Latest News

Yang tersisa dari aksi etos

Selasa, 11 Mei 2010 , Posted by Lentera at 22.44

Negeri ini sedang mempertontonkan opera kepada rakyatnya. Dimulai ketika bencana gempa sumatera barat. Peristiwa yang memilukan hati dan menggugah rasa kemanusiaan, selama kurang lebih sepekan berbagai media menampilkan kondisi pasca gempa, korban berjatuhan dan infrastruktur hancur membuat miris siapapun yang melihatnya, oleh pemerintah kejadian tersebut dihargai dana rekonstruksi Rp. 800 milyar, ya 800 M. kejadian yang begitu dahsyat, banyak korban jiwa cukup dihargai dengan jumlah segitu, namun yang ironi, untuk penyelamatan Bank Century, sebuah bank kecil yang bahkan mungkin kita tidak pernah mendengar sebelumnya sampai kasusnya muncul di TV, dengan dalih mencegah dampak sistemik pemerintah mengucurkan dana dengan angka luar biasa Rp. 6,7 TRILYUN !!!. butuh 7-8 gempa yang sama dengan tragedy di sumatera barat agar pemerintah mengucurkan dana segitu banyak, namun untuk kasus bank century yang hanya mewakili segelintir orang begitu gampangnya dana itu keluar. Sebuah lelucon yang tidak lucu sama sekali.

Belum reda kasus ini bergulir kembali departemen keuangan membuat sensasi. Seorang pegawai ditjen pajak bernama Gayus Tambunan menilap uang pajak sebesar 28 milyar. Gayus adalah seorang pegawai golongan III A, namun catatan kekayaannya mencengangkan. Memiliki beberapa rumah mewah, apartemen mewah dan tidak kurang lima mobil mewah, semuanya itu dilengkapi dengan tabungan Rp. 28 milyar, sebuah angka yang tidak mungkin jika hanya mengandalkan gaji pegawai negeri. Gaji para pegawai pajak lebih tinggi dibandingkan dengan pegawai lain, dengan asumsi bahwa mereka tiap hari bergelut dengan uang yang bisa membuat mereka silau maka departemen keuangan mengeluarkan kebijakan remunerasi, gaji pegawai keuangan dinaikkan agar tidak terjadi korupsi, namun semua itu tinggal mimpi, kalau kita berbicara usrusan dunia maka hal itu seperti air laut semakin diminum maka kita semakin haus. Bahkan menurut pengakuan gayus, untuk level pegawai golongan III A seperti dia kasus yang ia tangani hanyalah kasus kecil, dengan kata lain terungkapnya kasus gayus hanyalah fenomena gunung es di lingkungan pegawai pajak.

Semuanya itu dilengkapi dengan rencana departemen agama yang ingin mensentralisasi zakat. Jika kita lihat tinjauan syariah, memang bahwa seharusnya zakat itu dikelola Negara, namun ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam ini. Pertama pemerintah Indonesia tidak menganut system syariah jadi tidak fair jika kemuadian in gin memaksakan kehendaknya dengan dalih syariah, bahkan departemen agama pun tidak pernah berbicara mengelola Negara dengan system syariah. Pertanyaan yang lain juga bahwa kenapa departemen agama tiba-tiba berbicara syariah, kenapa dalam hal zakat saja. Jika kita merunut pada Rukum Islam yang lima perkara. Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat dan Haji, track record depag selama ini hanya mengurusi Zakat dan Haji, tidak konsen mengurusi syahadat, Sholat dan puasa karena tidak ada keuntungan financial yang bisa diambil dari ketiga hal tersebut, hal lain bahwa apakah penglolaan zakat dan haji oleh depag bagus??? Tidak sama sekali, masih segar dalam ingatan kita bagaimana jamaah haji terlunta lunta karena tidak mendapat menginapan dan makanan. Dan dengan entengnya menteri agama dalam jumpa persnya mengatakan hal itu terjadi karean pemerintahan tidak mendapatkan penginapan murah dan catering murah, orang rela membayar hingga Rp. 30 juta oleh departemen agama dihargai dengan penginapan murah dan catering murah. Belum lagi, mantan depag yang masuk penjara karena kasus korupsi. Sungguh memalukan, sebuah lembaga moral yang seharusnya mengajari rakyatnya beretika malah pimpinanya tersandung kasus akhlak.

dengan serangkaian isu tersebut, maka untuk pertama kalinya green light community turun gunung pertama kalinya untuk melakukan aksi. isu sentral yang diusung adalah sentralisasi zakat oleh departemen agama, ditambah dengan momen korupsi gayus maka kloplah sudah persiapan turun aksi. aksi dimulai dengan berkumpul di mesjid 45 lalu long march ke fly over selanjutnya bergantian orasi di bwah fly over. aksi berlangsung tertib, saya sendiri lebih banyak mengamati dari jauh dan berdiskusi dengan jajaran intelijen polresta makassar timur. Intel polisi banyak bertanya tentang organisasi ini, kenapa baru muncul dan isu apa yang diusung. saya lalu menjelaskan kepada pak polisi semua pertanyaannya, satu hal lagi yang saya tekankan kepada bapak intel bahwa aksi ini akan damai, tidak akan ada anarkis, kami sendiri ingin memperlihatkan bahwa menyampaikan pendapat itu bisa tetap santun tanpa ada pihak yang merasa di rugikan dengan aksi tersebut. aksi berlangsung terbit, selepas itu kami sedikit memberi ala kadarnya kepada pak polisi, komandan polisi terlihat sangat surprise dengan tersenyum dia berkata “Kalian demo setiap hari juga boleh, kalau kalian demo, saya duduk-duduk saja di pos sana karena saya yakin aksi kalian akan berlangsung aman. terima kasih nak”

Tamalanrea, 11 Mei 2010 selesai Ba’da isya, meski kelelahan selepas interview ETOS

Currently have 0 komentar:

Leave a Reply

Posting Komentar