Latest News

Senyuman di balik awan

Jumat, 21 Mei 2010 , Posted by Lentera at 23.09

Apa arti sebuah senyuman? Senyuman adalah lambang kesenangan, seseorang akan tersenyum ketika mendapat sesuatu yang ia dambakan lalu menarik kedua otot pipinya sebagai tanda ia bahagia. Senyuman simetris kiri dan kanan disertai bahasa tubuh lain penting dalam menjalin sebuah relasi kata Ari Ginanjar, semua orang bisa tersenyum namun tidak semua bisa tulus dan menyenangkan orang lain kata Aa Gym, karena jika ukurannya hanya senyum maka Hitler dan Westerling pun tersenyum kala ia menghabisi nyawa para penentangnya. Senyum yang akan kita bahas adalah tipe senyum lain, senyuman yang terselip diantara kesusahan, pahit, getir, hambar. Otak memaksa untuk tersenyum, namun mata menangis dan hati meringis. Senyum sebagai pertahanan terakhir agar tidak kalah, bukan untuk menyenangkan orang lain, hanya sebagai satu-satunya sarana menghibur diri....

***

Aku terbangun cepat seperti biasanya, mendahului jiwa-jiwa yang masih nyenyak di zona unconscious dengan segala mimpi-mimpinya, sebelum sang ayam jantan mengepakkan sayapnya tiga kali, membusungkan dada dan mengumumkna bahwa demi malam akan segera beranjak pergi digantikan Putra sang fajar mengikuti ketetapan manzilah yang digariskan sang Maha kuasa. Selepas shubuh, kuambil semua pekerjaan rumah, mencuci piring dan memasak. Kutunaikan semua pekerjaan ibu, bukti baktiku karena ia pernah memberiku tempat diantara difragma dan tulang sulbinya.

Lima kilometer tidaklah terlalu panjang demikian bisik sanubari menghibur diri, lima kilometer adalah lambang perjuangan melawan segala keterbatasan. Jarak yang tiap hari menantangku dan tiap hari kutaklukkan demi menuntut sebaris ilmu. tak jarang aku terlambat datang kesekolah dan ditegur guru namun aku hanya bisa tersenyum dan minta maaf, bukan menangis agar beliau mengasihani dan memaafkanku, karena bagiku menangis dan mengeluh hanya untuk orang yang kalah dan aku sendiri tak akan mengalah pada zaman. Suatu ketika karena menghadapi ujian semester aku memotong jalan karena tak ingin terlambat, melewati kebun dan persawahan namun sang jarak nampaknya tersenyum sinis dan tak ingin kukalahkan dengan mudah, ia membentangkan sungai kecil di hadapanku, karena saat itu sedang musim hujan dan sedikit banjir. aku berhenti sejenak dan berpikir apakah aku akan melompati air ini? Nasib ternyata masih sedikit bermurah hati yang menginspirasiku dengan mengirimkan seseorang pria yang menyeberang dengan bertumpu pada kayu di tengah sungai, segera saja aku mengikuti caranya. Saat aku melompat tiba-tiba byurrr...splash... Kakiku terendam setinggi lutut dengan gerak reflex aku menyelamatkan rokku agar tidak basah. Ternyata itu jebakan, kayu itu terapung dan tidak mampu menahan beratku. Batinku berterak lantang “TIDAK PUASKAH KAU MEMPERMAINKANKU ??? desah nafasku menderu namun cepat-cepat aku beristighfar dan meredam emosi, karena tak ada gunanya mengeluh. Kini aku dihadapkan pada dua pilihan, pulang kerumah meski jaraknya sudah jauh atau tetap ke sekolah memakai sepatu dan kaos kaki basah dengan resiko teman akan menertawaiku. Bismillah... aku mengambil pilihan kedua !!. sesampai di sekolah teman seruangan ujianku telah berbaris rapi, aku pun langsung mengambil barisan, menyadari kehadiranku teman di depan menoleh dan memperhatikanku dari atas ke bawah. Pandangannya berhenti pada kaos kaki ku yang basah serta sepatuku yang berlumpur, dan reaksinya kemudian adalah tertawa, gelak tawa yang mengundang perhatian yang lain dan memicu reaksi berantai. Gelak tawa lain, pandangan merendahkan, serta bisikan membuatku merasa terpojok, tiba-tiba aku merasa seperti kancil malang diantara kumpulan gajah, meski beberapa dinatara mereka masih menaruh empati. Aku membalas tawa mereka dengan tersenyum, dengan senyum itu aku mencoba tegar dan tidak terpuruk dihadapan mereka. Ya... hanya senyum yang bisa kulakukan saat itu.

***

Hal lain yang tak bisa kulupakan suatu ketika selepas pulang sekolah. Saat itu raja siang sedang menunjukkan superioritasnya, kembali menguji ketegaranku di jalan lima kilometer itu. gelombang panas yang begitu dahsyat ia kirimkan menyajikan fatamorgana yang indah menari-nari namun sebenarnya hampa. Aku tak peduli dengan terik yang ia pertontonkan tapi ternyata skenarionya lain. Fatamorgana yang kelihatan seperti air sejuk malah memanaskan jalanan aspal yang kulalui dan melelehkan sol sepatu yang kupakai padahal perjalanan masih jauh. sepatu itu memang mudah meleleh karena bahan dasarnya dari karet dan didesain bukan untuk tahan panas melainkan tahan air. Sepatuku menyerah hari itu menghadapi nasib dan turut menyeretku ke lubang penderitaan yang lebih dalam. Kakiku terasa panas dan sakit karena langsung bersentuhan dengan aspal, melengkapi nelangsa bahwa hari itu kaki kananku sedang keseleo. Sambil memegang kaki kuseret tubuh dan langkahku menyusuri jalan itu, setiap langkahku seakan semakin memperdalam lukaku, hanya dengan bekal semangat dan manipulasi pikiran bahwa sebentar lagi aku sampai kerumah yang membuatku tetap bertahan dan tidak jatuh. Sesosok manusia memperhatikanku dari jauh, menghitung setiap gerak langkahku. Ibuku dengan pandangan sayu menungguku di gubuk kami yang beratapkan daun sagu. sesampai di rumah ibu memelukku erat, kami berdua menangis, menangisi nasib yang belum ingin berbelas kasihan kepada kami, namun aku percaya yang maha kuasa melihat kami dan akan tetap menyayangi kami dengan caranya. Jalan ini menjadi prasasti hidupku, bukti perjuanganku yang membedakan dengan teman main kecil yang jatuh dan berguguran di jalan lima kilometer ini hanya karena malu dan tak ingin jalan kaki ke sekolah. Yang membuatku tetap berjuang dan bertahan adalah motivasi. Motivasi inilah yang tetap memberiku mimpi dan suatu saat aku tak lagi menjadi Sang pemimpi namun sang penakluk mimpi yang setia tersenyum mengarungi hari

***

Ku duduk sendiri disini
meratapi nasib yang tak pasti
mencoba mengangkat wajah dari rumput gersang
tuk menatap langit yang telah usang

Tangis menghiasi hati yang terluka
sedang langit menyapaku dengan tawa
mungkin ia ingin menghiburku
dengan bentuk awan yang begitu lucu

kini impian telah pergi jauh
meninggalkanku yang sedang merintih
tak perlu disesali yang telah terjadi
inilah hidup yang harus dijalani

angin membawa kabar yang begitu gembira
mengembalikan nasib dan impian ke setitik cahaya
memberikan begitu banyak kebahagiaan
dengan senyuman dibalik awan

seri catatn interview beastudi ETOS

Currently have 1 komentar:

  1. zqzaki says:

    keep on fighting 'til the end...
    keep spirit, sist...
    AllahSWT always be with you.

Leave a Reply

Posting Komentar