Latest News

MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT

Posted by Lentera on Selasa, 02 Februari 2010 , under | komentar (0)



Based on True Story.. ( is it true? -red.) Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak. Disinilah awal cobaan menerpa,setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin sekali merawat Ibu, semenjak kami kecil melihat Bapak merawat Ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir Bapak....... ..bahkan Bapak tidak ijinkan kami menjaga Ibu" .

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "Sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan Bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya. Kapan Bapak menikmati masa tua Bapak. Dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat Bapak, kami janji kami akan merawat Ibu sebaik-baik secara bergantian".

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka..."

Anak2ku ......... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin Bapak akan menikah..... .tapi ketahuilah dengan adanya Ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian..

Sejenak kerongkongannya tersekat,...

"Kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya Ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini."

"Kalian menginginkan Bapak bahagia, apakah batin Bapak bisa bahagia meninggalkan Ibumu dengan keadaanya sekarang,kalian menginginkan Bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain,bagaimana dengan Ibumu yg masih sakit."

Sejenak meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno. Merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno... Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu...

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi narasumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yg sudah tidak bisa apa2..

Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita...

"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya,mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata,dan dia memberi saya 4 oranganak yg lucu2.. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya... Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,"

* Dari seorang kawan nun di milist seberang sana... Semoga menginspirasi. ..

Lowongan Beasiswa ETOS

Posted by Lentera on Rabu, 13 Januari 2010 , under | komentar (0)



UNTUK ANDA ... CALON ORANG SUKSES INDONESIA !!!

Beastudi Etos membuka

SELEKSI NASIONAL BEASTUDI ETOS TAHUN 2010 SELEKSI Pendaftaran : 11 Januari 2010 – 11 April 2010 Quota penerimaan : 135 mahasiswa per tahun

Persyaratan Umum : 1. Lulus SMA/sederajat , dan akan masuk Perguruan Tinggi melalui jalur SPMB, UM, dan PMDK 2. Diterima pada PTN dan jurusan yang direkomendasikan Beastudi Etos

Persyaratan Khusus : 1. Berasal dari keluarga tidak mampu 2. Melampirkan surat keterangan tidak mampu dan slip gaji/surat keterangan penghasilan dari ketua RT atau DKM setempat 3. Daftar Riwayat Hidup (bisa didownload dari www..lpi-dd. net) 4. Mengisi dan menandatangani akad Beastudi Etos (bisa didownload dari www.lpi-dd.net) 5. Fotokopi raport SMA semester 1 – 5, STTB, Kartu Keluarga, KTP, atau Kartu Pelajar 6. Foto 4 x 6, 2 lembar 7. Foto rumah (tampak keseluruhan, dan bagian dalam) 8. Membuat tulisan tentang perjalanan kisah hidup

DAERAH PROGRAM Program Beastudi Etos eksis di 11 universitas yang tersebar di 9 kota di Indonesia :

1. Universitas Andalas Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Industri, Teknik Lingkungan, Teknik Sipil, Farmasi, Manajemen, Ilmu Peternakan, Sosek Peternakan, Produksi Ternak, Teknologi Hasil Pertanian, Hukum, Agribisnis, Akuntansi

2. Universitas Indonesia Teknik elektro, Teknik mesin, Teknik Industri, Teknik Arsitektur, Teknik Kimia, Teknik Metalurgi, Teknik Sipil, Teknik Komputer, Teknik Perkapalan, Teknik lingkungan, Ilmu Komputer, Sistem Informasi, Ilmu kesehatan masyarakat, Ilmu gizi, Ilmu perpustakaan, Sastra Inggris, Psikologi, Ilmu Hukum, Hubungan Internasional, Ilmu Komunikasi, Ilmu Administrasi Fiskal, Ilmu Administrasi Niaga, Akuntansi, Manajemen, Ekonomi Pembangunan, Ilmu Keperawatan, Farmasi.

3. Institut Pertanian Bogor Manajemen Sumberdaya Lahan, Agronomi Dan Hortikultura, Hama dan Proteksi Tanaman, Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Manajemen Sumberdaya Perairan, Ilmu Teknologi Kelautan, Teknologi Hasil Perairan, Ilmu Produksi Teknologi Peternakan, Teknologi Hasil Hutan, Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Silvikultur, Teknik Pertanian, Teknologi Pangan, Teknologi Industri Pertanian, Statistika, Geofisika dan Meteorologi, Ilkom, Agribisnis, Manajemen, Ilmu Gizi

4. Universitas Padjajaran Ekonomi Studi Pembangunan, manajemen, akuntansi, hukum

5. Institut Teknologi Bandung Fakultas Pertambangan dan Perminyakan, Fakultas Teknologi Industri, Sekolah Elektro dan Informatika, Fakultas Sipil dan Lingkungan, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pembangunan Kota, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, Sekolah Farmasi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian.

6. Universitas Diponegoro Teknik Kimia, Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Industri, Teknik Sipil, Pendidikan Dokter, Kesehatan Masyarakat, Psikologi, Nutrisi dan Makanan Ternak, Ilmu Perikanan.

7. Universitas Gajah Mada lmu Keperawatan, Gizi Kesehatan, Farmasi, Ilmu Komputer, Geofisika, Elektronika dan Instrumentasi, Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Fisika, Teknik Nuklir, Teknik Kimia, Teknik Industri, Teknik Sipil dan Lingkungan, Teknik Geologi, Teknik Geodesi, Teknik Arsitektur, Perencanaan Wilayah dan Kota, Kartografi dan Penginderaan Jauh, Pembangunan Wilayah, Agronomi, Budidaya Perikanan, Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, Manajemen Sumber Daya Perikanan, Pemuliaan Tanaman, Sosial Ekonomi Pertanian, Teknologi Hasil Perikanan, Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Ilmu Tanah, Ilmu dan Industri Peternakan, Konservasi Sumber Daya Hutan, Teknologi Hasil Hutan, Teknik Pertanian, Teknologi Industri Pertanian, Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Kedokteran Hewan, Psikologi, Ilmu Hubungan Internasional, Ilmu Komunikasi, Ilmu Hukum, Sastra Inggris, Akuntansi, Manajemen, Ilmu Ekonomi.

8. Universitas Airlangga Pendidikan Dokter, Ilmu Hukum, Akuntansi, Manajemen, Ekonomi Pembangunan, Farmasi, Pendidikan Dokter Hewan, Ilmu Komunikasi, Ilmu Hubungan Internasional, Kesehatan Masyarakat, Psikologi, Ilmu Keperawatan.

9. Institut Teknologi Sepuluh November Teknik Sipil, Teknik Elektro, Teknik Industri, Teknik Informatika, Teknik Kimia, Teknik Mesin, Teknik Kelautan, Teknik Perkapalan, Teknik Sistem Perkapalan.

10. Universitas Brawijaya Teknik Sipil, Teknik Mesin, Administrasi Niaga, Ilmu Hukum, Akuntansi, Ekonomi Pembangunan, Manajemen, Pendidikan Dokter, Teknik Informatika, Teknik Hasil Perikanan.

11. Universitas Hasanuddin Farmasi, Kesehatan Masyarakat, Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik perkapalan, Teknik geologi, Teknik pertambangan, Akuntansi, Ekonomi pembangunan, Manajemen, Ilmu hukum, Ilmu pemerintahan, Administrasi Negara, Ilmu Hubungan Internasional, Ilmu komunikasi, Agronomi, Sosek Pertanian, Teknologi Hasil Pertanian, Produksi Ternak, Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan, Geofisika.

Bukan puisi cinta

Posted by Lentera on Minggu, 03 Januari 2010 , under | komentar (0)



Surat buat akh zul yang sedang bersanding di pelaminan
Tersenyum bahagia penuh kemenangan
Tapi bagi kami adalah sebuah kesedihan
Karena kehilangan seorang investor dermawan
Yang sering ngajak makan ayam
Di lesehan pinggir jalan

Sehabis ramadhan berkunjung ke rumahan
Nyantap kari ayam campur kentang
lagi asik makan …
Ditegur sama induk semang
Karena belum menyelesaikan undangan
Padahal jadwalnya sudah dekatan
Tapi dengan entengnya akh zul bilang…
“Nggak usah khawatir kawan…”
Mending kita ke lantai dua main PS-an
Nanti saja kerjanya belakangan

Malamnya pergi ke Mall panakukkang
Nonton KCB di twenty one
Duduk agak dibelakang sambil cekikikan
Karena ada adegan
Si Azzam ngelamar Asmirandah anak kedokteran
Padahal zul juga demikian

Tapi yang jelasnya antum sudah memberikan pelajaran
Bagi kami para bujangan
Yang kadang masih memendam kecemburuan
Karena melihat ikhwa lain bergandengan tangan
Dan berboncengan dengan akhwat idaman
Padahal kami sudah tak tahan
Namun apa daya kami masih anak kuliahan
Yang masih mendapat subsidi silang
Dari orang tua di kampung halaman

Terkadang kami ingin mengajukan proposal lalu ta’arufan
Agar tak lagi ada perasaan deg-degan
Jauh-jauhan sambil menundukkan pandangan
Hanya karena dengan akhwat jalan berpapasan
Namun kami masih bermasalah dengan persiapan dan keberanian
Padahal kami sudah jenuh sendirian
Bosan menjadi panitia walimahan
Pulang dan kedinginan di kos-kosan
Baju kotor bergelantungan
Dan menumpuk karena tak ada yang mencucikan

Tahun depan kami memendam harapan
Kiranya sudah tiba giliran
Tak lagi bangun sendirian di tengah malam
Sahalat tahajud ada yang menjadi makmum di belakang
Do’a pun ada yang setia mengaminkan
Untuk itu mohon murobbi memberikan kelonggaran
Agar bisa memilih sesuai “keinginan”
Melanjutkan kisah anak Adam
Berdua mengarungi bahtera kehidupan
Meraih ridho dan cinta Tuhan….

Kutulis surat ini di sebuah malam
Sepekan setelah lebaran
Di sebuah kampung bernama lembang parang
Yang kemarin ramai ditonton orang
Karena masuk kabar petang di TV one
Dengan judul “Oknum TNI aniaya warga lalu memicu kerusuhan”

Kenang kenanga

Posted by Lentera on , under | komentar (0)



Love of my life don’t leave me You broken my heart and now deserve me Love of my life can’t You see Bring it back Bring it back Don’t take it away from me because You don’t know what it means to me

Jarum jam berhenti berdetak, waktu serasa berhenti berputar dan jagad raya pun seakan terdiam, ikut mendengarkan sebuah nyanyian tulus seorang perempuan yang mengungkapan perasaan hatinya. Hari itu Nina dengan anggunnya memakai baju pink dipadu dengan bawahannya yang berwarna krem, rambut lurus yang tergerai indah membuatnya semakin mencolok diantara temannya. Lagu scorpion dibawakannya dengan penuh penjiwaan, karena merasa lagu itulah kisah hidupnya. Sayang, Nina melantunkan lagu tidak diiringi tepuk tangan meriah karena dia tidak sedang bernyanyi di café, bukan pula diatas panggung, namun di sebuah ruangan bernama kenanga, salah satu bangsal intermediate di rumah sakit jiwa. Ya hari itu Nina dan rekan-rekannya sedang mendapatkan terapi aktivitas kelompok dari kami mahasiswa praktek profesi Ners Unhas, sebuah terapi yang di berikan bagi penderita halusinasi yang mulai bisa diajak bekerjasama. Hari itu dengan tulusnya Nina menceritakan kisahnya, tak sedikit pun kilatan kebohongan di bening indah matanya, pandangannya yang kosong menyiratkan derita yang ia tanggung, wajah ayunya pun sudah lenyap ditelan beban duka yang rasakan selama ini. Nina pernah menyandarkan bahtera perasaannya pada sebuah pelabuhan hati, berharap ia menjadi persinggahan terakhirnya, berharap ia menjadi temannya mengarungi samudera kehidupan, tempat bernaung ketika ia lelah, menjadi sahabatnya bercerita dan berbagi hari yang telah dilewatinya. Namun sang belahan jiwa ternyata akhirnya memilih berlayar dengan nakhoda lain, meninggalkan Nina yang hancur dilamun ombak harapan yang dibuatnya, terlalu berangan-angan malah tidak mendapatkan apa-apa. Nina seakan tidak percaya kejadian yang menimpanya, ingin tampak tegar namun menderita nelangsa tak berkesudahan. Terlalu sakit, terlalu dalam sampai terekam kuat di alam bawah sadarnya dan membelah jiwanya. Tanpa sadar dia membuat teman fantasi yang setia menemaninya, yang ia bisa ajak bercerita, yang ia yakin tidak akan meninggalkannya. Prilakunya semakin aneh, ia kadang berbicara, tertawa dan menangis tanpa sebab. Dia mengaku melihat adiknya yang sudah meninggal dan dia bahkan mengaku sering diajak kencan oleh pacarnya yang sebenarnya sudah menikah dengan orang lain. Sikapnya yang periang berubah menjadi pemurung, yang ramah tiba-tiba mudah tersinggung, tidak mau makan, tidak mau minum dan mengunci diri dalam kamar. Hal yang kemudian membuatnya terdampar di sebuah ruangan yang sebenarnya lebih mirip penjara daripada bangsal perawatan dengan diagnosa Schizofrenia

***

Kisah Nina hanyalah satu dari sekian penghuni setia “Villa Lanto Dg pasewang”. Tak terlihat kekurangan satupun dari luar namun sebenarnya api sekam melahap jiwa perlahan-lahan. Tak mampu mengatasi problem hidup, tak kuasa keluar dari masalah akhirnya berujung pada gangguan jiwa. Hal tersebut diperparah dengan pengetahuan minim masyarakat tentang bagaimana mengenali dan mencegah dini terjadinya penyakit jiwa, yang terjadi kemudian adalah stigma bahwa penyakit ini adalah aib maka tak jarang klien yang datang dibawa ke “Hotel belakang sahid” adalah klien kronis dengan riwayat kriminal, mengamuk, melukai orang, membakar rumah, keliling kampung tanpa busana dan bahkan menghilangkan jiwa manusia. Mungkin masih segar ingatan kita, bagaimana seorang ayah tega menghabisi nyawa istri dan anaknya beberapa tahun lalu di Kabupaten Pangkep hanya karena “merasa ada orang yang menyuruhnya”, bagi masyarakat di sekitarnya berkembang opini bahwa sang bapak tadi penganut aliran tertentu dan semua korban adalah tumbal dari bisikan gaib sang empunya, bagi kami inilah yang disebut halusinasi, suatu kondisi dimana seseorang merasa mendengar, melihat atau merasakan sesuatu tanpa ada stimulus yang sebenarnya.

***

Tujuh puluh persen klien yang dirawat disini adalah klien kambuhan. Membaik setelah dibawa pulang namun kembali sebulan kemudian dengan kondisi yang sama. Bukan sebuah kebanggaan bagi kami para perawat ketika para klien kambuhan berteriak “Ners, datang ma seng !” karena kami tahu ada yang salah dilingkungan tempat tinggalnya. Ketika klien dinyatakan sembuh dan dijemput pulang keluarganya, sesampai di rumah dan lingkungannya, tetap diperlakukan sebagai orang sakit, dijauhi atau tidak dibiarkan oleh keluarganya bersosialisasi, dikurung, dipisah kamar maupun tempat makannya, tanpa dukungan, alhasil kesendirianlah yang menemaninya dan kembali mengantarkannya ke tempat semula. Ataukah klien abadi di rumah sakit, yang sembuh pun sudah tidah dijemput lagi oleh keluarganya bahkan sampai menulis alamat palsu agar tidak di datangi petugas rumah sakit. Jadilah klien ini inventaris rumah sakit menambah sesak jumlah penghuni bangsal. Tiga bangsal perawatan diisi oleh + 300 klien dengan jumlah tenaga per shift jaga cuma tiga orang, sungguh jumlah yang sangat tidak logis. Bayangkan, Seorang perawat menangani 30 orang !!!. Hasil riset WHO tahun 2000 mengatakan, dari populasi masyarakat terdapat 10 % yang mengidap gangguan jiwa dan 10 % diantaranya mengalami gangguan jiwa berat. Jadi jika penduduk Sulawesi Selatan berjumlah 5 juta jiwa berarti 500 ribu diantaranya mengidap gangguan jiwa dan 5000 orang mengidap gangguan jiwa berat, sedangkan yang terdaftar di rumah sakit hanya 300 orang, pertanyaannya dimana sisanya? Mungkin yang sering kita lihat berkeliaran di jalan?, mungkin ada di sekitar kita?, atau mungkin kita sendiri sudah mengalami gangguan jiwa berat tanpa kita menyadarinya. Bahkan dengan jualan kesehatan gratis pemerintah propinsi tidak membuat perbaikan berarti di sektor kesehatan jiwa. Ah, negeri ini sudah seperti benang kusut, terlalu banyak masalah yang harus diselesaikan dan kesehatan jiwa bagi pemerintah mungkin bukan menjadi perkara penting yang harus diselesaikan, padahal sejak SMP kita sudah didoktrin oleh guru penjaskes dengan pepatah “Men sana In corpora sano” dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Kalau jiwanya yang sakit apakah tubuhnya akan sehat? Selamat datang di negeri seribu ironi.

***

Hari ini aku bangun menantang matahari. Ada kesegaran terasa menghirup udara pagi yang masih steril dari polusi lalu beranjak ke kamar mandi membasahi tubuh. Dingin, segar menjalar mengaktifkan neuron sensori lalu bersiap mengarungi hari. Tidak ada kendala berarti dalam perjalanan kecuali sedikit macet di daerah Rappocini, maklumlah jalan sempit yang digunakan dua arah ditambah ulah sebagian pengendara yang agaknya harus lebih sopan ketika berada di jalan. Sampai di lapangan parkir kutengok jam tanganku 7.30, lumayan 30 menit perjalanan, masih punya waktu 30 menit untuk sekedar bersantai sebelum beraktivitas. Lalu Berjalan gontai dari parkiran menuju bangsal perawatan, sebuah gerbang besar menyambutku, bunyi decit besi beradu terdengar ketika kudorong gerbang itu menandakan besi segagah itupun butuh perhatian. Di balik gerbang, dikiri-kanannya terdapat taman yang hijau dan rindang, sayang harus tercemar oleh jemuran pakaian dan kasur yang berbau pesing. Melangkah masuk, tegel basah dan sedikit becek menyapa. “Baru habis dipel kayaknya” gumamku Kulayangkan pandangan ke seluruh ruangan, beberapa klien sedang berdiri dan memegang jeruji pintu besi dengan pandangan kosong, mirip narapidana yang akan divonis mati oleh pengadilan. Tiba-tiba “Astaghfirullah…” dua orang klien perempuan mondar-mandi dalam ruangan itu tanpa memakai atasan dan bawahan, cuek, seperti tidak peduli dengan yang ada disekitarya. Saya buru-buru menoleh lalu bergegas keluar. “Ya Allah… hari ini kumulai hari dengan optimisme tinggi berharap hari ini lebih baik dari kemarin, tapi belum apa-apa pemandangan seperti itu sudah menyambutku” “Gimana saya menjaga hati kalau terus seperti ini?” desahku Masih asik menerawang tiba-tiba sebuah suara memanggilku “Selamat pagi kak” “Selamat pagi” refleks aku menoleh ke arah suara tadi “Eh Reni, segar sekali kelihatannnya “ “Iya kak, saya sudah mandi, sudah sikat gigi, sudah pake sampo dan sudah mencuci” ucapnya dengan gaya yang manja seperti anak-anak “Bagus dong kalau kayak gitu” ujarku memuji Reni adalah klien kelolaanku, anak ini sudah mendingan dibandingkan yang lain, makanya lebih bebas berkeliaran. Usianya baru 16 tahun namun sudah termasuk penghuni lama di rumah sakit ini. Dia ditemukan dijalan oleh pamong praja. Jika ditanya tentang keluarganya dia akan diam lalu dengan lirih menjawab “Saya tidak suka melihat orang tua saya bertengkar” Masih larut dalam khayalanku, Reni kembali bertanya “Besok masih jaga kan kak?” Aku terdiam, keakrabanku dengannya membuatku susah untuk berterus terang. “Besok masih kesini kan?” kembali di mengulang pertanyaannya Kutatap mata anak itu lekat “Tidak Reni” “Ini hari terakhir kakak disini dan besok sudah pindah kebagian lain” ujarku mendesah Mata Reni berkaca-kaca “Baik-baik ya selama disini” pesanku “Iya kak jawabnya lirih” Kuseret langkahku menuju gerbang, sejenak berbalik kebelakang, sebuah tulisan jelas terpampang “KENANGA”. Selamat tinggal kenanga, Aku akan tetap mengenangmu sebagai liku kehidupan yang pernah kulewati dan mengajariku satu hal. Mensyukuri apa yang diberikan Allah dan menghargai mahluk ciptaannya

Sms merah jambu

Posted by Lentera on , under | komentar (0)



"Tetap istiqomah, Ukhti. Selamat berjuang. Semoga Allah menyertai anti". Sender : Ikhwan +62817xxx
Senyum timbul dari cakrawalanya dengan malu-malu. Serasa ada hangat menyelusup dada dan membuat jantung berdegup lebih cepat. Otaknya pun sekejap bertanya, ”Ada apa? Sungguh, bukan apa-apa. Aku hanya senang karena ada saudara yang menyemangatiku.” Si akhwat menyangkal hatinya cepat-cepat. Dan ia bergegas meninggalkan kamarnya, ada dauroh. Ia berlari sambil membawa sekeping rasa bahagia membaca SMS tadi yang sebagian besar bukan karena isinya, melainkan karena nama pengirimnya.

"Ana lagi di bundaran HI, Ukhti. Doakan kami bisa memperjuangkan ini". Sender : Ikhwan +628179823xxx
Untuk apa dia memberitahukan ini padaku. Bukankah banyak ikhwan atau akhwat lain? Nada protes bergema di benaknya. Tapi di suatu tempat, entah di mana ada derak-derak yang berhembus lalu. Derak samar bangga menjadi perempuan yang terpilih yang di-SMS-nya.

Pagi itu, handphone kesayangannya berbunyi.
"Ukhti, Selamat hari lahir. Semoga hari-hari yang dijalani lebih memberi arti". Dada membuncah hampir meledak bahagia. Dia bahkan ingat hari lahirku! Dibacanya dengan berbunga-bunga. Tapi pengirimnya Sender : Akhwat +6281349696xxx
Senyum tergurat memudar. Tarikan napas panjang. Kecewa, bukan dari dia. Ringtone-nya berbunyi lagi.
"Ukhti, Selamat hari lahir. Semoga hari-hari yang dijalani lebih memberi arti". Sender : Ikhwan +628179823xxx
Dia! Semburat jingga pagi jadi lebih indah berlipat kali. Senyumnya mengembang lagi. Dan bunga-bunga itu mekar-lah pula.

Cerita di atas tadi selurik gerak hati seorang akhwat di negeri antah berantah yang sangat dekat dengan kita. Gerak hati yang mungkin pernah bersemayam di dada kita juga. Bisa jadi kita mengangguk-angguk tertawa kecil atau berceletuk pelan, ”Seperti aku nih,” saat membacanya. Hayo ngaku! He he he Mari kita cermati fragmen terakhir dari cerita tadi. Kalimat SMS keduanya persis sama, yang intinya mengucapkan dan mendoakan atas hari lahir (mungkin mencontek dari sumber yang sama he he he). SMS sama tapi berhasil menimbulkan rasa yang jelas berbeda. Karena memang ternyata lebih berarti bagi si akhwat adalah pengirimnya, bukan apa yang dikatakannya.

Namun sebenarnya, apakah Allah membedakan doa laki-laki dan perempuan? Mengapa menjadi lebih bahagia saat si Gagah yang mendoakan? Semoga selain mengangguk-angguk dan tertawa kecil, kita juga berani memandang dari sudut pandang orang ketiga. Dengan memandang tanpa melibatkan rasa (atau nafsu?), kita akan bisa berpikir dengan cita rasa lebih bermakna. Konon, cerita tadi terus berlanjut.

Suatu hari yang cerah, sang akhwat mendapat kiriman dari si ikhwan itu. Sebuah kartu biru yang sangat cantik. Tapi sayang, isinya tidak secantik itu. Menghancurkan hati akhwat menjadi berkeping-keping tak berbentuk lagi. Kartu biru itu adalah kartu undangan pernikahan si ikhwan. Dengan akhwat lain, tentu saja. Berbagai Tanya ditelannya. Mengapa dia menikah dengan akhwat lain? Bukankah dia sering mengirim SMS padaku? Bukankah dia sering me-miscall ku untuk qiyamull lail? Bukankah dia ingat hari lahirku? Bukankah dia suka padaku? Mengapa? Mengapa???

Dan air mata berjatuhan di atas bantal yang diam. Teman, jangan bilang, yaa!!! dia hanya tidak tahu, ikhwan itu juga mengirimkan SMS, miscall, mengucapkan selamat hari lahir dan bersikap yang sama ke berpuluh akhwat lainnya! Ironis. Sedih, tapi menggelikan, menggelikan tapi menyedihkan. Sekarang siapa yang bisa disalahkan? Akhwat memang seyogiyanya menyadari dari awal, SMS-SMS yang terasa indah itu bukan tanda ikatan yang punya kekuatan apa-apa. Siapa yang menjamin bahwa ikhwan itu ingin menikahinya? Bila ia berharap, maka harapanlah yang akan menyuarakan penderitaan itu lebih nyaring.

Tetapi para ikhwan juga tak bisa lari dari tanggung jawab ini. Allahualam apapun niatnya, semurni apapun itu, ingatlah, SMS melibatkan dua orang, pengirim dan penerima. Putih si pengirim, tak menjamin putihnya juga si penerima. Bisa jadi ia akan berwarna merah muda. Merah muda di suatu tempat di hati atau menjadi rona di pipi yang tak akan bisa disembunyikan di depan Allah. Bagi perempuan, SMS-SMS dan bentuk perhatian sejenis dari laki-laki bisa menimbulkan rasa yang sama bentuknya dengan senyuman, kedipan menggoda, dan daya tarik fisik perempuan lainnya bagi laki-laki.

Menimbulkan sensasi yang sama. Ketika perempuan bertanya berbagai masalah pribadinya padamu, seringkali bukan solusi yang ingin dicari utamanya. Melainkan dirimu. Ya, sebenarnya perempuan ingin tahu pendapatmu tentang dia, apakah dirimu memperhatikannya, bagaimana caramu memandang dirinya. Dirimu, dirimu, dan dirimu, dan kami ”kaum hawa”- sayangnya, juga memiliki percaya diri yang berlebihan, atau bisa dibahasakan lain dengan mudah Ge-Er Jadi, tolong hati-hati dengan perhatianmu itu.

Paling menyedihkan saat ada seorang aktivis yang tiba-tiba berkembang gerak dakwahnya atau semangat qiyamul lailnya karena terkait satu nama. Naudzubillah tsumma naudzubillah. Ketika kita menyandingkan niat tidak karena Allah semata, maka apalah harganya! Apa harganya berpeluh-payah bukan karena Dia, tapi karena dia. Seseorang yang sama sekali bukan apa-apa, lemah seperti manusia lainnya. Laki-laki dan wanita diciptakan berbeda bukan saling memusuhi, bukan juga saling bercampur tak bertepi, tapi semestinya saling menjaga diri. Secara fisik, emosional, atau kedua-duanya. SMS tampak aman dari pandangan orang lain, hubungan itu tak terlihat mata. Tapi wahai, syetan semakin menyukainya. Mereka berbaris di antara dua handphone itu. Maka dimanapun mereka berada, syaitan tetaplah musuh yang nyata! Wahai akhwat, bila kau menginginkan SMS-SMS itu, tengoklah inbox-mu. Bukankah disana tersusun dengan manis SMS-SMS dari saudarimu. Saudari-saudarimu yang dengan begitu banyak aktivitas, amanah, kelelahan, dan kesedihan yang sangat memerlukan perhatianmu. Juga begitu banyak teman-temanmu yang belum mengenal Islam menunggu kau bawakan SMS-SMS cahaya untuk mereka. Ada saatnya. Ya, ada saatnya nanti handphone kita dihiasi SMS-SMS romantis. SMS-SMS yang walaupun hurufnya berwarna hitam semua, tapi tetap bernadakan merah muda. Untuk seseorang dan dari seseorang yang sudah dihalalkan kita berbagi hidup, dan segala kata cinta di alam semesta. Cinta yang bermuara pada penciptaNya. Cinta dalam Cinta. Bersabarlah untuk indah itu.

"Ummi, abi lagi ngisi ta’lim di kampus pelangi. Di depan abi ada beribu bidadari-bidadari berjilbab rapi, tapi tak ada yang secantik bidadariku di istana Baiti Jannati. Miss u my sweety".
"Abi, yang teguh ya, pangeranku, rumah ini terasa gersang tanpa teduh wajahmu. Luv yaa"
Ya, hanya untuk dia kita tulis the Pinkest Short Massage Services. SMS-SMS paling merah muda.

dari milis sebelah

MU Vs ETOS

Posted by Lentera on Sabtu, 02 Januari 2010 , under | komentar (0)



OK class, Please Repeat After me Ini Budi Budi bermain Bola Well Done

Begitu kira-kira bunyi sebuah Iklan dari salah satu perusahaan telekomunikasi beberapa waktu lalu. Dalam iklan tersebut tampak seorang guru sedang mengajar bahasa Indonesia kepada sekumpulan anak sekolah. Tidak ada yang istimewa dari hal yang diajarkan di kelas tersebut, toh hal tersebut sudah kita dapatkan ketika masih menjadi bocah ingusan di Bangku SD dulu. Tapi yang menarik adalah penyimak pelajaran tersebut adalah Edwin Van Der Sar, Wayne Rooney, Park Ji Sung, Rio Ferdinand, Michael Carrick dan Ryan Giggs. Mereka adalah para punggawa The Red Devils.

Ya, iklan tersebut menandai rangkaian kedatangan Raksasa Premier League dalam rangka tur Asia, dan beruntunglah negeri kita bisa dipilih sebagai salah satu tempat persinggahan tamu agung tersebut. Tapi apa dinyana, sebuah Bom meledak di hotel tempat rencana para pemain MU menginap. Bom tersebut bukan hanya menghancurkan beberapa bagian dari Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton tetapi juga meluluhlantakkan harapan para penggemar setan merah untuk melihat langsung para pujaannya mencicipi rumput Gelora Bung Karno.

Apapun motivasinya, peledakan tersebut bukan hanya membatalkan kedatangan mantan juara Champions League ke tanah air, namun juga semakin mencederai citra Indonesia di mata internasional. Kecewa??? Mungkin iya meskipun Aku bukan penggemar MU (Aku sendiri adalah pengemar Liverpool), namun setidaknya kedatangan mereka akan sedikit mengobati kerinduan penggemar sepakbola tanah air yang sudah lama tidak disinggahi tim besar sekaliber MU. Tidak perlu terlalu ditangisi, toh kedatangan setan merah adalah bukti kapitalisme global. Mereka meraup keuntungan milyaran dari hasil tur tanpa meninggalkan kemajuan signifikan bagi persepakbolaan Asia begitulah kira-kira bunyi pernyataan ketua AFC. Disinggahi MU bukan garansi permainan dan kualitas pasukan merah putih akan membaik.

Kembali ke pembicaraan awal. Apa sebenarnya maksud judul di atas? Begini ceritanya…

Manchester United adalah hanyalah sebuah klub kecil diawal decade 90-an. Tak banyak orang yang mengenal klub bermarkas di Old Trafford ini sampai seorang pria Skotlandia datang mengubah sejarahnya. Alex Ferguson menyulap tim ini menjadi momok menakutkan bagi lawan-lawannya. Selama berkiprah di Britania raya, hanya tiga tim yang mampu menjadi kerikil yang menghalangi jalan MU,mereka adalah Blackburn Rovers, Arsenal, dan Chelsea. Di tangan pria berkacamata ini, MU menjadi tim dengan manajemen paling sehat, menjadi klub terkaya di dunia dan yang paling penting segudang prestasi telah ditorehkan. Puluhan gelar Premiership, Community shield, Piala FA, Piala Carling, Piala Toyota dan Super Eropa di genggamnya. Dan yang paling fenomenal adalah gelar Treble Winner di tahun 1999. Manager setan merah ini berhasil mengawinkan Gelar liga, piala FA dan Piala Champion, sebuah pencapaian prestisius bagi klub dataran Inggris, belum pernah ada klub negeri Ratu Elizabeth yang meraih hasil serupa. Hal yang kemudian membuat Pangeran Charles menganugerahinya gelar kebangsawanan, jadilah ia disapa “Sir Alex Ferguson”.

Kepemimpinan Sir Alex lah yang mengubah jalan hidup MU. Pintar memotivasi pemainnya namun tidak mentoleransi kesalahan. Sifat otoriter dan tegas membuatnya sangat dihormati kawan dan disegani lawannya. Jangan sekali-kali mempertanyakan keputusan yang dikeluarkan pria berambut putih ini, ataukah sang pemain ini sudah bosan menjadi bagian timnya. Tidak segan-segan Sir Alex mendepak pemain yang berani menentangnya walaupun dia berstatus bintang. Jaap Stam, Ruud Van Nistelrooy, David Beckham, Roy Keane, Carlos Tevez sampai Cristiano Ronaldo harus angkat koper dari klub yang bermarkas di Stretford ini hanya karena mereka berani “berulah”.. Hal lain yang menjadi ciri khas pria ini adalah dia tidak jor-joran berbelanja pemain mahal dengan status bintang. Dia lebih senang berinvestasi membeli pemain muda lalu mendidiknya menjadi pemain hebat. Kehilangan bintang tak akan ditangisi oleh beliau, karena baginya hal ini berarti kesempatan menciptakan bintang yang lain. The Red Devils layaknya sebuah kampus yang mendidik para pemain sepakbola dengan Sir Alex sendiri menjadi kepala sekolahnya. Sederet prestasi inilah yang membuat Stadion Old Trafford kandang MU dijuluki Theatre of the Dream. Sebuah landscape dimana semua pemain sepakbola bermimpi menjadi ambil bagian di dalamnya. Sir Alex dengan segala kontroversinya telah mengukir tinta emas bagi perjalanan MU dan menjadikannya tim elit di daratan Eropa dan Dunia

Lalu hubungannya dengan ETOS apa??

Terlalu naif mungkin kalau membandingkan Manchester United dan Makassar Utama (Beastudi ETOS Makassar, red) apalagi membandingkan pengelolanya dengan Sir Alex Ferguson (waduh… mimpi kali yee). Namun Aku ingin menarik sebuah analogi tentang keduanya. ETOS Makassar relatif mempunyai manajemen yang relatif sehat, setidaknya itu tercermin dari hasil evaluasi ETOS pusat. Manajemen Makassar memiliki kelengkapan yang memungkinkannya menjadi Juara, namun yang sejauh ini semuanya itu belum terlihat. Berangkat dari keresahan tersebut, dalam sebuah Rapat Wilayah Aku meminta kepada Korwil Makassar agar diberikan angkatan termuda untuk Aku bina, Aku meminta diberikan keluasan bereksperimen dan asrama dipisahkan. Dalam bayangan Aku, ini akan menjadi pilot project pembinaan generasi terbaik. Asrama dipisahkan bukan untuk merenggangkan ukhuwah namun mensterilkan etoser dari penyakit kronis seniornya. Dan pada akhirnya akan ada perbandingan antar asrama yang menjadikan asrama itu bersaing sehat. “Berikan Aku waktu setahun untuk mengubah etoser 2008 makassar untuk menjadi etoser Makassar terbaik yang pernah ada, jika dalam waktu tersebut tidak ada perubahan signifikan atau malah terjadi sebaliknya, Aku siap mengundurkan diri”. Demikian pernyataan ku tegas di depan korwil dan pendamping lain. Ada pendamping yang memperhatikan, ada yang tersenyum, ada yang diam saja, Aku tidak tahu makna diamya itu apa. Namun Aku bersyukur korwil merespon positif usulanku.

Petualangan baru saja dimulai, ternyata konsekuensi pernyataan Aku tidak segampang yang dibayangkan. Sendirian menghadapi belasan anak lelaki yang masih membawa sifat asli mereka dari kampung bukanlah pekerjaan mudah. Mulai dari dari masalah cuci piring, rendaman pakaian, kerapian kamar sampai pengaturan sandal, harus bekerja keras mengatur itu. Setiap hari Aku harus marah untuk sampai menghukum Push up, isi kolam, bersihkan kamar mandi sampai membuat tulisan jika ada yang melanggar. Ada yang harus ditegur karena kebiasaannya tidur dilantai, padahal itu buruk untuk kesehatannya, ada yang masih senang makan nasi dengan garam dengan alasan suda terbiada dan mengirit. “Otak mu butuh nutrisi, gimana IP bisa tinggi kalau makannya nasi garam?” harus ekstra usaha untuk mengubah cara berpikir mereka. Kadang Aku berpikir terlalu keras dalam menghadapi mereka, sampai ada seorang etoser yang pernah mendapat tugas, ragu memperlihatkan karyanya karena takut dimarahi. Aku tertegun “Seperti inikah imej yang terbangun di kepala adik-adik tentang Aku?” ah tidak apa-apa, itu hak mereka untuk menilai. Aku juga tidak menolak itu, karena sifat itu Aku warisi dari orang tuaku yang asli Makassar.

Di lain kesempatan seorang etoser ikhwan pernah mempertanyakan aturan asrama yang dirasa terlalu mengatur masalah pribadi sampai sandal pun dipermasalahkan. Aku cuma menjawab, “Visi ETOS adalah menciptakan pemimpin yang dapat merubah bangsa ini menjadi lebih baik, dan jangan pernah bermimpi merubah bangsa yang besar ini kalau ngatur sandal saja tidak becus!!” demikian jawabku tegas dengan tatapan meyakinkan. Pernah seorang pendamping mempertanyakan keputusanku melepaskan adek etoser yang berstatus “bintang”, Aku Cuma menjawab singkat “Aku akan ciptakan bintang yang lain!!”

Aku bermimpi menjadi Sir Alex Ferguson bagi MU. Dengan gaya kepemimpinan yang “mirip”, Aku ingin menjadikan ETOS sebagai kampus alternative dimana didalamnya Etoser belajar memaknai hidup bukan menikmati hidup. Dalam alam bawah sadar, ku gambarkan ETOS sebagai Theatre of the dream, dimana ketika orang berbicara tentang ETOS, yang mereka bayangkan adalah sebuah lembaga sumber daya manusia yang menghasilkan orang terbaik Hingga suatu saat orang tidak lagi bertanya “yang mana etoser Makassar?” tapi berkata “Inilah etoser Makassar!!”

Buat adik-adikku etoser Makassar yang sedang berkompetisi dalam acara Temu Nasional 2009, selamat berjuang, jadilah yang terbaik. Kalian sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari, sekarang tinggal memetik hasilnya. “Kesuksesan itu akan datang pada mereka yang berjuang mendapatkannya bukan pada mereka yang hanya mengharapkannya. Tidak ada harga yang pantas untuk sebuah kesuksesan selain perjuangan dan pengorbanan” Berkilaulah EMAS 08, Ewako !!!

Sepekan di negeri impian

Posted by Lentera on , under | komentar (0)



Cerita ini tidak sedang bertutur tentang negeri Si Alice in Wonderland, sebuah film kartun jaman kita SD dulu. Atokah kisah Pulau never land kampung Peter Pan berserta teman-temannya tinggal, dimana sang waktu berhenti berputar sehingga mereka tidak bertambah tua. Tapi latar stoire ini adalah dunia nyata. Dunia dimana tidak ada kesedihan, dunia yang penuh canda-riang, dunia yang selalu tersenyum indah menyambut sapa mentari

Beberapa waktu yang lalu aku sedang melakukan penelitian di TK Islam Athirah Bukit Baruga, sebuah sekolah pendidikan dini bagi anak usia prasekolah. Berlokasi di Bukit Baruga, satu-satunya perbukitan Makassar (kira-kira begitu bunyi iklannya), kampus ini berada di tengah perumahan elit kota Makassar. Kawasan ini merupakan daerah pendidikan terpadu dimana di dalamnya terdapat SD, dan SLTP yang masih cabang dari Yayasan pendidikan dan kesejahteraan Haji Kalla.

Simak saja percakapan dengan Sultan Aqil Nugraha dari kelas A saat di tes tumbuh kembang.
“Sultan tahu nggak cangkir gunanya buat apa?” tanyaku
“Buat masak” tegasnya
“Kalo pagar?” tanyaku lagi
“Buat parkir mobil” jawabnya sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipinya

Ataukah pertanyaan Aviza Rizky sugianto saat dites oleh Leli (adik kelasku).
“Kalau banyak ‘P’nya artinya apa kak?”
“Itu artinya Aviza Pintar” jawab leli “Hore saya pintar” teriaknya sambil lompat mengajak Denys temannya


Ayu direpotkan oleh sikap Nurul zahira shofa yang ngambek saat di tes, padahal awalnya cerewetnya minta ampun, sedang saya sendiri kapok oleh Rafli yang berlari kesana kemari saat di wawancarai.

Demikianlah tingkah polah mereka, lucu. ngegemesin, tapi orisinal. Jawaban yang meluncur begitu saja dan steril dari kemunafikan. Melihat aktivitas mereka yang berlarian kesana-kemari, aku cemburu. Betapa indahnya dunia balita. Mereka terbebas dari segala tendensi, dari segala polusi dunia dewasa. Mereka menyikapinya dengan ceria. Tersenyumlah wahai generasi bangsa, dan dunia pun akan tersenyum menyambutmu.

Tulisan ini aku persembahkan kepada seluruh staf TK Islam Athirah Bukit Baruga yang memberi izin dan banyak membantu selama penelitian, teruslah membina generasi bangsa. Dan special kepada adik ners 2005 (Asni, cici, ayu, leli dan fitri) yang membantu tes DDST. Oh ya kalian gak kalah manis en lucunya dengan anak TK tadi Kok 