Latest News

Belajar dari dua lelaki

Kamis, 11 Maret 2010 , Posted by Lentera at 06.11

Lelaki pertama Garis tua tampak terukir jelas di muka lelaki itu, rambutnya berlomba memutih dan menipis, tampak jelas meski ia menutupinya dengan kopiah yang juga sudah menguning dimakan usia. Masih tampak sisa bidang bahu serta kekar badannya.

Lelaki itu sangat menyayangi cucunya, hal yang pertama dia ajari ketika cucunya belajar berjalan adalah berjalan ke mesjid, hal pertama yang dia ajari ketika cucunya belajar berlari adalah berlari menyambut azan. Selalu meminta cucunya mengumandangkan azan meski cadelnya minta ampun karena belum fasih mengucapkan huruf “R”, jadinya azan yang seharusnya terdengar syahdu malah kedengaran lucu. Tapi tidak ada yang berani komplain, karena lelaki tua itu adalah imam mesjid dan tokoh masyarakat yang dihormati. Selepas salam cucunya selalu bermanja-manja di pangkuan hangat sang kakek, kemudian lelaki itu akan membelai dan mengecup kening cucunya penuh cinta. Hal yang paling cucunya ingat dari kata-katanya ketika berantem dengan adek yang perempuannya adalah “Nak, kamu harus bisa mengalah pada perempuan” ucapnya bijaksana

Lelaki kedua Perawakannya putih tinggi besar, kumis, cambang dan janggut semakin menegaskan kelaki-lakiannya, orang terkadang menebak dia blasteran Manado- timur tengah, padahal keturunan Makassar tulen. Pembawaannya tegas, penampilannya berwibawa, orang akan mendengar apa yang ia katakan karena dia seorang muballigh dengan kualitas vokal mumpuni, pidatonya sarat muatan sastra, pemilihan katanya sempurna. Kami semua menyayanginya tapi penciptanya lebih menyayanginya, terlalu cepat memanggilnya kembali karena tak ingin hambanya dikotori oleh dosa. Suatu ketika anaknya berkelahi dan orang tua lawannya ikut-ikutan membantu, sang anak pulang menangis dan mengadu pada lelaki tersebut, sang ayah mengelus kepala anaknya lembut lalu berkata “ kami tidak akan mencampuri urusanmu seperti orang tua lain, kamu harus belajar menyelesaikan masalahmu sendiri” anak itu tertegun tidak percaya yang dikatakan ayahnya, “kenapa ayahku tidak seperti orang tua lain yang membela anaknya” gumamnya “ayah tidak sayang padaku” anak itu lalu berlari menangis ke pangkuan ibunya. Lelaki mengajari anaknya memikul tanggung jawab sejak kecil.

Lelaki pertama itu adalah kakekku dan yang kedua adalah ayahku. Mereka berdua telah tiada namun ajarannya akan selalu hidup. I Love You GranPa, I love You Pa, You’ll always live in my heart….

Tamalanrea 100310

Currently have 0 komentar:

Leave a Reply

Posting Komentar