Latest News

Menunggu di ruang rindu

Posted by Lentera on Sabtu, 19 Juni 2010 , under | komentar (0)



Dedaun yang ikut mengalir lembut
terbawa sungai ke ujung mata
Dan aku mulai takut terbawa cinta
menghirup rindu yang sesakkan dada
Jalanku hampa dan ku sentuh dia,
terasa hangat di dalam hati
Kupegang erat dan kuhalangi waktu,
tak urung jua ku lihatnya pergi
(Letto)
*****

Hari ini untuk kesekian kalinya aku harus kontrol ke rumah sakit, sebenarnya aku jenuh, membayangkan ke rumah sakit saja aku malas. Tergambar dalam memoriku tentang landscape rumah sakit dimana semua orangnya tergeletak tak berdaya, pasien yang dicekoki sejumlah selang dan peralatan medis lainnya, pelayanan yang kaku, serta pegawai yang berpakaian serba putih membuatku merinding membayangkan sejumlah malaikat sedang menunggu antrianku di lorong kematian.
Namun hari ini aku tak berdaya, penyakit sesak ku sedang rindu dan tak ingin segera pergi, belum lagi aku sering pucat dan pingsan, akhirnya mengantarkan ibuku pada sebuah kesimpulan bahwa aku harus periksa ke dokter.
Aku merasa lelah sekali terbangun Pagi ini, kamar VIP dengan segala fasilitas wah tak membuat tidurku nyenyak, segala gadget yang kupunyai tak mampu mengusir kesepianku, kepalaku pening bahuku terasa berat, masih asyik bermalas-malasan tiba-tiba dokter yang menanganiku masuk
“Selamat pagi dek” sapa dokter
“Pagi Dok” jawabku singkat
“Orang tuamu mana?”
“Belum datang dok, biasanya datang malam, maklum sibuk, emang ada apa dok?”
“Mmm.. ini hasil pemeriksaan labmu sudah ada dan diagnosanya pun sudah pasti”
“Memangnya saya sakit apa dok?”
“Mungkin baiknya saya bicara dengan orang tuamu dulu”
“DOK.. YANG SAKIT ITU SAYA, SAYA BERHAK TAHU SAYA SAKIT APA!!!” ujarku dengan nada meninggi
Dokter tadi menghela nafas panjang lalu dengan lirih berkata
“Kamu didiagnosa Leukimia atau kanker darah”
“Nanti kalo orang tuamu datang suruh menghadap saya”
“Yang sabar dek ya”
Aku menoleh tak memperhatikan dokter tadi pergi, serasa ada embun di mataku, rupanya penyakit leukimia inilah yang selama ini yang merenggut kebebasanku, yang menghalangi aktivitasku. Tiba-tiba aku merasa gadis paling malang di dunia. Orang tuaku bercerai, ibuku sibuk dengan karirnya, tak pernah aku bisa berbicara dengannnya lebih dari lima menit kecuali relasinya selalu menginterupsi lewat telepon, kadang hanya hanya bertemu lewat sms, jika tak sempat pamit dia hanya bisa nitip pesan di meja riasku “Naila sayang ibu pergi dulu, mungkin pulangnya agak larut, makan yang banyak ya, peluk cium ibunda”, sedangkan ayahku?? Seingatku ia datang setahun lalu saat aku ulang tahun yang ke 19, bukan dengan fisiknya namun lewat karangan bunga yang bertuliskan “SELAMAT ULANG TAHUN SAYANG” bersama setumpuk hadiah, padahal bukan itu yang kuharapkan dari dia, saya butuh perhatiannya, ah.. mungkin aku terlalu berharap, tapi apa saya salah berkharap kasih sayang dari orang tua?? Aku seperti padang gersang yang berdoa akan turunnya hujan. Mungkin suatu saat aku meninggal ayah hanya akan datang dengan karangan bunga lagi yang bertuliskan “TURUT BERDUKA CITA”. Perasaanku makin sakit, perih, akhirnya semua perasanku saya tumpahkan. Aku rindu nenek ku, dengan keterbatasan fisiknya ia masih mampu menyayangiku, darinya lah aku belajar arti kasih sayang, sayang ia tak bisa hadir disini mengobati kerinduanku, mengusap kepalaku, membelai rambutku karena fisiknya tak membiarkannya pergi jauh berkendaraan.
Tok.Tok..Tok.. tiba-tiba ada yang mengetuk pintu,
“Masuk..” ucapku dengan nada berat sambil menyeka air mataku
“Selamat pagi mba naila, saya perawat jaga malam mau operan dengan perawat jaga pagi, sekalian juga mau jelaskan kondisi dan terapi mba naila ke rekan saya” ujar perawat berjilbab itu ramah
Saya Cuma mengangguk pelan dan memperhatikan sekilas perawat pria yang disampingnya, mukanya seperti asing, tidak seperti perawat lain yang bergantian menjagaku dan wajah mereka sudah familiar. Aku dengan seksama mendengarkan penjelasan ners Linda, seperti yang tertulis di papan namanya. Walau terkadang ada bahasa yang tidak kumengerti karena dia menjelaskan ke rekannnya dengan menyelipkan istilah kedokteran yang masih asing dan ribet di telingaku.
“Jadi mba Naila, pagi ini saya yang akan merawat mba, oh ya nama saya ners Fadhil, mulai sekarang juga saya yang akan menjadi perawat penanggung jawab mba, kalo mba butuh bantuan hubungi saya saja di Nurse station” ujar pria tadi dengan nada sopan namun penuh wibawa
“Ners Fadhil-nya baru datang mba dari Jogja habis pelatihan, makanya mungkin mba naila belum pernah lihat, tambahan lagi ners fadhil ini masih single lho mba” Ujar ners linda sambil tersenyum. Pria tadi Cuma tersenyum simpul.
*****

“Mba naila masih kuliah?” tanya ners fadhil suatu ketika saat ia sedang memasukkan injeksi intravena
“Iya” jawabku singkat
“Jurusan apa mba?” tanyanya lagi
“Ilmu komunikasi”
“Semester tiga ya sekarang?”
“Kok tahu”
“Cuma nebak aja” ujarnya tersenyum
Seperti biasa ia mengajakku bicara saat dia melakukan tindakan, membuatku tidak merasa jadi kelinci percobaan, terkadang juga tanpa saya minta ia menjelaskan untuk apa ia terapi itu dilakukan, obat yang diapakai gunanya apa. Ners Fadhil yang air mukanya begitu tenang, wajahnya putih bersih, jenggot tipis di ujung dagunya semakin menegaskan kelaki-lakiannya. Terkadang dengan sejenak mengajakku berbicara ia berhasil mengusir kesepian yang selama ini menggelayut seperti awan hitam yang akan menumpahkan hujan 100 hari. Ia seperti mengeluarkan senyawa yang membuatku betah dekat dengannya. Kekagumanku semakin bertambah dengan prilakunya yang sopan terhadap perempuan rekan kerjanya termasuk aku pasiennya. Pernah malam-malam aku terbangun dan ingin mencari udara segar, namun aku terhenti di pintu karena melihat dia berjaga sendirian di Nurse station ditemani mushaf kecilnya dengan lantunan suara tilawah yang sangat merdu. Dia bahkan tidak menyadari saat aku sudah berada dekat dengannya, aku sengaja lewat dekatnya agar ia melihatku, aku ingin lihat reaksinya.
“Mau kemana mba?” tanyanya kaget
“Mau cari angin” jawabku
“Aduh mba, ini sudah larut, harusnya mba istirahat, kembali ke kamar ya..”
pintanya
“Sebentar saja ya di luar, ngga apa-apa kan?”
“Maaf mba saya tidak bisa mengizinkan mba keluar”
“Iya deh” ketusku sambil memasang muka cemberut, walaupun sebenarnya aku senang karena dia menaruh perhatian.
Aku lalu berjalan kembali ke kamarku, namun baru beberapa langkah berjalan tiba-tiba pandanganku berputar, dan jalanku limbung, aku lalu mencari tempat berpegang namun tak kusangka lengan Fadhil telah dengan cekatan memegangku.
“Kenapa mba?” tanyanya cemas
“Entahlah, saya tiba-tiba pusing”
“Tuh kan saya bilang apa, saya antar ke kamar ya..”
Saya senang sekali saat itu, dia membimbingku sampai di kamar dan menyelimutiku. Terus terang saya menyukai Ners Fadhil, dari caranya berbicara dan memperlakukanku tapi saya yakin dia profesional, bukan memanfaatkan kesempatan karena kelemahan kondisiku karena yang saya lihat dia sangat berhati-hati, dia tidak akan menyentuhku kecuali itu memang terpaksa ia lakukan karena tuntutan terapi yang ia lakukan.
*****

“Leukimia itu apa sih?” tanyaku suatu ketika dia sedang mempersiapkan premedikasi kemoterapi
“Mmm gimana ya cara menjelaskannya?” ujarnya sambil menggaruk kepala
“Susah ya pertanyaannya?” tanyaku lagi
“Nggak sih, Cuma saya takutnya saya jelaskan dan mba ngga ngerti”
“Jelaskan aja, nanti saya coba jadi pendengar yang baik
“Begini, dalam tubuh kita ada yang disebut antibodi yang fungsinya melawan penyakit yang masuk atau yang disebut antigen, kayaknya sudah kita pelajari deh sejak SMP, ya kan?”
“He eh”
“Nah antibodi yang dimaksud disini adalah sel darah putih atau yang disebut leukosit, gampangnya si darah putih ini berfungsi seperti tentara yang akan menyerang pemberontak yang menyerang” dia kembali melanjutkan
“Nah, dalam kasus leukimia, tiba-tiba jumlah sel darah putih ini meningkat drastis”
“Kok bisa?” selaku memotong penjelasannya
“Ada banyak faktor sih, bisa karena gen, bisa karena radiasi, tapi sebagian besarnya belum diketahui penyebabnya apa, dalam ilmu kedokteran kami menyebutnya idiopatik”
“Nah karena jumlahnya banyak dan nggak ada musuh saat itu, si sel darah putih jadinya kurang kerjaan, dia mulai menyerang sel lain yang sehat hal inilah yang disebut autoimun dimana tubuh memakan sendiri bagian tubuh yang lain, begitu kira-kira penjelasannya mba” ujarnya sambil sedikit tersenyum
“Ooo...” ujarku sambil mengangguk”
“Mba sering batuk kan?”
“Iya” jawabku
“Batuknya itu karena sel darah putih itu menyerang paru-paru mba”
“Olehnya itu kami berikan kemoterapi untuk menekan pertumbuhan sel kemoterapi yang tidak terkendali, namun karena obat kemoterapi obat keras maka efeknya sampingnya juga tinggi, misalnya rambut mba akan gugur selama kemoterapi, tapi nanti bakalan tumbuh lagi kok”
“Kira-kira saya masih bisa sembuh nggak?” ucapku sambil menatap langit-langit kosong Dia menghentikan tindakannya, menatapku sejenak lalu menghela nafas panjang
“Mba Naila..., yang namanya sembuh bukan wewenang kami tenaga kesehatan, kami cuma berusaha sebaik yang kami bisa, permasalahan apa nanti mba sembuh atau tidak itu hak prerogatifnya Allah, kita Cuma bisa berikhtiar, itulah kenapa kita selalu diajari mengucapkan Innalillhai wa innailaihi rojiuun, segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepadanya, penyakit itu musibah mba, maka mintalah kesembuhan pada-Nya”
Aku terdiam menatapnya, bukan hanya terapi sebagai tenaga kesehatan yang bisa ners fadhil berikan padaku tapi juga dukungan spiritual, kapan orang tuaku terakhir kali berkata hal yang sama kepadaku?, mengajariku agama, bahkan saya sudah tidak ingat lagi. Tiba-tiba saya merasa begitu kecil di hadapannya, pantaskah saya mengharapkannya? Pantaskah saya merindukannya?.
*****

“Kriteria calon istri mas Fadhil kayak gimana sih” tanyaku iseng suatu saat
“Kok nanyanya kayak gitu?” jidatnya berkerut
“Kenapa, nggak boleh”
“Mmm.. aneh saja, kok tiba-tiba nanya masalah itu?”
“Dijawab saja kenapa?”
“Sebenarnya pertanyaan mba privat sekali, saya jawab secara umum saja ya”
Aku menganggup penasaran
“Kriteria saya cuman tiga, pertama kalo saya lihat saya senang, kedua kalo saya perintah ia taat, ketiga kalo saya tinggalkan ia bisa menjaga diri”
“Itu aja? Ga ada yang lain? Gak mau yang cantik misalnya?’
“Cantik itu di rasa mba bukan di bendanya, kalo saya senang sama dia, kalo saya suka lihat dia, dia itu cantik bagi saya.”
“Nggak mau yang pake jilbab?”tanyaku hati-hati
“Hi..hi.. kalo yang kayak gitu nggak usah dibilang mba, seperti masak misalnya, nggak usah disebutkan kan?”
“Intinya Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah istri solehah, kata kuncinya solehah, sudah ya” ujarnya segera bergegas
Sepertinya dia tahu saya sedang berusaha mengorek-ngorek info dari dia
*****

Ners fadhil yang baik
Engkau selama ini kuanggap berhasil mengisi suatu ruang dalam hatiku,
Menjadi sosok lelaki panutan, hal yang tidak kudapatkan dari ayahku.
Engkau seperti embun yang membasahi hatiku yang dahaga,
Aku merasa hidup tidak lama lagi, sejak kemoterapi terakhir aku merasa semakin lemah, apakah sebentar lagi aku akan menghadapmu Tuhan?
Bisakah engkau bermurah hati Tuhan?
Memanjangkan umurku sedikit saja, aku ingin engkau melihatku sembuh, aku ingin memperbaiki diri, aku ingin memakai jilbab seperti anjuranmu.
Tapi jika Engkau tidak memberikan waktu lagi untukku Tuhan,
Aku akan menunggunya,
Aku akan terus menunggunya
Meskipun dia tidak tahu bahwa aku menunggunya
Ruang rinduku akan selalu kubuka untuknya
Meski kerinduan itu harus kubawa ke alam lain
Aku tetap akan menunggunya....
Aku tidak sanggup lagi melanjutkan tulisan di diariku, nafasku semakin sesak, pandanganku berputar, kucoba meraih tombol alarm untuk memanggil petugas, kucoba sekuat tenaga melawan sakit yang sangat, kemudian sejenak aku merasa ringan.. ringan sekali...

Pengumuman hasil tes wawancara Beastudi ETOS Makassar

Posted by Lentera on Kamis, 27 Mei 2010 , under | komentar (0)



Berikut ini adalah nama-nama peserta tes wawancara Beastudi ETOS Makassar yang dinyatakan lulus interview, bagi adek-adek yang belum lulus jangan bersedih hati, mungkin lain waktu masih ada kesempatan . Selanjutnya Bagi Adek-adek yang lulus, kami ucapkan selamat dan belajar giat untuk menghadapi SNMPTN dan kami harap bagi sudah mendaftar SNMPTN agar mengirimkan nomer ujian tes disertai nama dan asal sekolah. Bagi adek pendaftar etos yang lulus bidik Misi, POSK, JPBB mohon juga konfirmasi ke kami.

No. Nama Asal Sekolah
1 Alfia Patandungan MAN BARAKA ENREKANG
2 Anaruddin SMAN 1 Barru
3 Andi Tenriawaru MAN 2 Model Makassar
4 Angraeni SMAN 1 Bone-Bone
5 Arnis Marselina SMAN 1 LEMBANG PINRANG
6 ASBAHAR SMAN 1 MAMUJU
7 Asbar Hamzah SMAN 1 Alla Enrekang
8 Athirah Pratiwi SMAN 1 Sinjai Selatan
9 Baharuddin SMAN 1 LEMBANG PINRANG
10 Besse Ummul Khair MAN Pompanua Bone
11 BQ.SRI WAHYUNINGSIH MAN 1 PRAYA NTB
12 CELSIA KALSUM SMAN 1 BUA LUWU
13 Desi Arini Lestari P SMAN 1 Bone-Bone
14 DEWI MUSTABSYIRAH SMU 1 MATIROSOMPE PINRANG
15 Eka Verawati SMAN 1 Sape
16 FITRIANI SMAN 1 MASAMBA LUTRA
17 FITRIWATI SMAN 1 TOMONI LUTIM
18 Hadriani SMAN 1 Mandai
19 Haerani SMAN 1 AWANGPONE BONE
20 Hamriati Hamzah SMAN 1 LEMBANG PINRANG
21 Handayani MAN 3 Makassar
22 Hasanuddin SMAN1 Sinjai Timur
23 HASLINDA SMAN 1 MASAMBA LUTRA
24 Hasnah SMAN 1 LEMBANG PINRANG
25 Hasni SMKN 3 Takalar
26 Hasniati SMAN 2 Binamu
27 HENRI SMAN 1 TAMALATEA JNP
28 Herni SMK 1 Malili
29 Ikram Susanto SMAN 1 Alla Enrekang
30 Irdianti SMAN 1 Pangsid
31 Irmawati SMAN 1 Barru
32 JUNAEDI SMAN 1 GALESONG UTARA
33 Jannati SMAN 1 DUAMPANUA PINRANG
34 JUMRANG SMK NEGERI 1 PINRANG
35 Juwita SMAN 1 Belopa
36 KHAERUL AMRI SMAN 1 SINJAI TIMUR
37 Kiki Musliati SMAN 2 Palopo
38 Megawati SMAN 1 Malua
39 Mirnawati SMAN 1 Barru
40 MUH NUR IMAM AKBAR N PONPES SAMATA GOWA
41 Muh. Anwar SMKN 1 Bungoro Pangkep
42 Muh. Ilyas AN MA Al Mubarak DDI Tabarakka
43 Muh. Mudir Akrab MA Al Hikmah
44 Muh.Fadli SMAN 1 LEMBANG PINRANG
45 MUH.IBRAHIM SALEH MAN BARAKA ENREKANG
46 Muh.Nur Ilman Ruknuddin SMAN 1 Lembang
47 MUH.RAHMAN SYAH SMAN 1 KAJANG BULUKUMBA
48 Muhammad Suardi SMAN 1 Marusu
49 Mukammil MA Darul Istiqomah Puce'e
50 MURNI SMU 1 MATIROSOMPE PINRANG
51 MUSDALIFAH SMAN 1 MANGKUTANA LUTIM
52 NURAISYAH SMAN 1 MAROS
53 Nurjannah MA Junaidiyah Luwu
54 Nurlina SMAN 1 DUAMPANUA PINRANG
55 Nurlina SMAN 1 AWANGPONE BONE
56 Rahmawati SMAN 1 AWANGPONE BONE
57 Rapiah Tulhikmah SMAN 1 Galesong Selatan
58 Reski Olivia Duri SMA 1 Anggeraja
59 Rian SMAN 1 Bua Luwu
60 Riki Dermawan SMAN 1 Sukamaju Luwu
61 Risnawati SMAN 1 DUAMPANUA PINRANG
62 RITA FATIMA MA ALFALAH
63 Rosdiaman SMAN 1 Liliriaja
64 Rosmilasari SMA 1 Malua
65 RUSLAN SMKN 3 TAKALAR
66 RUSTAN SMAN 1 SINJAI SELATAN
67 Sakariah SMAN 2 Maros
68 Samania Ayu Sari Intang SMAN 1 Takalar
69 Sammawati SMAN 1 Mattirosompe
70 SARTRIANI SMAN 3 TAKALAR
71 Sitti Kartini SMAN 2 Binamu Je'neponto
72 sri trisnawati SMKN 1 LUWUK BANGGAI SULTENG
73 Suarni Sata SMAN 2 Binamu Je'neponto
74 Sudirman MA Muhammadiyah Panaikang
75 SULAEMAN SMAN 1 BARRU
76 Sumarni MAN Binamu Jeneponto
77 Sunarti Dampang SMU 3 Takalar
78 Surianti SMUN 18 MAKASSAR
79 Sutina Irhas Ciana SMAN 2 PASAR WAJO SULTRA
80 Syahiruddin SMK Neg.1 Bantaeng
81 Syamsinar MAN Binamu Jeneponto
82 Titik Puspasari SMU 1 Sinjai Borong
83 UMMI KALSUM SMAN 1 BONE-BONE LUTRA
84 Wahidah SMAN 1 Sinjai Timur
85 A. Jaya MAN Binamu Je'neponto
86 ABDUL RAHIM SMAN 1 SEBATIK KALTIM
87 Adi Slamet SMAN 1 Bone-Bone
88 AGUS SUTISNA MA AL-HIKMAH BARAS III MATRA SULBAR
89 AHMAD MASRI SMU 1 MATIROSOMPE PINRANG
90 Alias N. SMAN 1 MALUA ENREKANG
91 Amalyah febriyanti SMUN 18 MAKASSAR
92 Ambo Tang SMAN 1 Maniangpajo
93 Andi Reskianti Wardani SMAN 1 Sinjai Timur
94 Asma Susanti SMAN 2 Binamu Je'neponto
95 Asmira B MAN Binamu Je'neponto
96 Asri Ashari Syam SMK Keperawatan Husada
97 Budiani Ana SMAN 1 Lakudo Buton
98 DAHRUL ALAMSYAH SMKN 1 BIMA NTB
99 DIAN FITRIANY SMK 1 WATANG PULU MAROS
100 Fifit Chandra MAN 3 Makassar
101 Hajriana SMAN 1 Belopa
102 HAMRIANI SMAN 1 TAKALAR
103 HAMSIATI SMAN 2 BINAMU JNP
104 Hardiana MAN 1 Bone-Bone
105 HASANUDDIN SMKN 8 TEKNOLOGI JNP
106 HISMAWATI ANIWAR SMAN 1 TAMALATEA JNP
107 Ika Purwinda Ridwan SMAN 1 LEMBANG PINRANG
108 Irsan SMKN 1 Bantaeng
109 Jamil MAN Binamu Je'neponto
110 Jasriah Jasman MAN Baraka Enrekang
111 Jusmaeni SMAN 1 Barru
112 KASMAWATI MA MUH PANAIKANG BANTAENG
113 LISTIKA SUSILAWATI MAN 1 PRAYA NTB
114 Muh. Akhsa SMAN 2 Bua Panrang
115 Muh. Arfah SMAN 1 galesong selatan
116 MUH. HUSAENI SMAN 1 POLMAN
117 NASRUDDIN PONPES SAMATA GOWA
118 NIRMALASARI SMA LASINRANG PINRANG
119 Nurheni Sawarti SMAN 1 Sape
120 Nurullah MAN Binamu Jeneponto
121 RAHMI MUSTAFA SMAN 1 UNGGULAN PALOPO
122 Ramlah G. MAN Binamu Jeneponto
123 Risal SMAN 1 Tamalate
124 ROSMIATI SMAN 1 GAL SEL TAKALAR
125 Saeful Bahri SMK 1 Bulukumba
126 SAMIUN PATI SMA COKROAMINOTO
127 SIDAR SMAN 2 TAKALAR
128 ST.HATIJAH ARSYAD MAN 1 MAKASSAR
129 Suharni SMAN 1 Galesong Utara
130 SYAHRUL RAUF SMAN 1 POLEANG TIMUR SULTRA
131 Syahrullah Rahmat SMKN 8 Jeneponto
132 SYAMSUL ALAM SMAN 1 TAMALATEA JNP
133 TOMMY SMAN 1 BELOPA LUWU
134 Wira Handayani SMAN 1 Unggulan Kamanre
135 Yuslin SMA N 2 PASAR WAJO SULTRA
136 ZULFIAH MAN PANGKEP

Senyuman di balik awan

Posted by Lentera on Jumat, 21 Mei 2010 , under | komentar (1)



Apa arti sebuah senyuman? Senyuman adalah lambang kesenangan, seseorang akan tersenyum ketika mendapat sesuatu yang ia dambakan lalu menarik kedua otot pipinya sebagai tanda ia bahagia. Senyuman simetris kiri dan kanan disertai bahasa tubuh lain penting dalam menjalin sebuah relasi kata Ari Ginanjar, semua orang bisa tersenyum namun tidak semua bisa tulus dan menyenangkan orang lain kata Aa Gym, karena jika ukurannya hanya senyum maka Hitler dan Westerling pun tersenyum kala ia menghabisi nyawa para penentangnya. Senyum yang akan kita bahas adalah tipe senyum lain, senyuman yang terselip diantara kesusahan, pahit, getir, hambar. Otak memaksa untuk tersenyum, namun mata menangis dan hati meringis. Senyum sebagai pertahanan terakhir agar tidak kalah, bukan untuk menyenangkan orang lain, hanya sebagai satu-satunya sarana menghibur diri....

***

Aku terbangun cepat seperti biasanya, mendahului jiwa-jiwa yang masih nyenyak di zona unconscious dengan segala mimpi-mimpinya, sebelum sang ayam jantan mengepakkan sayapnya tiga kali, membusungkan dada dan mengumumkna bahwa demi malam akan segera beranjak pergi digantikan Putra sang fajar mengikuti ketetapan manzilah yang digariskan sang Maha kuasa. Selepas shubuh, kuambil semua pekerjaan rumah, mencuci piring dan memasak. Kutunaikan semua pekerjaan ibu, bukti baktiku karena ia pernah memberiku tempat diantara difragma dan tulang sulbinya.

Lima kilometer tidaklah terlalu panjang demikian bisik sanubari menghibur diri, lima kilometer adalah lambang perjuangan melawan segala keterbatasan. Jarak yang tiap hari menantangku dan tiap hari kutaklukkan demi menuntut sebaris ilmu. tak jarang aku terlambat datang kesekolah dan ditegur guru namun aku hanya bisa tersenyum dan minta maaf, bukan menangis agar beliau mengasihani dan memaafkanku, karena bagiku menangis dan mengeluh hanya untuk orang yang kalah dan aku sendiri tak akan mengalah pada zaman. Suatu ketika karena menghadapi ujian semester aku memotong jalan karena tak ingin terlambat, melewati kebun dan persawahan namun sang jarak nampaknya tersenyum sinis dan tak ingin kukalahkan dengan mudah, ia membentangkan sungai kecil di hadapanku, karena saat itu sedang musim hujan dan sedikit banjir. aku berhenti sejenak dan berpikir apakah aku akan melompati air ini? Nasib ternyata masih sedikit bermurah hati yang menginspirasiku dengan mengirimkan seseorang pria yang menyeberang dengan bertumpu pada kayu di tengah sungai, segera saja aku mengikuti caranya. Saat aku melompat tiba-tiba byurrr...splash... Kakiku terendam setinggi lutut dengan gerak reflex aku menyelamatkan rokku agar tidak basah. Ternyata itu jebakan, kayu itu terapung dan tidak mampu menahan beratku. Batinku berterak lantang “TIDAK PUASKAH KAU MEMPERMAINKANKU ??? desah nafasku menderu namun cepat-cepat aku beristighfar dan meredam emosi, karena tak ada gunanya mengeluh. Kini aku dihadapkan pada dua pilihan, pulang kerumah meski jaraknya sudah jauh atau tetap ke sekolah memakai sepatu dan kaos kaki basah dengan resiko teman akan menertawaiku. Bismillah... aku mengambil pilihan kedua !!. sesampai di sekolah teman seruangan ujianku telah berbaris rapi, aku pun langsung mengambil barisan, menyadari kehadiranku teman di depan menoleh dan memperhatikanku dari atas ke bawah. Pandangannya berhenti pada kaos kaki ku yang basah serta sepatuku yang berlumpur, dan reaksinya kemudian adalah tertawa, gelak tawa yang mengundang perhatian yang lain dan memicu reaksi berantai. Gelak tawa lain, pandangan merendahkan, serta bisikan membuatku merasa terpojok, tiba-tiba aku merasa seperti kancil malang diantara kumpulan gajah, meski beberapa dinatara mereka masih menaruh empati. Aku membalas tawa mereka dengan tersenyum, dengan senyum itu aku mencoba tegar dan tidak terpuruk dihadapan mereka. Ya... hanya senyum yang bisa kulakukan saat itu.

***

Hal lain yang tak bisa kulupakan suatu ketika selepas pulang sekolah. Saat itu raja siang sedang menunjukkan superioritasnya, kembali menguji ketegaranku di jalan lima kilometer itu. gelombang panas yang begitu dahsyat ia kirimkan menyajikan fatamorgana yang indah menari-nari namun sebenarnya hampa. Aku tak peduli dengan terik yang ia pertontonkan tapi ternyata skenarionya lain. Fatamorgana yang kelihatan seperti air sejuk malah memanaskan jalanan aspal yang kulalui dan melelehkan sol sepatu yang kupakai padahal perjalanan masih jauh. sepatu itu memang mudah meleleh karena bahan dasarnya dari karet dan didesain bukan untuk tahan panas melainkan tahan air. Sepatuku menyerah hari itu menghadapi nasib dan turut menyeretku ke lubang penderitaan yang lebih dalam. Kakiku terasa panas dan sakit karena langsung bersentuhan dengan aspal, melengkapi nelangsa bahwa hari itu kaki kananku sedang keseleo. Sambil memegang kaki kuseret tubuh dan langkahku menyusuri jalan itu, setiap langkahku seakan semakin memperdalam lukaku, hanya dengan bekal semangat dan manipulasi pikiran bahwa sebentar lagi aku sampai kerumah yang membuatku tetap bertahan dan tidak jatuh. Sesosok manusia memperhatikanku dari jauh, menghitung setiap gerak langkahku. Ibuku dengan pandangan sayu menungguku di gubuk kami yang beratapkan daun sagu. sesampai di rumah ibu memelukku erat, kami berdua menangis, menangisi nasib yang belum ingin berbelas kasihan kepada kami, namun aku percaya yang maha kuasa melihat kami dan akan tetap menyayangi kami dengan caranya. Jalan ini menjadi prasasti hidupku, bukti perjuanganku yang membedakan dengan teman main kecil yang jatuh dan berguguran di jalan lima kilometer ini hanya karena malu dan tak ingin jalan kaki ke sekolah. Yang membuatku tetap berjuang dan bertahan adalah motivasi. Motivasi inilah yang tetap memberiku mimpi dan suatu saat aku tak lagi menjadi Sang pemimpi namun sang penakluk mimpi yang setia tersenyum mengarungi hari

***

Ku duduk sendiri disini
meratapi nasib yang tak pasti
mencoba mengangkat wajah dari rumput gersang
tuk menatap langit yang telah usang

Tangis menghiasi hati yang terluka
sedang langit menyapaku dengan tawa
mungkin ia ingin menghiburku
dengan bentuk awan yang begitu lucu

kini impian telah pergi jauh
meninggalkanku yang sedang merintih
tak perlu disesali yang telah terjadi
inilah hidup yang harus dijalani

angin membawa kabar yang begitu gembira
mengembalikan nasib dan impian ke setitik cahaya
memberikan begitu banyak kebahagiaan
dengan senyuman dibalik awan

seri catatn interview beastudi ETOS

Yang tersisa dari aksi etos

Posted by Lentera on Selasa, 11 Mei 2010 , under | komentar (0)



Negeri ini sedang mempertontonkan opera kepada rakyatnya. Dimulai ketika bencana gempa sumatera barat. Peristiwa yang memilukan hati dan menggugah rasa kemanusiaan, selama kurang lebih sepekan berbagai media menampilkan kondisi pasca gempa, korban berjatuhan dan infrastruktur hancur membuat miris siapapun yang melihatnya, oleh pemerintah kejadian tersebut dihargai dana rekonstruksi Rp. 800 milyar, ya 800 M. kejadian yang begitu dahsyat, banyak korban jiwa cukup dihargai dengan jumlah segitu, namun yang ironi, untuk penyelamatan Bank Century, sebuah bank kecil yang bahkan mungkin kita tidak pernah mendengar sebelumnya sampai kasusnya muncul di TV, dengan dalih mencegah dampak sistemik pemerintah mengucurkan dana dengan angka luar biasa Rp. 6,7 TRILYUN !!!. butuh 7-8 gempa yang sama dengan tragedy di sumatera barat agar pemerintah mengucurkan dana segitu banyak, namun untuk kasus bank century yang hanya mewakili segelintir orang begitu gampangnya dana itu keluar. Sebuah lelucon yang tidak lucu sama sekali.

Belum reda kasus ini bergulir kembali departemen keuangan membuat sensasi. Seorang pegawai ditjen pajak bernama Gayus Tambunan menilap uang pajak sebesar 28 milyar. Gayus adalah seorang pegawai golongan III A, namun catatan kekayaannya mencengangkan. Memiliki beberapa rumah mewah, apartemen mewah dan tidak kurang lima mobil mewah, semuanya itu dilengkapi dengan tabungan Rp. 28 milyar, sebuah angka yang tidak mungkin jika hanya mengandalkan gaji pegawai negeri. Gaji para pegawai pajak lebih tinggi dibandingkan dengan pegawai lain, dengan asumsi bahwa mereka tiap hari bergelut dengan uang yang bisa membuat mereka silau maka departemen keuangan mengeluarkan kebijakan remunerasi, gaji pegawai keuangan dinaikkan agar tidak terjadi korupsi, namun semua itu tinggal mimpi, kalau kita berbicara usrusan dunia maka hal itu seperti air laut semakin diminum maka kita semakin haus. Bahkan menurut pengakuan gayus, untuk level pegawai golongan III A seperti dia kasus yang ia tangani hanyalah kasus kecil, dengan kata lain terungkapnya kasus gayus hanyalah fenomena gunung es di lingkungan pegawai pajak.

Semuanya itu dilengkapi dengan rencana departemen agama yang ingin mensentralisasi zakat. Jika kita lihat tinjauan syariah, memang bahwa seharusnya zakat itu dikelola Negara, namun ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam ini. Pertama pemerintah Indonesia tidak menganut system syariah jadi tidak fair jika kemuadian in gin memaksakan kehendaknya dengan dalih syariah, bahkan departemen agama pun tidak pernah berbicara mengelola Negara dengan system syariah. Pertanyaan yang lain juga bahwa kenapa departemen agama tiba-tiba berbicara syariah, kenapa dalam hal zakat saja. Jika kita merunut pada Rukum Islam yang lima perkara. Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat dan Haji, track record depag selama ini hanya mengurusi Zakat dan Haji, tidak konsen mengurusi syahadat, Sholat dan puasa karena tidak ada keuntungan financial yang bisa diambil dari ketiga hal tersebut, hal lain bahwa apakah penglolaan zakat dan haji oleh depag bagus??? Tidak sama sekali, masih segar dalam ingatan kita bagaimana jamaah haji terlunta lunta karena tidak mendapat menginapan dan makanan. Dan dengan entengnya menteri agama dalam jumpa persnya mengatakan hal itu terjadi karean pemerintahan tidak mendapatkan penginapan murah dan catering murah, orang rela membayar hingga Rp. 30 juta oleh departemen agama dihargai dengan penginapan murah dan catering murah. Belum lagi, mantan depag yang masuk penjara karena kasus korupsi. Sungguh memalukan, sebuah lembaga moral yang seharusnya mengajari rakyatnya beretika malah pimpinanya tersandung kasus akhlak.

dengan serangkaian isu tersebut, maka untuk pertama kalinya green light community turun gunung pertama kalinya untuk melakukan aksi. isu sentral yang diusung adalah sentralisasi zakat oleh departemen agama, ditambah dengan momen korupsi gayus maka kloplah sudah persiapan turun aksi. aksi dimulai dengan berkumpul di mesjid 45 lalu long march ke fly over selanjutnya bergantian orasi di bwah fly over. aksi berlangsung tertib, saya sendiri lebih banyak mengamati dari jauh dan berdiskusi dengan jajaran intelijen polresta makassar timur. Intel polisi banyak bertanya tentang organisasi ini, kenapa baru muncul dan isu apa yang diusung. saya lalu menjelaskan kepada pak polisi semua pertanyaannya, satu hal lagi yang saya tekankan kepada bapak intel bahwa aksi ini akan damai, tidak akan ada anarkis, kami sendiri ingin memperlihatkan bahwa menyampaikan pendapat itu bisa tetap santun tanpa ada pihak yang merasa di rugikan dengan aksi tersebut. aksi berlangsung terbit, selepas itu kami sedikit memberi ala kadarnya kepada pak polisi, komandan polisi terlihat sangat surprise dengan tersenyum dia berkata “Kalian demo setiap hari juga boleh, kalau kalian demo, saya duduk-duduk saja di pos sana karena saya yakin aksi kalian akan berlangsung aman. terima kasih nak”

Tamalanrea, 11 Mei 2010 selesai Ba’da isya, meski kelelahan selepas interview ETOS

Kontroversi Pergub retribusi mahasiswa profesi

Posted by Lentera on , under | komentar (0)



Pagi yang cerah untuk memulai hari, hari ini agenda ke Daya untuk tes wawancara namun dalam perjalanan ada pemandangan menarik, sekumpulan mahasiswa dengan memakai almamater merah sambil membawa poster berkumpul di depan PRIVATE CARE CENTER DR WAHIDIN SUDIROHUSODO, dari lambang atribut di lengan kanan almamater sepertinya mereka dari BEM Fakultas Kedokteran. saya bertanya dalam hati “ada apa mahasiswa kedokteran demo?”, “persoalan apa yang mereka tuntut” sampai akhirnya saya bertemu adik kelas yang sedang coass dan menjelaskan bahwa yang mendorong mereka aksi adalah peraturan gubernur tentang retribusi bagi coass dan residen serta semua mahasiswa yang magang di rumah sakit. Dalam hati saya berkata “Sudah lama kami di’pajaki’ di rumah sakit”.

Peristiwa menarik ini menjadi headline di media cetak selama beberapa hari. Jarang sekali mahasiswa kedokteran turun aksi, selama ini bagi mahasiswa lain, laskar hipokrates seperti bersembunyi di balik tembok kokoh fakultas kedokteran layaknya kerajaan dengan status otonomi khusus yang susah ditembus, sangat eksklusif dan para mahasiswa penghuninya pun tenggelam dalam tugas dan diktat tebalnya, dan jika mereka turun aksi pastilah ada Sesuatu yang mengusik ketenangannya dan membangunkan dari tidur panjangnya. Segera saja peristiwa ini jadi berita besar bahkan sampai beberapa “pembesar” kedoktran macam dr. Akbar Sp.S (Ketua ikatan dokter Indonesia), Prof. dr Syamsu Sp.PD (Ketua bidang pelayanan medis dan ketua PPDS FK UH) sampai rektor Unhas Prof Dr dr Idrus A Paturusi pun angkat bicara. sebuah bukti bahwa peristiwa ini bukan sesuatu yang main-main. Teriakan para Coass dan residen terdengar sangat keras bagai lonceng kematian bagi pemerintah provinsi bahkan pengamat sosiolog unhas menilai ini adalah blunder fatal Gubernur Syahrul Yasin Limpo dan bisa menjadi bola panas yang menggoyang kursi empuknya kepemimpinannya, tidak ingin sekedar dianggap menggertak pihak Fakultas Kedokteran menarik coass dan residen dari RS pemprov sebagai bukti keseriusan mereka. Segera saja diadakan pertemuan dengan pihak fakultas dan dinas kesehatan dan menghasilkan poin bahwa poin pergub retribusi residen dan coass untuk sementara ditangguhkan.

Ada beberapa poin penting dari aksi mahasiswa kedokteran ini Pertama : Stigma dan nilai para dokter di masyarakat sangat tinggi, ekslusivitas ini pintar dimanfaatkan oleh mahasiswa FK sehingga aksi ini mendapat simpati luar biasa bahkan media cetak menjadikannya headline, padahal dari segi skala dan jumlah mahasiswa yang diturunkan tidak jauh beda dengan aksi mahasiswa pada umumnya Kedua : Dukungan pihak birokrasi fakultas terhadap aksi mahasiswa ini membuatnya terdengar lebih nyaring. bahkan dengan tegas pihak menarik koass dan residen dari RS pemprov sebagai wujud dukungan nyata terhadap perjuangan mahasiswa. Ketiga : Solidaritas sesama komunitas berseragam putih juga patut mendapat apresiasi. Solidaritas itu ditunjukkan oleh dukungan ikatan dokter Indonesia sebagai organisasi profesi yang memayungi mereka. seakan akan para petinggi IDI berkata “Jangan main-main dengan para dokter”, karena mereka punya posisi dan bargaining untuk itu. singkat kata empat jempol buat aksi mahasiswa kedokteran ini karena merekayasa sedemikian rupa sehingga mendapat dukungan Media, eksekutif dan legislatif lantas membuat aksi ini terlihat dan terdengar besar. hal diatas membuat saya cemburu, sudah lama kita para perawat harus membayar upeti masuk rumah sakit, saya ingat sekali di gelombang kami kakak ners B pernah mempermasalahkan biaya praktek yang membengkak dari Rp. 36 ribu / minggu / bagian menjadi Rp. 80 ribu / minggu / bagian, kejadian ini menimbulkan riak namun tidak beresonansi. dan itu sudah berlangsung turun temurun. Pertanyaannya, uang yang kami bayarkan sebenarnya untuk apa? pihak PSIK menjelaskan bahwa itu untuk biaya CI lahan, sebesar itu kah biaya untuk CI lahan? kenapa tarif tiap rumah sakit berbeda-beda? apakah insentif CI juga beda-beda? bahkan beberapa dari kami malah terkadang tidak mendapat perlakuan simpatik dari CI lahan, dirumah sakit juga untuk duduk saja kita bersaing dengan mahasiswa lain. tetapi anehnya dalam sebuah keterangan pihak wahidin malah mengatakan retribusi itu adalah peraturan pemerintah, lantas kenapa mahasiswa kedokteran tidak membayar selama ini? bahkan pergub retribusi ini baru akan disahkan dan mendapat tentangan, Nah lho? Kedua : Advokasi pihak Institusi PSIK terhadap mahasiswa profesi ners seperti apa? dengan gagahnya Pihak FK mengawal aksi mahasiswanya sampai duduk bersama dengan pihak Dinas kesehatan untuk membahas hal ini. menarik para koass dan residen sebagai bukti mereka juga serius menanggapi isu ini. menanggapi hal ini pula Ketua forum PTS keperawatan se-Kopertis wilayah IX Sulawesi, Julianus Ake M.Kep mengumpulkan anggotanya untuk membahas hal ini. Sudahkah pihah PSIK melakukan hal sama? Ketiga : dukungan nyata juga terlihat dari IDI sebagai organisasi profesi dokter. kemana suara PPNI ? dukungan apa yang diberikan oleh organisasi profesi perawat ini? ataukah tidak peduli sama sekali?

Tulisan ini kami buat bukan untuk melecehkan atau merendahkan pihak manapun, motivasi dari tulisan ini semata-mata hanyalah bentuk keresahan dan kepedulian terhadap dunia keperawatan. kami melihat kejadian pergub retribusi ini bisa menjadi momen bagi seluruh perawat untuk menselaraskan langkahnya agar tak lagi dipandang sebelah mata, sampai kapan nasib kita harus diperjuangkan orang lain? kenapa bukan kita yang memperjuangkannya sendiri? jika permasalahan ini tidak mampu kita atasi, maka kesejajaran hanya akan menjadi bahan diskusi dalam kuliah dan terbatas terdengar di lantai empat PSIK saja. Kesejajaran yang kita idamkan hanya akan menjadi utopia selamanya, karena kita tidak mampu memposisikan diri sebagaimana mestinya.

Wallahu alam

Smile like Monalisa

Posted by Lentera on Jumat, 16 April 2010 , under | komentar (0)



Raut mukanya mendadak berubah merah padam, ada luapan emosi yang berusaha ia tahan ketika ditanya tentang keluarganya, akhirnya gemuruh dalam dadanya tak tertahankan, bendungan di sudut matanya pecah dan menumpahkan semua isinya, saya cuma bisa terdiam sembari sedapat mungkin memberikan empati atas kisah hidup seorang gadis yang ia rangkai kembali dalam ceritanya. Monalisa, demikian ia memperkenalkan namanya. Terlahir sebagai anak yang tanpa dosa seperti halnya anak lain yang ditakdirkan bisa menghirup nikmatnya udara dunia, namun sepertinya sang dewi fortuna masih enggan tersenyum dan menyapanya. Tidak pernah melihat wajah orangtuanya, karena ditinggal pergi sang ayah, tak lama setelah melahirkan sang ibu pun menyusul jejak sang ayah mengadu nasib di negeri orang sebagai tenaga kerja asing tanpa mengirim kabar sepatah kata pun. Jadilah sang Monalisa hidup dalam kasih sayang neneknya.

Kehadiran orang tua bukan hanya untuk memberi nafkah bagi anak-anaknya tapi juga mengisi profil keteladanan sebagai pria dan wanita dewasa yang menjadi panutan bagi kehidupannya, tentu saja juga sebagai samudera kasih sayang tempat sang anak berenang jika ingin sejenak melepaskan penatnya dari beban dunia. Sayang bagi monalisa, penjelasan diatas hanyalah sebuah utopia yang terlalu tinggi, jangan kata dinafkahi, menjadi teladan, mendapat belaian kasih sayang bahkan untuk mengingat seperti apa rupa orang tuanya ia tidak bisa, ia masih terlalu kecil saat ditinggal sehingga mustahil untuk mengingatnya, jadilah ia tumbuh seperti kaktus di ladang sahara, bertahan dengan bekal seadanya dalam mengarungi kehidupan dan tak berharap hujan turun mengobati kehausannya.

Monalisa adalah anak yang supel, pandai bergaul, membuat orang senang dan tertawa jika berada di dekatnya, namun bagi orang yang mampu melihat jauh kedalam sanubarinya, hal tersebut adalah sebuah kompensasi dari luka yang menganga dalam jiwanya, bahwa itu adalah mekanisme yang mendorongnya bersikap karena profil dan kasih sayang orang tua yang tidak pernah ia dapatkan, dan berusaha ia cari serta menemukan perhatian dan kasih sayang di setiap orang yang ia jumpai.

Monalisa hanyalah satu dari sekian banyak potret bunga bangsa yang menjerit minta diperhatikan oleh tirani sang penguasa, entah teriakannya yang terlalu kecil ataukah membrane timpani kaum borjuis eksekutif sudah kebal sehingga teriakan seperti itu tak berpengaruh lagi baginya, sepertinya bagi mereka melayani permintaan “Paman Sam” dengan dalih perang global melawan terorisme jauh lebih penting daripada mengurusi perut rakyatnya yang merintih karena kelaparan ataukah mencerdaskan anak bangsa seperti yang diamanahkan para pendiri bangsa ini dalam pembukaan undang-undang dasar. Ah… tidak ada gunanya mengutuki bangsa ini, karena kita pun ada di dalamnya dan mungkin berkontribusi terhadapnya. Tidak produktif mengutuki dan memaki jika tersesat dalam kegelapan harusnya kita menyalakan lilin dan mencari jalan keluar

Singkat cerita dengan segala latar belakang hidup serta kemampuan akademik yang mumpuni monalisa akhirnya di terima di barisan “panitia orang sukses Indonesia”, ia kini punya rumah baru bernama “kampus alternative” tempat ia berbagi cerita tentang hari yang dilauinya dengan belasan anak lain yang bernasib mirip dengannya. Monalisa kini bisa tersenyum ceria dan kembali merajut mimpinya di salah satu bangku universitas terbesar di Indonesia timur tepatnya bersama para akademia hipokrates.

***

Kami berharap seiring berjalannya waktu bisa mengobati luka monalisa dan memang hasil psikotestnya menyarankan ia menemukan lingkungan ideal, kami bermimpi bahwa kamilah keluarga baru yang bisa menyembuhkan lukanya walau kami yakin itu butuh waktu, namun ada hal yang di luar kuasa kami, monalisa meminta lebih dari yang kami bisa berikan, sifat manjanya terkadang berlebihan, cenderung keras kepala dan susah diatur. berbagai macam laporan tindakannya kami terima namun kami masih berharap dia bisa memperbaikinya karena ada latar belakang hidupnya, trauma masa lalu yang membentuknya sehingga berprilaku seperti itu, hal lain bahwa kondisi ekonomi keluarganya carut marut sehingga hal tersebut kami masih toleransi dan hanya memberi peringatan.

Namun laporan terakhir terlalu parah, diantar pulang keasrama jam 2 malam, berteriak minta dibukakan pintu dan menantang pendamping untuk menjatuhkan sanksi, semuanya itu sudah cukup bagi kami untuk mengambil sebuah keputusan hal ini harus diakhiri sebelum menjalar ke adek yang lain. malam itu monalisa harus mengakhiri kisahnya bersama keluarga besar Green light community, keputusan sulit namun itu yang harus diambil. yang aneh malam itu monalisa tersenyum, ya… dia tersenyum… entah apa arti senyuman itu, dalam kondisi menerima hukuman dia masih bisa tersenyum, apakah itu seperti fenomena Amrozy yang tersenyum ketika dijatuhi hukuman mati? yang membuat gregetan orang Australia sehingga dijuluki the smiling bomber? setelah kejadian itupun ketika berjumpa dia masih tetap tersenyum, tidak berubah, sama seperti senyum saat diterima menjadi bagian dari kami, saya pun berusaha tersenyum namun itu saya paksa untuk menghargai senyumnya.

Satu hal yang menggelayut di pikiranku… bisakah kami tersenyum seperti Monalisa…?

Monalisa, dimanapun engkau berada, apa pun aktivitas mu sekarang kami masih berharap engkau menjadi manusia yang lebih baik wallahu alam

Diiringi instrumentalia Elegance of pachelbel akhirnya selesai menjelang maghrib Tamalanrea 160410

Perempuan penghuni surga

Posted by Lentera on , under | komentar (0)



Sinar mentari senja mulai menguning keemasan, semilir angin menerbangkan debu jalanan dan sejenak mempermainkannya membentuk pusaran di udara, seakan ingin menegaskan superioritasnya meski dalam skala kecil, cukup untuk membuat batuk dan membangkitkan asma bagi alergi terhadapnya, lingkungan yang cukup tenang dikelilingi persawahan, sebagian jalan aspalnya rusak terkelupas menunggu perbaikan, itulah gambaran eksotis dari Dusun Kalemanjalling Kelurahan Manjalling Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa. Di tempat tersebut beberapa waktu yang lalu aku membantu adik kelas yang sedang meneliti tentang hipertensi, dari laporan mahasiswa profesi komunitas sebelumnya bahwa di daerah tersebut banyak ditemukan penduduk dengan riwayat tekanan darah cukup tinggi. Menjadi penerjemah dikarenakan adik kelas yang meneliti bukan putra daerah yang mengerti bahasa ibu yang digunakan penduduk setempat.

Dari perhitungan populasi maka sampel yang dibutuhkan kurang 14 lagi, jika hari ini tercapai kuotanya maka pengambilan sampel bisa diakhiri. Sambutan warga cukup ramah menyambut kedatangan kami, dan dengan senang hati diukur tekan darah serta diberikan pertanyaan yang ada dalam kuesioner, tekadang hanya satu sampel yang diminta malah tetangganya pada dengan sukarela berdatangan menawarkan diri untuk diperiksa. “Bisa cepat selesai nih kalo kayak gini” ujarku, adik kelas yang punya hajat penelitian Cuma tersenyum senang. Sedang ramai hiruk-pikuk oleh celotehan ibu-ibu yang sedang diperiksa dan diwawancarai tiba-tiba seorang perempuan paruh baya datang, raut lelah tergambar sekilas dari muka sang ibu
“Sedang periksa tekanan darah dek?” Tanya ibu itu
“Oh iya bu, kebetulan kami mahasiswa keperawatan yang sedang melakukan penelitian disini”
“Habis ini bisa tidak kesebelah periksa bapak?”
sambil menunjuk sebuah rumah
“Oh.. yang ada kursi roda di depannya?
“Iya”
“Kami tadi dari sebelah bu Cuma tertutup jadi kami kira tidak ada orang”
“Saya tadi ada di dapur, minta tolong kesebelah dek ya”
“Iya bu Insya Allah”

Selesai dengan kerumunan heboh ibu-ibu yang minta diperiksa kami lalu beres-beres dan bersiap menuju rumah ibu yang tadi baru datang.

“Assalamu alaikum” ujarku sambil mengetuk pintu
Tiga kali saya mengetuk pintu sambil mengucapkan salam, pada saat akan berbalik, barulah muncul jawaban dari dalam rumah
“Waalaikum salam” sang ibu tadi terburu-buru membuka pintu
Maaf dek ya sudah buat adek menunggu” ujarnya merasa bersalah
“Nggak apa-apa bu, lagian kami tidak buru-buru kok, iya kan?” ujarku sambil menoleh ke adek kelas yang saya temani.
“Silahkan masuk dek”
“Oh iya, terima kasih”

Sejenak kulepaskan pandangan menelusuri sudut rumah, “Rumah ini besar, dua lantai, berlantai tegel, sofa bagus, sangat mencolok diantara perumahan penduduk desa yang sebagin besar masih sederhana” gumamku Cuma satu hal yang mengelayut dipikiranku, kenapa rumah sebesar ini sepi? Terlalu sepi untuk ukuran rumah sebagus ini, kemana para penghuninya?
“Silahkan duduk dek” perkataan sang ibu tadi membuyarkan lamunanku
“Yang mana yang mau diperiksa bu?” tanyaku
“itu, Bapak” sambil menunjuk ke salah satu sudut rumah
Terlalu asik menerawang membuatku ternyata melangkahi satu bagian rumah, bahwa dari tadi memang ada seorang manusia yang sedang duduk di atas kasur. Dari penglihatan pertamaku, tampilan sang bapak dengan muka tidak simetris lagi serta salah satu tangannya fleksi abnormal (bengkok, red) naluriku bisa mengambil kesimpulan bapak ini menderita stroke, dan dugaanku tidak salah

Saya lalu mendekat bapak tadi, lalu mencoba berinteraksi dengan ramah
“Assalamu alaikum pak, nama saya misbah pak, kami mahasiswa unhas yang sedang melakukan penelitian dan istri bapak meminta kami kesini untuk memeriksa bapak” ujarku memperkenalkan diri
“Oh ya ini adik kelas saya pak” sambil menunjuk perempuan berjilbab putih di dekatku.
“Boleh saya periksa pak?”
“ehhh…eh…”
jawab bapak tadi melenguh, berbicara pelo, seperti anak kecil yang baru belajar bicara
Sambil memasang manset tensimeter saya bertanya kepada istri sang bapak tentang riwayat penyakit suaminya
“sudah berapa lama bapak menderita stroke seperti ini bu?” tanyaku
“Sudah kurang lebih dua tahun, ini serangan kedua”
“bapak pernah dirawat di rumah sakit bu?”
“Iya, tapi setelah itu boleh rawat jalan saat serangan pertama”
“Pekerjaan bapak apa”
tanyaku lagi
“Beliau pensiunan guru”
“Banyak pikiran kali bapak ya Bu, hingga bisa kayak gini?”
“Sebenarnya karena kebisaan bapak dek”
“maksudnya bu?”

Sang ibu terdiam sejenak, melihat kearah suaminya menghela nafas panjang, ada hal berat yang sepertinya ia ingin ungkapkan
“Sudah lama bapak menderita tekanan darah tinggi dan diminta dokter untuk mengontrol makanannya”
“Namun bapak tidak pernah mendengar, ia sering makan coto dan selalu mengandalkan obat captoprilnya untuk mengontrol tekanan darahnya” ia melanjutkan kembali

“Seperti inilah hasilnya”
sambil membelai suaminya Saya serius mendengarkan penjelasan ibu tadi, bisa saya tebak selama suaminya sakit dialah yang begitu setia mendampinginya karena saya tidak melihat seorang pun di rumah ini selain dia. Sang bapak ini telah ketergantungan total terhadap pemenuhan kebutuhan dirinya, bahkan ia memakai Pempers khusus dewasa, karena ia tidak mampu ke toilet dan minta tolong untuk itu jika ingin buang hajat. Masih banyak stok pempers di buffet dekat tempat tidurnya. Ia dimandikan dan disuapi kala makan oleh istrinya. “berapa hasil tensi bapak dek?” kembali pertanyaan ibu tadi mengembalikan jiwaku ke alam nyata Keningku berkerut, lalu menggeleng-geleng
“Tinggi sekali bu 180/100”
“Masih belum berubah”
jawabnya sambil menunduk
“Ibu yang sabar ya, jangan terlalu banyak pikiran bu, jangan sampai ibu yang sakit, tidak ada lagi yang bisa merawat bapak”
“Gimana saya tidak banyak pikiran dek, kalo liat kondisi bapak kayak begini, belum lagi anak saya yang kuliah selalu minta uang”
“Baru-baru ia minta uang PKL lima juta rupiah, dimana saya harus ambil uang sebanyak itu?”
desahnya lagi
Saya tidak menjawab pertanyaan ibu tadi, mencoba memahami perasaan dan kondisinya, saya mencoba mendengar aktif, tidak menyela barang sepatah kata pun, membiarkan sang ibu mengalirkan semua emosinya. Saya jadi tahu kenapa garis muka kelelahan tergambar jelas di wajahnya dan yang membuat saya khawatir juga karena tekanan darah sang ibu juga tinggi 140/90.

Selesai memeriksa suami sang ibu, kami minta pamit
“hari ini kita dapat pelajaran berharga, ibu tadi baru saja mengajari kita tentang pengorbanan”
“Subhanallah ibu tadi adalah penghuni surga, jika beliau ikhlas merawat suaminya, tanpa mengeluh, mendirikan sholat, puasa, zakat, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya, maka sang ibu tadi akan memasuki surga dari pintu mana saja ia suka”
“Amin.. amin ya Allah”
jawab adik kelasku yang punya hajatan penelitian…