Latest News

Change We believe

Jumat, 01 Januari 2010 , Posted by Lentera at 01.26

Finally Barrack Husein Obama elected as the Forty fourth presidents of US. Sukses obama mengalahkan rivalnya John Mc Cain dengan angka yang meyakinkan. Hal ini sesuai dengan prediksi banyak pengamat sebelumnya dan didukung hasil polling yang menunjukkan popularitas putra berdarah Kenya ini mengalahkan lawannya pilot America yang alumni penjara Vietnam.

Mendadak obama menjadi artis politik, seluruh dunia dirasuki demam obama. Seakan-akan seluruh dunia menginginkan dialah yang menjadi presiden amerika selanjutnya. Ada apa dengan obama?, ada apa dengannya? Mengapa dia tiba-tiba menyita perhatian publik dunia dan menjadi superstar?

Barrack Husein obama dilahirkan di Hawaii dari Ayah Husein Obama yang berdarah Kenya dan Ibu berkulit putih keturunan Amerika. Garis hidup obama pernah mewarnai bumi nusantara dikarenakan ibunya lalu menikah dengan pria Indonesia dan menetap di Jakarta. Obama kecil pun sempat mengeyam bangku sekolah dasar di Jakarta dengan panggilan Barry Soetoro. Namun Tak lama kemudian ibunya mengirim obama ke Hawaii untuk diasuh kakeknya.

Obama sukses menghipnotis dunia dengan retorika politiknya yang luar biasa, lulus magister hukum Harvard University dengan nilai summa cum laude menjadikan obama sosok yang sangat intelek. Dengan semboyan “Change We Believe In” suami Michelle ini berhasil menarik simpati para pemilih Amerika yang sudah jenuh dengan keadaan status Quo. Cerita penuh perjuangan masa kecil obama ternyata masih lebih menarik dibandingkan jualan epic Mc Cain semasa perang Vietnam.

Bahkan di negara demokratis seperti USA, seringkali warga pendatang masih mendapat perlakuan diskriminasi, namun mantan senator illinois ini muncul menjadi lambang persamaan Hak, dalam diri obama mengalir perpaduan budaya, kultur maupun agama. Bahkan negative campaign dengan isu madrasah oleh lawan politiknya, sukses di counter sangat baik melalui sebuah manuver indah dengan mengatakan pengalaman di luar negeri justeru nantinya akan menjadi dasar yang baik dalam mengambil kebijakan luar negeri dengan lebih bijaksana. Bahkan di salah satu pidatonya dia mengatakan “there’s no Black American, there’s no Asian American, there’s no Latin American but there’s only United States of America” yang kemudian disambut dengan standing Applause oleh para pendukungnya.

Memimpin negara adidaya seperti Amerika jelas memiliki efek domino terhadap percaturan dunia. Pengaruh luar biasa amerika terhadap negara lain membuat publik menaruh harapan tinggi terhadap kebijakan luar negeri yang nantinya akan diambil presiden Ke 44 USA ini. Apalagi terhadap dunia Islam, hubungan muslim-amerika dipertaruhkan dalam pemilu AS kali ini. Ada enam juta Muslim di Amerika, dan banyak orang Amerika yang bekerja dan tinggal di 56 negara berpenduduk mayoritas Muslim. Sepuluh dari seribu pelajar Muslim belajar di Amerika, dan masyarakat Amerika akan terus memainkan peran interkultural yang positif.

Koneksi antara dua dunia itu melebihi dispora, kerja ekspatriat dan pariwisata. Washington adalah sekutu Pakistan dalam perang melawan terorisme; sekutu Turki melalui NATO; pemain utama dalam konflik Arab-Israel; aktif dalam diplomasi dengan bangsa Siprus, Balkan, Malaysia, Indonesia, dan Filipina.

Walau banyak kebijakan-kebijakan Amerika terhadap negara-negara Muslim berbentuk kerjasama dan bantuan, Amerika juga terlibat dalam dua perang aktif di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim dan berkonfrontasi dengan Iran secara agresif mengenai persoalan nuklir dan hubungan dengan Hizbullah dan Hamas.

Hubungan-hubungan ini – entah dalam kepentingan umum, imigrasi atau kompetisi -- akan memainkan peranan jangka panjang dalam hubungan Muslim-AS setelah pemilihan presiden ini.

Mengenai berbagai persoalan yang berkembang dalam pertarungan presidensial ini, tiga hal yang berpengaruh secara langsung pada hubungan Amerika dengan Muslim – secara domestik maupun internasional – adalah masa depan Iraq, independensi dari minyak Timur Tengan dan resolusi bagi problem Israel-Palestina.

Tak satu pun kandidat menyampaikan sebuah rencana komprehensif untuk mengakhiri perang di Irak. Keduanya bertentangan mengenai apa yang disebut sukses. Obama fokus pada kebijakan menarik pasukan (16 bulan setelah ia terpilih), sementara McCain menekankan "kejayaan" militer, dengan penarikan pasukan sebagai faktor sekunder. Nyatanya, pemerintahan Bush telah menerima penarikan sebagain besar pasukan untuk dua tahun ke depan, karena pemerintahan Irak kini merasa lebih aman dan menuntut penarikan segera pasukan AS sebelum terlambat.

Berlebihankah obama-mania yang sedang melanda dunia ini? Jangan sampai kita terutama penduduk muslim terlalu keGRan, hanya karena dalam diri the next president mengalir darah muslim. Toh obama juga masih terlalu kecil kala itu untuk mengingat bagaimana perilaku ayahnya, dan bahkan dia juga tidak terlalu akrab dengan ayahnya. Pengaruh Zionis Yahudi di Gedung putih yang sangat menggurita akan sulit dibendung obama, Presiden boleh berganti, kebijakan bisa tetap sama. Begitulah setidaknya pendapat banyak orang terhadap rencana pergantian presiden Amerika. Sebuah jajak pendapat tentang hubungan presiden Amerika dengan Israel baru-baru ini dimuat di Koran New York Times. Apalagi obama pernah berjanji teguh mendukung Israel dalam lawatannya ke Yerusalem sebelum bertemu para pemimpin Palestina di Tepi Barat. Juga yang tak kalah pentingnya Obama mendukung perang melawan Afghanistan

Namun setidaknya pernyataan menolak perang Irak jauh lebih baik jika dibandingkan komentar “sang mantan ratu kecantikan” Sarah Palin yang menyatakan perang Irak adalah “Order of God” atau Mc Cain yang terkadang menyakiti muslim dengan sebutan “Islam Radical”. Apapun itu, yang jelasnya terpilihnya Obama menimbulkan pertanyaan besar di belahan bumi bagian barat. Melihat obama yang dalam dirinya mengalir darah muslim afrika membuat Koran Barat membuat headline dengan judul “Mungkinkah suatu saat Belanda dipimpin oleh seseorang yang berdarah Indonesia?, mungkinkah suatu saat Perancis dipimpin oleh presiden berdarah Aljazair? Dan mungkinkah suatu saat Jerman dipimpin oleh kanselir berdarah Turki??. Bukan hal yang tidak mungkin mengingat pertumbuhan Islam yang luar biasa di Eropa, bahkan Amerika sendiri menjuluki eropa dengan sebutan Eurobia. Mudah-mudahan terpilihnya Obama bisa mengurangi tekanan diskriminasi yang diterima Umat muslim. Atau bahkan menjadi gerbang pembumian hadist rasulullah tentang penaklukan romawi jilid II. Setelah 700 tahun Romawi timur telah sukses dibebaskan oleh Thariq bin Ziyad, jika melihat kurun waktunya sudah saatnya pula romawi barat dibebaskan. Wallahu ta’ala a’lam

Currently have 0 komentar:

Leave a Reply

Posting Komentar