jalan cinta para pejuang
Di sana, ada cita dan tujuan
Yang membuatmu menatap jauh kedepan
Di kala malam begitu pekat
Dan mata sebaiknya dipejam saja
Cintamu masih lincah melesat
Jauh melampaui ruang dan masa
Kelananya menjejakkan mimpi-mimpi
Lalu di sepertiga malam terakhir
Engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan mampu
Melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
Dengan cita yang besar, tinggi dan bening
Dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
Dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
Dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati
Teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang
Menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban
Menyeru pada iman
Walau duri merantaskan kaki
Walau kerikil mencacah telapak
Sampai engkau lelah, sampai engaku payah
Sampai keringat dan darah tumpah
Tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
Di jalan cinta para pejuang
Salim A. Fillah
Nasi kuning surprise
Pagi di asrama Etos
“Ouchh…” Rasa pedih mulai menusuk di ujung processus xifoideus ku, produksi HCl meningkat pada organ Gaster, sebuah alarm biologis pertanda salah satu hirarki dasar Maslow harus ditunaikan. Makan !.
Kulirik sekitar, Erland masih menikmati dadar paginya, dan Fahmi baru saja selesai dengan menu sarapannya.
“Masih ada nasi nggak?” tanyaku
“Habis kak, ini yang terakhir nih” Jawab erland
“Yah…apes deh” desahku
Tak lama kemudian Eli masuk membawa bungkusan
“berapa harga Nasi kuningnya?”
“ 6000 “ kilah eli singkat
“Mahal juga” gumamku “Eh, belinya dimana”
“Tuh depan rumah” jawabnya singkat
“buruan kak, biasanya disana pembeli ngantri” sela Ikhsan tiba-tiba
“Iya makan aja dulu” pinta fahmi yang entah sudah berapa kali dia ingetin, dari tadi menunggu giliran ngenet soalnya
“Iya..iya, main noh kalo mau” ketusku
“Asik” Jawab Fahmi sumringah
Di warung nasi kuning
“Nasi kuningnya berapa mas?” tanyaku formalitas
“tergantung menunya mas kalo pake Ayam Rp. 6000 kalo pake Telur Rp. 5000” jawab seorang pria paruh baya
“Kalo nggak pake ayam nggak pake telur?” tanyaku :p
“tunggu sebentar mas ya” , mas tadi kemudian masuk warung bertanya ke istrinya
“Ora pake ayam, ora pake telor piro?”
“Empat ribu” terdengar suara dari balik bilik
“Empat ribu mas,
“gak usah pake ayam ato telur mas ya, Maklum lagi seret nih” cengengesan
“nanti istri saya yang layani ya” kata mas tadi sopan
“O.K” mengangguk
“Bungkus apa makan sini Mas?” Tanya si mbak
“Bungkus aja mbak”
“Tunggu bentar mas ya”
“Eh ada Koran nih” gumamku, sambil nunggu si mbak bungkus nasinya mending baca Koran
Apa nih berita hari ini? Mmmm… PSM kalah lagi… yah!!… trus BBM turun jadi Rp. 5500…
Lagi asik baca Koran tiba-tiba si mbak-nya muncul
“Mas, kalo lagi nggak punya uang makan saja dulu, nanti bayarnya belakangan” kata si mbak serius
“@#$??? ” BENGONG
“Iya mas saya tahu kok mahasiswa itu gimana, Cuma dapat kriman sekali sebulan kan?” si mas menambahi
“Bukan begitu maksud saya” PANIK,
“kok tiba-tiba jadi begini sih?” gumamku
“Ga papa kok mas, mahasiswa belakang juga kayak gitu” sambil nunjuk asrama sebelah
“Aduh mati dah gue”gumamku sambil megang jidat
Habis dapat nasinya saya buru-buru pergi dari warung itu, MALU BERAT. Padahal awalnya saya ngomong bahwa lagi seret cuman main-main, eh taunya si mas en si Mbak nanggapin serius
Belajar dari Ayyub
Sudah empat hari ini tubuhku memaksa berlama-lama di pulau kapuk . Mungkin ini flu terparah dalam sejarah hidupku. Biasanya kalau sudah mulai musim hujan, tubuh saya berespon dengan kontraksi otak (sakit kepala, red) selama sehari, malamnya disusul reaksi berlebih hipotalamus (demam, red) kemudian ditutup dengan overproduksi sekret di mukosa hidung (ingusan, red) paling lama seminggu. Paling banter di kasih Paracetamol atau Decolgen sudah cukup untuk kenyamanan istirahat.
Tapi kali ini?, Demam dan sakit kepala datang bersamaan, selama empat hari lagi (tersiksa banget kan?), terus malah gak ingusan? Saya terpapar virus varian baru kali ya? Tapi bukan flu burung lho !!, jadi kalo ente mau berpikir ngaco, sebaiknya buang jauh-jauh dari batok tengkorakmu karena gejala flu burung tidak seperti ini :p.
Saya coba melawannya dengan jurus Paracetamol, tapi gak mempan. Lalu Asam Mefenamat, masih gak ngaruh, DECOLGEN !! masih ngeyel juga (nih penyakit maunya apa sih?). Lalu kemudian saya pelajari jutsu baru “Demacolin” (ngambilnya di rak obatnya ETOS) dengan mengaktifkan bersamaan cakra Paracetamol, Pseudoefedrin HCl, Chlorpenamine maleate, dan Caffein. Awalnya saya ragu, ini obat cocok gak sih dengan saya, kira-kira kontraindikasinya apa? Saya kan dah coba Paracetamol tapi gak ngefek, mana ada Caffeinnya lagi, nanti gak bisa tidur en jantung berdebar dibuatnya. Tapi Bismillah, malam ini saya ingin tidur nyenyak. I’ll take that risk.
Alhamdulillah, malam ini saya tidur seperti bayi . Tapi besoknya si Flu nya masih kembali. Emang sih yang namanya flu gak ada obatnya, yang ada Cuma bersifat Simptomatik (meringankan gejala), makanya obat flu yang beredar beredar di pasaran mengatakan “Meredakan flu” dan bukan “mengobati Flu” karena flu disebabkan Virus.
Sholat di mesjid rasanya mau ambruk, setiap kali rukuk dan sujud rasanya kepala dijejali beban 1 ton. I’tidal dan bangkit dari sujud perasaan oleng ke kiri, sendi rasanya terkunci. Jadinya subuh hari ini penuh perjuangan, untung subuh Cuma dua rakaat, kalo kayak terawih? Mati ma’ mungkin kodong.
Sepanjang dua rakaat itu, subuhku ini jauh dari khusuk. Yang terjadi adalah gejala internalisasi atau percakapan dengan diri sendiri, tapi saya lebih senang menyebutnya dengan pertarungan Hak dan Bathil.
“Kamu lagi sakit, kayaknya sholat di rumah pun bisa dimaklumi” oceh bagian lain tubuhku santai.
“Maksudmu?” konfirmasi bagian lain
“Ya.. lihat saja keadaanmu?, kamu begitu tersiksa,”
“Jangan Manja kamu!!”
“Manja gimana? Jujur saja, sholatmu jauh dari khusuk, itukah persembahanmu kepada Tuhanmu? Kasihan…” lanjutnya masih bersusaha meyakinkan.
… Hening sejenak
“Misbah…, saya ingin kamu ingat nabi Ayyub, kamu tahu kisahnya kan? Deritanya? Bahkan dalam keadaan sakit pun tak menghalanginya berkhalwat dengan Tuhannya!!” ucapnya dengan serius dengan nada yang semakin meninggi.
“Alah… gak usah sok perfeksionis gitu, Look yourself man, You’re not a prophet!” sanggahnya, memotong pembicaraan tiba-tiba.
“Ini bukan soal perfeksionis atau bukan, tapi ini perintah sholat, ibadah spesial yang langsung dijemput nabimu di Arasy-Nya”tegasnya
“Catat, Saya nggak menyuruhmu meninggalkan sholat, tapi saya Cuma ingin kamu mengasihani dirimu sendiri, itu saja gak kurang gak lebih”bantahnya tidak kalah sengit
“Misbah, gak usah dengarkan dia. Kamu tahu apa permintaan Nabi Ayyub Ketika perniagaannya merugi? Anak-anaknya meninggal? Ketika ditinggalkan istrinya? ketika terkena penyakit sekujur tubuhnya?Dia tidak minta sembuh, yang dia minta adalah… yang diharapnya adalah… semoga penyakitnya tidak menyerang lidahnya yang bisa membatasinya menyebut Asma Allah”
Mataku mulai berkaca-kaca…
Si sinis pun terdiam, mungkin kehabisan akal,.
“Tidak inginkah kau seperti dia? Apa yang menimpamu belum apa-apa” si tulus masih menceramahiku
Lalu tiba-tiba “Assalamu alaikum warahmatullah..”
“Assalamu alaikum warahmatullah..” pak imam mengakhiri sholat shubuhnya.
Sejurus kemudian dengan lantunan merdu “Allahu akbar…Allahu akbar… Allahu akbar… La ilaha illallah huwallahu akbar… Allahu akbar walillahilhamdu” pak imam memimpin takbir ba’da shubuh yang memang masih suasana idul adha.
Gemuruh Takbir indah, menyibak fajar yang masih samar-samar.
Mendinginkan hati siapa saja yang mendengarkan.
Sebuah kalimat singkat namun bermakna besar, bahwa Dialah yang pantas merasa besar dan kita besarkan.
“Ya Allah… meskipun Sayyid Qutb mengatakan Sakit adalah istirahatnya para aktivis, tapi hamba yakin alpa di masjid bukan bagian dari itu”
“Ya Allah… ajarilahhamba seperti Ayyub-Mu, yang tak pernah mengeluh menghadapi ujian-Mu”
“Ya Allah… Hamba tidak ingin meminta kesembuhan dari-Mu karena hamba tahu, nikmat-Mu jauh lebih besar dari ujian-Mu”
“Hamba hanya ingin ujian-Mu menjadi menebus dosa dan kehilafan hamba kepada-Mu, olehnya itu Ya Allah…”
“Jadikanlah sabar terpatri di dada hamba, jadikanlah bahu ini kuat menghadapi cobaan-Mu, Ya Azis”
“Terimalah permintaan tulus hamba wahai dzat pemilik semesta alam”
Lelaki yang menangis...
Setelah berjuang sebulan penuh mengejar deadline ujian skripsi. Mulai dari perbaikan proposal, penelitian, analisa data, konsul pembimbing, ujian hasil lalu perbaikan lagi, betul-betul menguras energy dan waktu. Fiuhh… idul adha ini akhirnya saya pulang kampung juga,
Walaupun sebenarnya jarak rumah dengan kampus, yah… gak jauh-jauh amat untuk ukuran mahasiswa pendatang. Memang sih dari kabupaten berbeda tapi Cuma ditempuh selama tiga puluh menit dengan memakai angkutan umum, namun disitulah masalahnya, harus tiga kali ganti angkot jadinya energy kebanyakan terkuras di angkot belum lagi sewa yang lumayan mahal, akhirnya saya memutuskan untuk indekos.
Pulang kampung kali ini pokoknya saya ingin istirahat total!! Begitu yang kutanamkan dalam-dalam. Sejenak melupakan beban kampus, sebelum akhirnya ketemu beban lebih berat di klinik . Di kampung kesempatan birrul walidain dengan bunda tercinta lebih besar, silaturahim dengan tetangga, melepas rindu dengan ponakan dan bersua dengan pohon mangga depan rumah (maksudnya makan mangga!!).
Eh… Di rumah, malah banyak kerjaan yang menunggu. Maklum Sebagai anak lelaki terakhir yang tinggal di rumah karena kakak lelaki merantau semua, artinya semua kerjaan yang sifatnya fisik akan dialamatkan ke saya. Mulai dari ngantar ibu ngajar, ngisi ulang galon, angkat beras sampai jagain api buras agar tidak padam belum lagi ponakan yang terus ngajak main, jadinya istirahat totalnya Cuma jadi angan-angan.
Lagi asik baca cerpen (waktu nungguin buras), azan maghrib berkumandang.
“Bu saya ke mesjid dulu ya” ujarku pamit
Setelah berjalan lima menit, Alhamdulillah sampai di Mesjid masih dapat sholat sunnah sampai Pak imam datang. Di mesjid kondisinya sudah berubah, catnya sudah baru, dindingnya sudah di dekorasi, atapnya sudah tidak bolong bahkan statusnya pun berubah menjadi mesjid kecamatan, Cuma satu yang kekal… jamaahnya segitu-gitu aja. Penghuni Mesjid ku sayang tidak sampai satu shaf itupun dengan jamaah yang sudah bau tanah,
“Kemana anak mudanya?” gumamku
“Oo…baru ingat, tadi saya lewati kumpulan anak muda yang nongkrong di rental PS, di pos ronda main gitar gangguin cewek lewat. Sungguh komunitas tidak produktif, kapan Indonesia bisa maju? Kapan Islam akan jaya kalau generasi mudanya kayak gini?”
Lagi asik-asik menerawang tahu-tahu Pak Imam sudah berdiri di mihrab seraya berujar
“Shaf diluruskan dan dirapatkan, lurus dan rapatnya shaf termasuk kesempurnaan shalat”
Saya kemudian mengambil baris paling pinggir lalu merapatkan shaf dengan pak tua di samping saya. Tapi anehnya… pak tua tadi menatap tajam lalu kemudian menarik kakinya.
“Kok kayak gini ya tatapan nih bapak?, salah saya apa?” sambil kembali merapatkan kaki dengan si Bapak
“JANGAN DISENTUH !!” tiba-tiba suara pak Tua meninggi
Sontak semua jamaah menoleh kearah kami
“Shafnya dirapatkan pak” ujarku kesal
“SAYA TAHU, TAPI SAYA TIDAK SUKA DISENTUH-SENTUH” ketusnya lagi
Pak imam memberi isyarat dengan dengan matanya.
“Ok saya ngalah…” masih belum ikhlas
Pak imam sudah memulai takbiratul ihram saat saya masih meng”scan” pak tua tadi.
“Bapak ini termasuk jamaah yang rajin ke mesjid, Lima waktu selalu di “Baitullah”, selalu lengkap dengan kacamata tebal, safari dan sajadahnya. Pensiunan PNS, mungkin terkena post power syndrome kali ya, makanya tidak mau menerima saran, mungkin pak tua ini harusnya tarbiyah”. Asik menggumam membangun persepsi sendiri.
Sampai berlalu rakaat pertama kemudian sayup-sayup terdengar isak tangis. Isak yang semakin lama-semakin nyaring, isak pak tua yang berdiri tepat disebelahku.
“ASTAGFIRULLAH !!” apa yang telah kulakukan
Sesaat sebelumnya saya masih asik berprasangka terhadap bapak tadi bahwa saya anak tarbiyahan, bahwa dia terkena post power syndrome ternyata saya tidak lebih baik dari dia.
Bahwa meluruskan dan merapatkan shaf adalah sebuah keutamaan, tetapi bukankah menangis dalam sholat adalah sebuah pengalaman spiritual yang luar biasa?
Hanya orang tertentu saja yang mampu meneteskan air mata ketika ayat Allah dibacakan, yang bergetar hatinya dan semakin bertambah keimanannya ketika disebut asma Allah dan bapak tua ini termasuk di dalamnya, sedangkan aku? Hanya karena rutin ke mesjid dan tertarbiyah saya sudah sombong dan membanggakan diri meskipun itu dalam hati….
“Ya Allah… ampuni hambamu yang lemah ini, terimakasih engkau telah menegurku dengan cara-Mu”
“Ya Allah… jadikanlah hamba tidak tinggi hati dan merasa lebih dibandingkan yang lain karena sesungguhnya sifat Besar hanyalah milikmu”
“Ya Allah… jadikanlah ikhlas ibadah hamba hanya untukmu dan bukan karena apa dan ingin dilihat siapa”
Ya Robbi… hamba telah menzalimi diri kami sendiri, jika engkau tidak memaafkan kami, sesungguhnya kami adalah orang yang merugi…”
Catatan pulang kampung yang berkesan
Tamalanrea, 131208
Doa Khatmil Qur'an
Ya Allah……..,
dengan Al Qur’an, Karuniakanlah kasih sayang-Mu kepada hamba.
Jadikanlah Al Qur’an sebagai iman, cahaya, hidayah dan sumber rahmat bagi hamba.
Ya Allah………,
ingatkan hamba bila ada ayat yang hamba lupa mengingatnya.
Ajarkan hamba bila ada ayat yang hamba bodoh memahaminya
Karuniakanlah kepada hamba kenikmatan membacanya sepanjang waktu
Baik tengah malam atau tengah hari
Jadikanlah Al Qur’an sebagai hujjah bagi hamba, Ya Rabbul alamin
Ya Allah……….,
karuniakan kebaikan beragama sebagai kunci kehormatan Bagi hamba
Karuniakan kebaikan dunia sebagai tempat menjalani hidup hamba
Karuniakan kebaikan akhirat sebagai tempat kembali hamba
Jadikan kehidupan hamba senantiasa lebih baik
Jadikan kematian hamba sebagai wasilah pembebas dari segala keburukan
Ya Allah…………,
jadikan umur terbaik hamba di penghujungnya
Jadikan amal terbaik hamba di penutupnya
Jadikan hari-hari terbaik hamba saat bertemu denganMu
Ya Allah………….,
Hamba memohon kepadamu permintaan terbaik, doa terbaik kesuksesan terbaik
Ilmu terbaik, amal terbaik, pahala terbaik, kematian terbaik.
Kuatkanlah hamba, beratkanlah timbangan kebajikan hamba
Realisasikan keimanan hamba, tinggikan derajat hamba
Terima sholat hamba Ampuni dosa-dosa hamba
Ya Allah….,
Anugerahkanlah kepada kami rasa takut yang membatasi kami berbuat maksiat kepadaMu
Anugerahkanlah kepada kami ketaatan yang akan mengantarkan kami ke surgaMu
Anugerahkanlah kepada kami keyakinan yang meringankan kami menhadapai musibahMu
Ya Allah……
Anugerahkanlah kepada kami kenikmatan penglihatan, pendengaran dan kekuatan selama kami hidup
Jadikanlah ia warisan dari kami
Jadikanlah balasan atas orang-orang yang menganiaya kami
Dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami
Jangan engakau jadikan musibah ada dalam urusan agama kami
Jangan engkau jadikan dunia menjadi cita-cita terbesar kami
Jangan engkau jadikan dunia menjadi puncak dari ilmu kami
Jangan engkau jadikan berkuasa atas kami, orang-orang yang tidak mengasihi kami
Ya Allah……
Jangan engkau tinggalkan dosa melainkan engkau ampuni
Tidak ada kegalauan melainkan engkau beri jalan keluar
Tidak ada hutang melainkan engkau penuhi
Tidak ada kebutuhan dunia dan akhirat melainkan beri, wahai Tuhan semesta alam
Ya Rabb…..
Berikan kepada kami kebaikan dunia dan akhirat
Serta jagalah kami dari api neraka
Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad
Serta sahabat terpilih
Seandainya Cinta laura jd Kepala P.U
Orang bijak taat pajak
Dilarang parkir sampai rambu berikutnya
awas busway kali ya maksudnya ??
Maksudnya hati-hati jalan becek
Syekh Puji
Beberapa berita ramai menghias media elektronik akhir-akhir ini, dimulai dengan kemenangan sensasional Barack Obama, rencana eksekusi trio bom Bali dan tak kalah yang menyedot perhatian adalah berita pernikahan seorang pengusaha dengan anak 12 tahu.

