Latest News

PSM Vs MU

Selasa, 02 Maret 2010 , Posted by Lentera at 08.45

Ribuan massa berdesak-desakan di gerbang masuk stadion, aksi dorong pun tak terelakkan, polisi kelabakan mengatur antrian pennonton dan meminta agar lebih bersabar, dengan penuh perjuangan akhirnya saya bisa bernafas lega masuk ke area tribun meski harus berdiri karena tak kebagian tempat. Terasa aliran energy yang begitu dahsyat, ribuan supporter memerahkan Mattoanging, mercon merah terbakar ke udara, yel-tel The Macz Man semakin membuat riuh suasana, sebuah spanduk membentang panjang dengan tulisan “SELAMAT DATANG DI STADION NERAKA”. Pengalamanku hari ini adalah pengalaman pertamaku menginjak stadion kebanggaan Sulawesi Selatan, dan pasukan ramang yang begitu dipuja para pendukungnya akan turun ke arena menghadapi rival abadinya sejak era perserikatan PERSEBAYA SURABAYA, itulah kenapa animo penonton sangat besar hari ini, tak ada ruang tersisa di tribun terbuka, selain faktor bahwa laskar ayam jantan baru saja memetik poin empat dari turnya ke papua, seri lawan PERSIWA dan menang atas PERSIPURA, ditambah rasa penasaran para penonton ingin menyaksikan trio latin PSM yang baru, Jorge Toledo, Oscar Aravena dan Christian Gonzales. Psywar yang dilancarkan kubu tuan rumah akan menghancurkan mental yang tak tahan tekanan dan hal itu terbukti ampuh, tarian sang jenderal lapangan Toledo didukung dua midfielder nasional Syamsul Haeruddin dan Ponaryo Astaman yang kala itu masih berambut gondrong, memanjakan dua predator ganas Oscar dan El loco Gonzales. Malam itu Laskar bajul ijo bertekuk lutut dengan tiga gol tanpa balas, dua dari Oscar dan satu dari El loco. Gegap gempita stadion membahana, bahkan salah seorang supporter berseloroh, “Jangan kata persebaya, AC Milan atau Manchester United pun yang datang kesini akan pulang dengan tangan hampa” sebuah pertanyaan hiperbolis, namun harus diakui malam itu permainan PSM sangat indah dan menjadi hiburan bagi penggemarnya.

Namun itu cerita lalu, sekarang begitu gampangnya tim tamu mencuri poin bahkan mempecundangi PSM di depan pendukung fanatiknya, stadion tak lagi angker, Mattoanging tak lagi bertuah. Nama besar PSM bukan lagi magnet bagi pemain untuk datang merumput ke Makassar, Pasukan ramang pun tak diperhitungkan lagi masuk bursa juara. Niat baik pengelola untuk membina pemain muda lokal patut diapresiasi, namun kesalahannya adalah pengelola lupa pepatah sepakbola yang mengatakan tidak ada tim juara dengan kumpulan besi tua, juga tak ada tim juara dengan materi anak kemarin sore, jika pengelola ingin mencontoh The Red Devils, maka Sir Alex menggabungkan antara pemain senior dan pemain muda.

Pengelola tak sepenuhnya salah, para pemain pun harusnya tahu diri, tiap musim meminta kenaikan gaji di lain sisi tak kunjung memberikan prestasi padahal dari APBD mendapat gaji, setali tiga uang dengan supporter yang perfeksionis selalu meminta tim bermain baik dan meminta hasil sempurna, namun jika bermain jelek hanya cemooh yang didapatkan di stadion, belum lagi masuk stadion tanpa membayar, hanya dengan modal sabuk karate dan sedikit nyali memanjat tembok stadion lalu bisa menikmati pertandingan walau sambil berdiri.

Permasalahan PSM hanyalah sekelumit dari permasalahan sepakbola nasional, dengan indahnya kita menikmati Liga Primera Spanyol, persaingan ketat Premier League Inggris serta tensi tinggi Serie A Italia. Kesemuanya itu karena sepakbola disana telah menjadi sebuah industri yang menggiurkan, mugkinkah suatu saat kompetisi kita menjadi seperti itu? Tapi bagaimana mungkin dapat menarik investor kalau setiap pertandingan kita tidak hanya disuguhi sepakbola, tapi juga Tae Kwondo dan tinju, juga tawuran penonton selepas peluit panjang pertandingan.

Ah… tak ada gunanya mengutuki keadaan karena tak akan menyelesaikan persoalan, lebih baik kita introspeksi masing-masing dan tetap berharap bahwa suatu saat tim-tim Indonesia akan dilirik investor yang tidak hanya membuat stadion dengan standar Internasional tapi juga membangun tim tangguh dengan kompetisi sehat yang berujung pada prestasi tim nasional yang membanggakan. Dan aku masih menyimpan sebuah impian, melihat laga antara PSM Vs Manchester United di Final FIFA World Championship. Amin

Currently have 0 komentar:

Leave a Reply

Posting Komentar