Latest News

Cinta tak lagi sebening embun

Sabtu, 02 Januari 2010 , Posted by Lentera at 07.23

“Cinta itu seputih salju, secerah mentari dan sebening embun. Yang suci dan steril dari debu polusi dan industri”. Ujar-ujar itu tertulis di buku hariannya Joni. Agaknya, kalimat tersebut ditulisnya ketika masih duduk si bangku SMA, dua dasawarsa silam, soalnya sekarang ini cinta bukan lagi seperti embun pagi, tapi butiran hujan asam yang jatuh ke got. Kotor, bau dan penuh bakteri. Sekarang ini peluk-cium bukan lagi ritual “keramat”, tapi bisa didapati di pojok-pojok kelas, di sudut telepon umum atau bahkan di Mal-Mal !!, persis seperti film-film Hollywood. Masalahnya, benarkah film-film itu terjadi atas dasar cinta bukan nafsu? Ataukah cinta memang dapat dijadikan alasan untuk menghalalkan kesucian?. Cinta memang butuh pengorbanan, tetapi apakah penyerahan tubuh dan mengorbankan kehormatan termasuk bagian dari itu? Jika benar, Baguslah. Itu artinya kita telah menjadi Amerika baru.

Di saat era globalisasi sekarang dimana budaya “dalam”bersentuhan dengan budaya luar. Kalau ada orang yang tidak mau menerima budaya luar, tidak mau dicium, tidak mau dijamah, itu namanya kolot.

Seorang wanita dengan berbusana dengan bagian atas terbuka sehingga “perhiasan depannya” mencuat keluar bukan sesuatu yang langka. Atau Seorang gadis yang dengan percaya diri bepergian dengan memakai Hot Pants pun berseliweran dijalan raya. Busana ketat dengan pusar menyembul bisa kita jumpai dengan mudah di pusat keramaian dan kampus-kampus. Mereka, para gadis itu, sudah pasti tentunya bukan orang kolot. Mereka menyelaraskan kakinya dengan derap irama ‘globalisasi’ dan juga telah menceburkan diri dengan menyembah berhala ‘modernisasi’. Dan itu artinya kemajuan. Ya, “Sebuah kemajuan di wilayah dada dan selangkangan tapi kemunduran di wilayah moral”. Begitu tulis Ari di catatan hariannya.

Rupanya Ari masih berdiri di lingkaran kekolotan. Baginya dunia itu adalah masa lalu. Lagipula pakaian kebaya yang dulunya dikenakan ibu-ibu dan anak gadisnya pun menonjolkan bagian tertentu bahkan ada yang sedikit transparan. Rupanya ia tidak peduli atau pura-pura tidak peduli.

“Kebaya memang menonjolkan bagian tubuh yang dari sananya sudah menonjol. Tapi ibu-ibu dan para gadisnya dulu memakai kebaya semata-mata karena tuntutan budaya, bukan dalam rangka memamerkan tubuhnya”. Tulis Ari lagi masih di catatan yang sama. Dasar anak kolot !! Ia belum sadar juga bahwa busana minimalis, ketat atau transparan merupakan tuntutan zaman. Siapa coba yang sudi disebut kuno, Katro, wong deso? Ini Zaman Modern bung, zaman globalisasi.

“ITU SEMUA BUKAN TUNTUTAN ZAMAN, TAPI TUNTUTAN PRODUSEN PAKAIAN !!” pekik Ari di catatannya penuh emosi. “Mereka Para produsen tersebut, menggembar-gemborkan bahwa busana minimalis itulah yang sedang nge-trend. Sekali lagi itu bukan tuntutan zaman” lanjutnya lagi. “Di zaman yang marak pelecehan seksual dan perkosaan, bukankah pakaian yang tertutup dan sopan yang harusnya jadi tuntutan zaman? Ataukah para gadis sekarang akan marah jika tubuhnya dilecehkan namun di balik semua itu, jauh di sudut hatinya, ia tersenyum senang telah menjadi pusat perhatian?”. Tulis Ari lagi

Memang sulit berbicara dengan orang kolot, walau itu hanya lewat catatannya. Lebih baik membaca buku harian Joni: “Cinta itu seputih salju, secerah mentari dan sebening embun. Yang suci dan steril dari debu polusi dan industri”. Sebuah kalimat yang sangat indah yang mengambarkan masa lalu yang bening. Kalimat yang ditulisnya dua puluh tahun silam, dan kini tampaknya sudah usang….

Disadur dari Majalah Etnix

Currently have 0 komentar:

Leave a Reply

Posting Komentar