisa membuat anti menolak lamaran akh Fadli, toh kembali anti yang akan menentukan”
“Terserah anti menganggap ana pengecut ataukah pecundang, tapi akan menjadi lebih pengecut lagi kalau ana mendzalimi saudara ana sendiri”
***
Percakapan ditelepon itu adalah percakapan terakhirku dengan Rani. Entah saat itu saya menjadi pria paling berani ataukah pria paling bodoh karena merelakan akhwat yang kuidamkan menjadi milik pria lain. Yang jelasnya sebulan kemudian aku menerima sebuah undangan biru yang cantik bertuliskan Walimatul Ursy Fadli Jafar dengan Maharani Salsabila. Perasaanku remuk, ingin rasanya aku berlari ke pantai dan berteriak sekencang-kencangnya. Mengadu pada debur ombak bahwa betapa bodohnya aku.
Saya berhalangan ke Pesta walimahan itu karena bertepatan dengan jadwal jaga ku di rumah sakit. Entahlah ketidak hadiranku karena uzur itu ataukah karena tahu bahwa saya tidak akan sanggup melihat wanita dambanku bersanding dengan pria lain. Saya Cuma bisa menghibur diri dengan mengatakan jika ada cinta yang bisa kubagi saat ini, maka cinta itu adalah kepada pasienku, kepada orang-orang yang tergolek lemah di rumah sakit yang menanti uluran tanganku. Sembari menyusun kembali kepingan mozaik perasaanku yang berserakan tak beraturan.
Menjelang dini hari kembali saya mengadu ke ribaan sang khalik, menyusun untaian permohonan akan seluruh salah khilaf
Ya Allah Ya Azis
Tiada sia-sialah engkau ciptakan jagad raya ini
Maha suci engkau
Engkau pemilik semesta alam
Ya Allah Ya Rahim
Engkaulah yang paling tahu hal terbaik untuk hambamu
Engkau telah menegurku agar tak melupakan cintamu
Dan aku yakin Ya Hakim
Bahwa engkau telah menyiapkan jodoh terbaik untukku
Bahwa engkau telah menyiapkan bidadarimu untukku
Dan dengan bangganya akan kupanggil dia… Istriku
MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT
Based on True Story.. ( is it true? -red.)
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja
bahkan sudah mendekati malam. Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi
dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka
menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak. Disinilah
awal cobaan menerpa,setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2
kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun,
menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa
tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi,
dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja
dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa
kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat
istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu
jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi
istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya,
mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton
televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun
istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno
sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap
berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan
sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah
hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg
masih kuliah.
Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua
mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah
sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu
mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya
berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin
sekali merawat Ibu, semenjak kami kecil melihat Bapak merawat Ibu
tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir Bapak....... ..bahkan
Bapak tidak ijinkan kami menjaga Ibu" .
Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "Sudah yg
keempat kalinya kami mengijinkan Bapak menikah lagi, kami rasa ibupun
akan mengijinkannya. Kapan Bapak menikmati masa tua Bapak. Dengan
berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat Bapak, kami janji
kami akan merawat Ibu sebaik-baik secara bergantian".
Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka..."
Anak2ku ......... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk
nafsu, mungkin Bapak akan menikah..... .tapi ketahuilah dengan adanya
Ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah
melahirkan kalian..
Sejenak kerongkongannya tersekat,...
"Kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg
tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya Ibumu
apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini."
"Kalian menginginkan Bapak bahagia, apakah batin Bapak bisa bahagia
meninggalkan Ibumu dengan keadaanya sekarang,kalian menginginkan Bapak
yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain,bagaimana
dengan Ibumu yg masih sakit."
Sejenak meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno. Merekapun melihat
butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno... Dengan pilu
ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu...
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV
swasta untuk menjadi narasumber dan merekapun mengajukan pertanyaan
kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya
yg sudah tidak bisa apa2..
Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio
kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru disitulah
Pak Suyatno bercerita...
"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam
perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga,
pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya
menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan
sabar merawat saya,mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan
dengan mata,dan dia memberi saya 4 oranganak yg lucu2.. Sekarang dia
sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan
ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk
mencintainya apa adanya... Sehatpun belum tentu saya mencari
penggantinya apalagi dia sakit,,,"
* Dari seorang kawan nun di milist seberang sana... Semoga
menginspirasi. ..
